2. Tidak Memiliki Beban

KALAU JUJUR, dapat kita temukan banyak orang Kristen pergi ke gereja hanya sebagai kegiatan untuk melengkapi kesenangan hidup. Mereka memperoleh kesenangan dari kegiatan spiritual ini. Banyak orang menemukan kesenangan-kesenangan di dalam gereja sehingga mereka bisa menjadi pengunjung gereja yang setia. Kehadiran mereka di gereja dengan antusias bukan karena kebenaran yang mereka dengar atau karena damai sejahatera dan sukacita oleh Roh Kudus. Maka bisa dimengerti kalau mereka tidak bertumbuh sesuai dengan kehendak Bapa. Mereka merasa senang pergi ke gereja karena menemukan komunitas yang mengisi hidup mereka, apalagi kalau usia mereka sudah mulai senja. Di gereja mereka bertemu dengan orang-orang baik yang bisa diajak menikmati kesenangan bersama dan bisa dimanfaatkan untuk beberapa kepentingan pribadi. Tentu lebih baik bergaul dengan orang yang baik dari pada orang rusak di luar gereja. Tetapi harus diingat, selain terdapat orang baik, di gereja juga terdapat orang yang selalu mencari kesempatan untuk memanfaatkan orang lain.

Orang-orang seperti ini akan pergi ke gereja dengan jiwa yang “merasa tentram”, merasa bahwa dirinya memiliki jaminan masuk surga, dan kalau mati pun jenazahnya akan ada yang mengurus dan mendoakan. Kelompok orang Kristen kualitas ini tidak sedikit dalam berbagai denominasi. Mereka memiliki komunitas yang kadang kuat dan sangat berpengaruh di dalam gereja. Bila mereka memiliki kekuasaan yang kuat dalam organisasi, mereka bisa mengatur pendeta atau para rohaniwan dan mengarahkan pelayanan pada arah yang tidak sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Kalau kelompok ini berduit, maka kekuasaannya dalam gereja menjadi lebih sangat kuat. Tetapi mereka tidak bertumbuh dalam kedewasaan yang sesungguhnya.

Dapat dijumpai di banyak gereja, memang orang-orang ini bukan orang jahat di mata manusia, tetapi mereka tidak mengerti kebenaran sehingga tidak pernah memiliki compassion (beban) terhadap jiwa-jiwa yang terhilang. Mereka bisa menduduki posisi-posisi penting dalam gereja. Bahkan tidak sedikit yang mengatur seluruh arah perjalanan sebuah gereja. Ironi, tetapi kenyataan yang terjadi justru mereka adalah orang-orang yang mengganggu pelayanan pekerjaan Tuhan yang murni. Apa yang mereka lakukan sebenarnya kurang berarti, tetapi akibat dari tindakan mereka mengganggu pekerjaan Tuhan sampai tingkat merusak pekerjaan Tuhan. Ciri dari orang-orang Kristen seperti ini adalah mereka masih kompromi terhadap praktik-praktik hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan tidak berani all out bagi Tuhan. Gereja menjadi seperti perusahaan yang kelangsungan hidupnya diperjuangkan, tentu dengan visi agar semakin besar jumlah jemaatnya dan semakin besar gedung serta banyak fasilitasnya. Kegiatan sosial dan berbagai kegiatan misi pun mereka lakukan, tetapi mereka sesungguhnya belum tahu tujuan keselamatan yang murni itu. Akhirnya gereja menjadi lembaga organisasi yang mati. Padahal gereja mestinya adalah sebuah organisme yang hidup.

Pada dasarnya kegiatan gereja dengan orang-orang seperti itu, bukanlah usaha untuk bertumbuh dalam kedewasaan rohani yang baik dan semangat pelayanan yang murni untuk menyelamatkan jiwa orang lain. Bagaimana bisa menyelamatkan jiwa orang lain, jiwanya sendiri saja belum tentu selamat? Itulah sebabnya Tuhan Yesus memerintahkan agar kita mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri.1 Kalau orang belum dapat mengasihi diri sendiri dengan benar bagaimana ia dapat mengasihi sesamanya? Orang yang belum dapat mengasihi diri sendiri secara benar berarti ia tidak mengupayakan menjadi manusia seperti yang dikehendaki Tuhan. Sehingga mereka juga tidak menghargai Firman Tuhan dan pemberitanya secara proporsional. Inilah yang membuat mereka sulit berubah ke arah Kristus; apalagi berkepribadian seperti Kristus. Jadi tidak heran kalau mereka juga tidak memancarkan kehidupan rohani yang dewasa dan memikat.
1) Matius 22:37-40

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.