2. Mencari Yang Disediakan Tuhan

KITA HARUS MEMBUKA DIRI terhadap Tuhan dengan menyediakan waktu untuk berdoa dan mendengar Firman setiap hari. Setiap kali bertemu dengan Tuhan pasti ada sesuatu yang kita terima dari Dia. Pertemuan dengan Tuhan harus dipahami sebagai kesempatan berharga yang tiada taranya. Kita harus berhenti menunggu lawatan Tuhan tetapi menghampiri lawatan Tuhan. Kita harus berhenti berharap jamahan Tuhan tetapi menghampiri jamahan Tuhan. Ketika seorang Kristen dipandang sudah dewasa, dia harus mencari dan menghampiri Tuhan, bukan lagi Tuhan yang mencari dan menghampiri dia. Tuhan selalu menyediakan diri dan menyediakan berkat kekal-Nya setiap kali pertemuan dengan anak-anak-Nya yang menghampiri Dia.

Selanjutnya kita harus juga memperhatikan setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Melalui segala peristiwa hidup, baik yang kita dengar, kita lihat dan alami, Tuhan berbicara.1 Fokus utama kita adalah bagaimana berubah semakin menjadi seperti Kristus. Tuhan yang mengetahui kekurangan-kekurangan seseorang, Tuhan tahu bagaimana menggarap seseorang. Melalui segala hal Tuhan secara detail menggarap orang percaya, dengan demikian tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup ini secara kebetulan. Semua bisa dipakai Tuhan sebagai alat untuk membentuk karakter seseorang sebagai anak-anak Allah.

Sayang sekali banyak berkat kekal yang berlalu sia-sia tanpa membawa dampak positif dalam hidup banyak orang Kristen, karena mereka lebih mementingkan hal-hal lain dalam kehidupan ini. Seharusnya setiap hari kita memerhatikan hal-hal yang lebih berharga dari apa pun yang Tuhan sediakan bagi bekal kekekalan kita. Oleh sebab itu begitu kita membuka mata pada pagi hari, kita sudah mengambil pilihan bahwa kita memilih Kerajaan Surga. Ini berarti kita mau memerhatikan berkat kekal yang Tuhan sediakan bagi kita hari itu, yaitu rhema-Nya dan pembentukan-Nya melalui setiap pertiswa yang terjadi pada hari itu. Pilihan ini harus di up date setiap hari. Orang yang tidak meng-up date keputusannya dan meneguhkannya pasti terbawa oleh arus dunia ini. Justru pada saat pikiran kosong belum diisi hasrat apa pun, harus terlebih dahulu diisi dengan hasrat untuk menjadi anak-anak Allah yang sah, masuk Rumah Bapa. Hal ini harus dipahami sebagai peperangan di dalam pikiran yang harus dihadapi dengan segala kewaspadaan dan serius.

Kehidupan kita harus diarahkan oleh diri kita sendiri, bukan olah siapa pun. Tuhan menuntun tetapi Tuhan tidak memaksa. Kita yang harus memaksa diri kita sendiri ke arah yang Tuhan kehendaki. Tidak boleh ada hasrat yang lebih besar dari hasrat untuk menjadi seseorang yang berkenan di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu kita harus melepaskan diri dari segala milik, artinya kehilangan segala keinginan selain bertumbuh dewasa seperti Tuhan Yesus yang menyukakan hati Bapa. Sering kita berharap Tuhan mendorong kita dengan kekuatan tertentu ke arah yang benar. Hal ini nampak pada waktu kita berdoa agar Tuhan mengubah hidup kita, membakar kita dengan Roh-Nya, membangkitkan dan memulihkan kita dan lain sebagainya. Pada waktu kita belum dewasa atau Tuhan baru mulai suatu kegerakan, berdoa seperti itu diresponi Tuhan dengan cepat. Tetapi selanjutnya, di level tertentu untuk orang-orang Kristen yang sudah dewasa, berdoa dengan isi tersebut tidak berdaya guna sama sekali. Sebab orang Kristen yang dewasa tidak menunggu lawatan Tuhan tetapi meraih yang disediakan Tuhan sebagai fasilitas pertumbuhan rohani atau penyempurnaannya. Kita harus mencari yang Tuhan sediakan bagi pendewasaan rohani kita. Masa-masa seperti ini kadang kita seperti ditinggalkan Tuhan. Kalau orang percaya tidak tahu, maka masih terus menunggu dan berharap lawatan Tuhan, padahal Tuhan sudah menyediakan segala sesuatu yang berdaya guna mendewasakan rohaninya.

1) Roma 8:28

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.