2 November 2014: Bukan Pada Seremonial Saja

Banyak orang merasa telah menemukan Tuhan karena telah menjadi orang beragama dengan mengikuti upacara agamanya (seremonial) atau liturgi kebaktian gereja untuk orang Kristen. Inilah yang dilakukan hampir oleh semua orang beragama. Bagi mereka ruangan utama atau bahkan dianggap sebagai ruangan satu-satunya untuk berjumpa ilah atau dewa yang disembah adalah di dalam seremonial agamanya. Pemahaman ini telah merusak cara berpikir orang Kristen. Itulah sebabnya liturgi gereja dibuat sekhusyuk-khusyuknya atau sekhidmat mungkin. Pakaian khusus yang dikenakan pemimpin agama, nyanyian-nyanyiannya, bahkan bagi gereja tertentu ada yang membakar semacam pedupaan dan lain sebagainya. Semua itu menciptakan suasana yang istimewa. Suasana liturgi gereja yang dikemas sedemikian rupa tersebut menciptakan suasana tertentu yang memberikan pengalaman spiritual yang khusus. Pengalaman tersebut dianggap sebagai pertemuan dengan Tuhan. Tanpa mereka sadari mereka mengesankan bahwa Tuhan bisa dikurung dalam kurungan yang disebut liturgi atau seremonial. Kalau hendak menjumpai Tuhan diharuskan datang ke acara kebaktian. Penjelasan ini bukan berarti menentang orang yang datang ke gereja, tetapi harus disadari bahwa pertemuan dengan Tuhan bukan hanya melalui liturgi kebaktian atau seremonial.  Banyak orang Kristen yang merasa sudah puas dengan datang ke gereja, karena sudah merasa menemukan Tuhan. Bagi mereka Tuhan tidak perlu dicari lagi di tempat lain. Hanya di gerejalah secara khusus umat dapat menjumpai dan menemukan Tuhan. Liturgi gereja menjadi seperti ritual untuk mengundang atau menghadirkan Tuhan di tengah-tengah umat-Nya. Tanpa adanya liturgi kebaktian, Tuhan tidak atau kurang bisa hadir. Dalam hal ini Tuhan yang Mahahadir dianggap seperti “jalangkung” yang kehadiran-Nya harus diundang dengan ritual tertentu. Jalangkung adalah permainan yang berasal dari Tiongkok yang aslinya adalah Cay Lan Gong. Ini adalah permainan untuk memanggil roh halus memasuki suatu benda atau boneka dari berbagai media. Allah yang benar tidaklah demikian. Allah adalah Allah yang Mahahadir. Kehadiran-Nya dimana-mana. Tidak ada sejengkalpun wilayah yang lolos dari kehadiran Tuhan (Mzm. 139:2-8). Ini berarti pertemuan dengan Tuhan harus diadakan setiap hari pada saat-saat khusus. Penghayatan akan kehadiran Tuhan harus dilakukan setiap saat di manapun kita berada, bukan hanya di ruangan gereja dalam liturgi.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.