20. Hati Nurani Merumuskan Hukum

HATI NURANI ADALAH kemampuan yang dimiliki manusia dari fenomena pengertiannya mengenai moral untuk menetapkan dan memutuskan apa yang baik dan buruk secara subyektif. Secara subyektif artinya masing-masing individu memiliki cara pandang mengenai kebaikan yang khas sesuai dengan pengertiannya terhadap kebenaran atau filosofi hidup yang diserapnya. Dikatakan bahwa hati nurani atau suara hati lebih bersifat subyektif, berarti hati nurani sangat dipengaruhi oleh “diri sendiri” (yaitu apa yang menurut “aku” baik atau buruk). Suara hati mencerminkan segala pengertian masing-masing individu sehingga jelas merupakan “sesuatu yang bersumber pada diri sendiri”. Hati nurani bisa dikatakan sebagai inti pengertian seseorang terhadap apa yang dianggapnya benar atau salah, apa yang bernilai tinggi dan yang tidak bernilai, kebenaran atau bukan kebenaran. Hati nurani berfungsi sebagai perumus nilai-nilai kehidupan, apa yang baik dan apa yang tidak baik. Itulah sebabnya hati nurani dapat menuduh, mencela dan menegur.

Dalam merumuskan suatu nilai kehidupan, seseorang mendapat input dari apa yang didengar dan dilihatnya melalui agama, budaya, pergaulan, pendidikan dan lain sebagainya. Dalam hal ini pengaruh lingkungan sangat kuat. Hati nuranilah yang membuat ukuran apakah suatu tindakan itu bernilai kebaikan atau kejahatan. Dengan demikian hati nurani juga merupakan institusi dalam diri manusia yang membuat peraturan, artinya yang menentukan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Dengan hal ini tentu saja hati nurani juga yang mendorong seseorang mengambil suatu keputusan. Dalam hal ini hati nurani merupakan kemudi kehidupan seseorang yang tidak terlihat. Kemudi untuk mengarahkan seluruh pertimbangan manusia itu. Dalam teks bahasa Ibrani, kata hati nurani adalah kilyah yang juga berarti tali kekang atau kendali atau pengontrol (Ing. rein). Allah memberi manusia kontrol atau kendali yang harus dikendalikan dan dikontrol oleh dirinya sendiri. Hal ini jelas menunjukkan bahwa manusia memiliki “kesadaran” yang memungkinkan manusia memiliki kebebasan untuk bertindak dan mengambil keputusan. Hal ini meletakkan manusia sebagai pribadi yang harus bertanggung jawab kepada Allah.1

Institusi (hati nurani) ini tidak dimiliki oleh hewan. Itulah sebabnya hewan tidak memiliki kesadaran mengenai moral dan tidak memiliki kehendak bebas juga. Jadi, kalau kemudi kehidupan ini sudah rusak yang sama dengan mata hatinya gelap, maka rusaklah seluruh kehidupan seseorang. Tuhan Yesus berkata: Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.2 Hati nurani adalah institusi dalam diri manusia yang paling berperan mengarahkan hidup individu. Dalam Mazmur 16:7 tertulis: Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Suara hati atau hati nurani terbangun atau terbentuk oleh apa yang didengarnya. Hati nurani menyimpan segala kebenaran yang diterimanya. Kalau seseorang mendengar Firman Tuhan, kebenaran Firman Tuhan itu akan mengajar terus. Firman yang murni akan memburu seseorang sehingga orang itu tersandera olehnya. Firman Tuhan yang murni akan menuntut diaplikasikan dalam kehidupan secara konkret. Dalam Roma 8:27 tertulis: Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. Hati nurani di sini menyiratkan isi pikiran dan perasaan roh. Oleh karenanya kualitas hidup seseorang sangat tergantung dari apa yang menggores dalam rohnya, yaitu suara hati nuraninya. Allah menyiapkan goresannya demi kebaikan, tetapi apakah seseorang meresponinya, tergantung masing-masing individu.

1)Roma 14:12; Wahyu 20:12; 2) Matius 6:22-23

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.