2 September 2014: Tuhan Pusat Kehidupan

Ketika seseorang menjadi umat pilihan, maka ia harus terus belajar menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan. Pusat di sini sama artinya menjadikan Tuhan sebagai tujuan, arti atau makna dan nilai kehidupan ini. Manusia yang materialisme menempatkan harta sebagai pusat kehidupan. Seseorang yang gila hormat menempatkan hormat sebagai pusat. Seseorang yang terobsesi menjadi orang terkenal menempatkan popularitas sebagai pusat. Seseorang yang mendewakan kecantikan menjadikan kecantikan sebagai pusat kehidupan. Seseorang yang mendewakan gelar menempatkan pendidikan sebagai pusat. Orang beragama menjadikan hukum dan ritual sebagai pusat. Hal terakhir inilah yang akan menjadi pusat renungan kita. Menempatlkan Tuhan sebagai pusat kehidupan sama artinya menjadikan-Nya sebagai tujuan, arti atau makna dan nilai kehidupan ini. Tanpa Tuhan berarti hidup tidak mempunyai tujuan, tidak berarti dan tidak bermakna dan tidak bernilai sama sekali. Tidak ada sesuatu apapun yang menjadi pusat kehidupan ini selain Tuhan. Inilah sebenarnya maksud dan tujuan Tuhan menciptakan manusia.

Menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan artinya bahwa hidup ini hanya untuk menyenangkan atau memuaskan hati Tuhan dengan melakukan kehendak-Nya semata-mata. Orang yang menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupannya akan berkata seperti Tuhan Yesus berkata: Makanan-Ku melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Inilah yang dimaksud dengan inti dari hidup bagi Tuhan. Banyak orang salah mengerti, mereka berpikir kalau sudah menjadi pendeta atau hamba Tuhan di gereja berarti sudah hidup bagi Tuhan. Sebenarnya inti dari hidup bagi Tuhan adalah berusaha mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak-Nya itu. Hidup seperti ini adalah kehidupan orang yang kehilangan nyawanya (Mat. 10:39).

Nyawa di sini dalam teks aslinya (Mat. 10:39) adalah psuke artinya jiwa. Dalam jiwa ada pikiran, perasaan dan kehendak. Kalau seseorang menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan, maka ia bersedia mengisi jiwanya dengan kebenaran Firman Tuhan sehingga bisa menuruti kehendak Tuhan saja. Orang-orang seperti ini tidak memiliki keinginan yang besar yang menguasai pikiran dan hatinya kecuali melakukan kehendak Bapa. Segala sesuatu yang diingini dan dilakukan hanya untuk kepuasan hati Tuhan semata-mata.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.