2. Mengikut Tuhan Yesus Berarti Berani Mati

PERNAHKAH KITA BERPIKIR bahwa orang-orang yang mau mengikut Tuhan Yesus pada zaman Kekristenan mula-mula adalah orang-orang yang mempertaruhkan nyawa? Berani percaya kepada Tuhan Yesus dan mengaku di muka umum berarti bersedia mati. Mati ekonominya, mati pergaulannya dan mati nyawanya. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dengan kehilangan nyawa. Pada waktu itu kalau orang berani mengikut Tuhan Yesus, ia harus menghadapi aniaya dari orang-orang yang memusuhi Injil, sementara mereka tidak boleh melawan. Bila ditampar pipi sebelah kanan harus memberikan pipi sebelah kiri, kalau dianiaya di sebuah kota harus lari ke kota lain, bahkan terhadap musuh harus mendoakan dan mengasihi. Sungguh, ini suatu posisi yang sangat sulit. Kalau orang percaya boleh mengangkat pedang, maka bisa sedikit membela diri, tetapi orang percaya seperti domba-doma sembelihan yang tidak berdaya digiring ke pembantaian.1

Jarang ditemukan agama yang cara menyebarkannya dengan cara yang sangat damai seperti Injil diberitakan. Tanpa pedang, tanpa perang dan tekanan atau intimidasi. Kekristenan tidak membuka peluang atau celah sekecil apa pun bagi orang percaya untuk memberitakan Injil dengan kekerasan. Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi saksi, artinya cukup dengan perbuatan yang sempurna seperti Tuhan Yesus. Sebab memang penyebaran Injil bukan sekadar penyebaran agama, tetapi mengajarkan kebenaran agar mereka yang percaya memiliki gaya hidup seperti Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, baik Tuhan Yesus maupun orang percaya, dalam segala halnya bisa dicontoh.

Realitas di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa mengikut Tuhan Yesus harus meninggalkan segala sesuatu. Hal ini juga dinyatakan Tuhan dalam berbagai kesempatan dan dalam berbagai ungkapan. Ungkapan-ungkapan tersebut misalnya kehilangan nyawa, menjual segala yang dimiliki dan membagikan kepada orang miskin kemudian mengikut Tuhan Yesus, melepaskan segala sesuatu, membenci  nyawa sendiri, menyangkal diri dan dan lain sebagainya. Semua ini merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi. Inilah sesungguhnya harga percaya yang benar yang harus dipenuhi oleh orang yang mau mengikut Tuhan Yesus. Harga ini tidak pernah berkurang dan berubah ditelan waktu.

Kalau jujur, kita menyaksikan Kekristenan hari ini banyak dijalani tanpa syarat tersebut. Bisakah Kekristenan yang sejati dapat diwujudkan dengan cara dan keadaan demikian? Tentu saja tidak. Dari dulu sampai sekarang Kekristenan harganya tidak berubah. Orang yang berani percaya berarti berani mati. Sangatlah tidak mungkin kalau orang percaya di zaman tertentu membayar harga Kekristenannya berbeda dengan orang Kristen lain di zaman yang berbeda. Kapan pun dan dimana pun harga Kekristenan tetap sama yaitu menyerahkan nyawa. Menyerahkan nyawa intinya berarti rela tidak memiliki kesenangan hidup di bumi ini.

Dunia hari ini mengkondisi Kekristenan dapat dijalani dengan diam-diam. Biasanya orang Kristen merasa sudah menjadi orang percaya yang baik dan membela diri dengan pernyataan bahwa yang penting percaya di hati. Padahal, percaya berarti menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayainya. Ini berarti percaya adalah sebuah tindakan, yaitu melakukan yang diinginkan oleh Dia yang dipercayai; dalam hal ini Tuhan Yesus. Masalahnya adalah apakah kita mengerti yang dikehendaki Tuhan untuk kita lakukan? Jika kita bertanya kepada Tuhan, pasti jawaban-Nya adalah: “Ikutilah jejak-Ku”. Mengikut jejak Tuhan Yesus berarti mengikuti cara hidup-Nya. Cara hidup-Nya berarti seluruh prinsip-prinsip dan tujuan hidup-Nya. Untuk bisa menyelenggarakan kehidupan seperti cara hidup-Nya, seseorang harus rela kehilangan nyawa atau kesenangan. Hal ini sama dengan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, Ia meninggalkan segala kemuliaan dan kesenangan, mengosongkan diri dan menderita.

1) Roma 8:36

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.