2 Oktober 2014: Memerintah Diri Sendiri

Sebagai umat tebusan yang seharusnya kehilangan segala hak dan bisa menempatkan diri sebagai makhluk ciptaan, seharusnya manusia tunduk pada kedaulatan Tuhan. Pada umumnya setiap manusia, termasuk orang percaya-masih memiliki godaan yang kuat untuk membangun takhtanya sendiri. Hal ini sama dengan usaha Lusifer yang hendak menyamai Tuhan. Kata menyamai dalam Yesaya 14:14 yang dilakukan oleh Lusifer adalah damah דָּמהָ) ) yang artinya menjadi sejajar. Lusifer hendak sejajar dengan Tuhan dalam arti memiliki takhta sendiri. Spirit seperti ini yang diusahakan oleh iblis dapat menghinggapi kehidupan manusia. Faktanya banyak orang telah terjerat oleh bujukan iblis ini. Kesalahan Lusifer adalah hendak mendirikan takhtanya sendiri. Orang yang memiliki keinginan dari diri sendiri sama dengan memiliki sikap yang sama dengan Lusifer yaitu memiliki takhta sendiri. Dalam hal ini takhta menunjukkan kekuasaan. Lusifer membangun takhtanya sendiri artinya ia berkuasa atas keinginannya sendiri dan menolak kehendak siapa pun bahkan kehendak Tuhan sendiri. Demikianlah kalau seseorang mendirikan takhtanya sendiri artinya ia berkuasa atas keinginan sendiri, itu berarti ia merasa berhak memerintah atas dirinya sendiri. Tetapi kalau seseorang hanya memandang takhta Tuhan, maka ia menundukkan diri pada Tuhan yang duduk di takhta-Nya, berarti ia hanya mau melakukan keinginan Tuhan. Orang yang sungguh-sungguh mau melakukan kehendak atau keinginan Tuhan, bersedia mematikan segala keinginannya sendiri. Ia bersedia tidak membangun keinginan sendiri, semua keinginan yang ada padanya dibangun dari melihat atau mendengar apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Inilah bentuk penyangkalan diri yang benar. Turun dari takhta atau melepaskan pemerintahan atas diri sendiri bukanlah hal yang mudah. Inilah sebenarnya kesulitan menjadi makhluk ciptaan yang sudah jatuh, sebab manusia yang sudah jatuh dalam dosa adalah manusia yang sudah memiliki irama untuk memerintah diri sendiri atau dengan kata lain memiliki keinginan-keinginan yang dibangun dari diri sendiri. Kalau jujur, selama ini segala sesuatu yang kita lakukan berdasarkan apa yang orang lain telah lakukan dan menjadi irama hidup manusia pada umumnya. Inilah cara hidup yang kita warisi dari nenek moyang (1Ptr. 1:18). Tetapi setelah kita mengenal Tuhan Yesus, maka kita harus menundukkan diri kepada Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.