2. POTENSI MANUSIA

MENEMUKAN KEMULIAAN Allah yang hilang adalah sesuatu yang sangat istimewa. Orang yang menemukan kemuliaan Allah yang hilang berkeadaan seperti Tuhan sendiri. Dari kehidupannya akan memancarkan keagungan yang luar biasa. Tetapi sayang sekali sangat sedikit orang yang menemukannya. Kemuliaan Allah yang hilang hanya dapat diperoleh melalui anugerah dalam Tuhan Yesus Kristus. Menyambut anugerah tersebut, manusia harus menggunakan kehendak bebasnya dengan berusaha sungguh-sungguh menemukan kemuliaan tersebut. Manusia adalah mahkluk ciptaan yang lebih unggul dari segala ciptaan Allah yang lain. Manusia diberi Tuhan kepercayaan untuk memiliki kedaulatan; tentu kedaulatan yang harus ditundukkan kepada Allah sebagai Bapa dan Majikan Agungnya. Untuk ini Tuhan memberikan kepada manusia keberadaan yang luar biasa, yaitu manusia diciptakan menurut rupa dan gambar-Nya (Lat. Imago Dei). Manusia memiliki komponen-komponen yang juga terdapat dalam diri Allah. Komponen-komponen itu adalah pikiran, perasaan dan kehendak. Dengan keberadaan ini manusia berkemampuan untuk mempertimbangkan sesuatu, mengambil pilihan dan keputusan-keputusan. Inilah kedaulatan manusia yang berada di bawah kedaulatan Allah.

Manusia memiliki potensi di dalam moralnya yang bisa nyaris tak terbatas, yaitu kemampuan untuk mencapai kesucian seperti Allah; Bapanya. Dimana manusia dalam mempertimbangkan sesuatu, mengambil pilihan dan keputusan-keputusan mampu tidak melanggar asas-asas kesucian Allah, artinya bisa selalu seiring dengan kehendak Allah. Potensi ini memampukan manusia untuk menyelenggarakan tata laksana hidup sesuai dengan pola Tuhan, Penciptanya. Inilah kualitas yang dikehendaki agar dimiliki manusia. Dengan demikian manusia bisa hidup dalam pemerintahan Allah.

Kejatuhan manusia ke dalam dosa, membuat potensi manusia dalam moralnya pun menjadi terbatas. Manusia tidak mampu lagi mencapai kesucian Allah. Inilah yang dimaksud oleh Paulus dalam Roma 3:23, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Karena kejatuhannya, manusia tidak mampu melakukan kebaikan yang berstandar moral Allah (Lat. non posse non peccare). Manusia telah berdosa, artinya meleset (Yun. hamartia). Potensi manusia dalam moralnya yang tadinya tidak terbatas -yaitu bisa mengimbangi moral Tuhan- tetapi setelah jatuh dalam dosa menjadi terbatas. Manusia mampu memainkan moralnya hanya sampai pada melakukan hukum atau peraturan. Manusia tidak mampu mencapai kebaikan Allah, tetapi hanya kebaikan manusia. Padahal pada mulanya manusia mampu hidup dalam tata laksana kehidupan sesuai dengan Allah, tetapi setelah jatuh dalam dosa manusia tidak mampu menyelenggarakan hidup seperti itu.

Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus hendak mengembalikan manusia kembali kepada rancangan-Nya semula, yaitu menciptakan manusia dengan potensi yang tidak terbatas dalam moralnya, sehingga dapat kembali mencapai kesucian Tuhan dan menyelenggarakan tata laksana kehidupan sesuai dengan Allah. Hal inilah yang dimaksud oleh Firman Tuhan bahwa manusia dapat mengambil bagian dalam kodrat Ilahi1 atau sama dengan maksud penulis kitab Ibrani yaitu beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.2 Itulah sebabnya Firman Tuhan jelas sekali menyatakan agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.3 Memiliki pikiran dan perasaan Kristus artinya bahwa orang percaya mampu bertindak, mengambil keputusan dalam segala pertimbangannya seperti Tuhan Yesus, yang dalam segala tindakan-Nya sesuai dengan kehendak Bapa. Inilah potensi tak terbatas dalam moral Allah. Kekristenan harus difokuskan pada hal ini, sebab inilah sebenarnya inti atau esensi Kekristenan itu. Jika jemaat tidak sampai pada level ini berarti mereka belum sampai tujuan imannya yaitu keselamatan jiwa, yaitu usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula. Kegiatan gereja haruslah difokuskan pada usaha untuk menyelenggarakan tata laksana kehidupan yang dikehendaki oleh Allah. Untuk ini kebenaran Firman Tuhan harus diajarkan dan contoh teladan kehidupan ditampilkan.

1) 2Petrus 1:3-4 ; 2) Ibrani 12:10 ; 3)Filipi 2:5-7

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.