2. DIBUKTIKAN OLEH NUBUAT

Pertanyaan yang sering kita dengar selama ini berkenaan dengan kehidupan Yudas adalah apakah Yudas memang ditentukan untuk binasa? Selama ini, ada pemikiran bahwa Yudas memang diciptakan Tuhan untuk menjadi “alat” dalam tangan Tuhan guna mewujudkan keselamatan bagi semua umat manusia. Seakan-akan, Tuhan membutuhkan Yudas untuk menggenapi rencana-Nya. Oleh sebab itu, Yudas dikorbankan dalam rangka menggenapi rencana Tuhan tersebut. Dalam hal tersebut, seolah-olah Yudas juga berjasa bagi keselamatan manusia. Sehingga, Yudas diakui sebagai manusia terpilih untuk melengkapi karya keselamatan Allah atas manusia. Tidak disangka, ada orang yang mengatakan bahwa orang percaya patut berterima kasih kepada Yudas atas “karyanya”. Bahkan, pernah ada pendeta dan orang-orang Kristen yang berpendapat bahwa Yudas tidak tercampak di neraka tetapi di surga. Sebab, ia dipakai oleh Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Pemikiran-pemikiran seperti ini adalah salah dan menyesatkan. Pemikiran yang lain mengatakan bahwa Yudas memang dikorbankan untuk binasa demi keselamatan manusia. Kalau Yesus disebut sebagai Juruselamat, maka Yudas disebut sebagai pemeran pembantu utama untuk proyek keselamatan tersebut.

Memang, ada beberapa ayat dalam Perjanjian Baru yang mengesankan bahwa Yudas terpilih untuk menjadi “pengkhianat”. Dalam Yohanes 6:70-71 tertulis: Jawab Yesus kepada mereka: “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis.” Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu. Pernyataan Tuhan ini dipahami oleh sebagian besar teolog dan orang-orang Kristen sebagai “penetapan Tuhan”, bahwa Yudas dijadikan “iblis” atau anak Iblis atau yang dikuasai oleh Iblis.

Harus diperhatikan dengan teliti bahwa dalam pernyataan Yesus mengenai adanya Iblis di antara mereka, Yesus tidak menyebut dan menunjuk siapa pengkhianatnya. Yesus tidak menunjuk Yudas akan menjadi pengkhianat. Ketika Tuhan Yesus mengatakan hal tersebut, Yudas belum terbukti sebagai pengkhianat. Kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa salah satu dari murid Tuhan Yesus ada yang akan menjadi “iblis”, hal itu memang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci bahwa salah satu dari mereka yang makan sehidangan dengan Tuhan akan berkhianat terhadap-Nya (Mzm. 41:10). Yohanes 6:70-71 ditulis setelah semua peristiwa mengenai pengkhianatan Yudas berlangsung, sehingga dalam penulisan ditambahkan: Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu. Perlu dimengerti bahwa Injil ditulis belasan bahkan puluhan tahun setelah Yesus naik ke surga.

Alkitab harus menyatakan nubuat mengenai Mesias untuk menunjukkan bukti, bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah. Hal ini sangat dibutuhkan oleh manusia pada zaman itu yang memandang Yesus tidak lebih dari anak tukang kayu, yang lahir dan hidup di tengah-tengah mereka. Selain itu, dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia akan muncul orang-orang yang mengaku utusan Allah. Seorang utusan harus diverifikasi oleh nubuat. Nubuat-nubuat tersebut akan memverifikasi siapa sebenarnya utusan yang benar itu.

Dalam banyak kisah kehidupan yang dijalani oleh Tuhan Yesus, semua sudah dinubuatkan dengan tepat, dari tempat kelahiran, karya-karya-Nya dalam mengadakan mukjizat, peristiwa masuk kota Yerusalem mengendarai keledai, penyaliban-Nya di bukit Golgota, kebangkitan-Nya, dan juga mengenai pengkhianatan salah satu dari murid-murid-Nya, yaitu salah satu dari mereka yang ada di sekitar Yesus, yang akan mengangkat tumitnya melawan Yesus. Semua nubuat tersebut akan membuktikan atau memverifikasi bahwa Yesus benar-benar adalah Mesias.

Dalam Kisah Para Rasul 1:16, Petrus juga menyatakan adanya pengkhianatan salah satu orang yang dekat dengan Tuhan Yesus sesuai dengan yang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci. Petrus menyebut nama Yudas sebab memang kejadian pengkhianatan telah terjadi dan terbukti bahwa Yudaslah pelakunya. Hal ini tidak boleh menjadi dasar atau landasan bahwa Yudaslah yang ditentukan untuk berkhianat kepada Yesus yang sama dengan ditentukan untuk binasa. Salah satu dari murid Yesus pasti berkhianat, tetapi bukan berarti harus Yudas. Sangatlah mungkin Petrus atau murid-murid yang lain dapat menjadi pelaku pengkhianatannya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.