2 Desember 2014: Halal Tetapi Tidak Berguna

Sesungguhnya keterikatan adalah suatu perhambaan artinya kepada siapa hati seseorang terikat, kepadanya ia mengabdikan dirinya. Dalam 1Korintus 6:12, Paulus menyatakan: Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun. Paulus tidak mau terikat dengan apa pun tetapi hanya mengikatkan diri dengan Tuhan. Sesuatu yang dipandang tidak salah atau tidak melanggar norma atau halal bukan berarti boleh dilakukan. Yang halal bisa menjadi ikatan yang akhirnya membelenggu hidup. Kata halal dalam teks aslinya adalah exesti (ἔξεστι) yang artinya lawfull; tidak melanggar hukum atau bisa berarti sah. Sedangkan kata berguna dalam teks aslinya adalah sumphero (Yun. συμφέρω) yang juga memiliki pengertian “membawa bersama” atau “mendukung”. Maksud pernyataan Paulus bahwa segala sesuatu halal baginya tetapi tidak semua berguna, artinya ia bisa berbuat segala sesuatu tetapi tidak semua yang boleh dilakukan itu berguna bagi dirinya. Berguna di sini berkenaan dengan kesucian hidup; mengacu pada ayat sebelumnya (1Kor. 6:11). Jadi, kalau Paulus menyatakan tidak semua berguna maksudnya adalah tidak berguna atau tidak mendukung untuk membangun kesucian hidup. Melakukan sesuatu yang tidak berguna bisa mengggangu pertumbuhan kesucian hidup dan bisa menjadi belenggu. Semua yang tidak berguna membangun kesucian hidup harus dipandang sebagai ikatan yang  harus dilepaskan. Paulus juga menyatakan bahwa segala sesuatu halal baginya, tetapi ia tidak membiarkan dirinya diperhamba oleh suatu apa pun. Ini berarti sesuatu yang tidak salah dilakukan bukan berarti boleh dilakukan. Kalau hal itu menjadi ikatan atau memperhamba maka harus dijauhi. Kalimat “diperhamba oleh sesuatu” dalam teks aslinya adalah exousiasthesomai hupo tinos (Yun. ἐξουσιασθήσομαι ὑπό τινος) artinya di bawah kekuasaan sesuatu. Kata exousiasthesomai dari kata exousia artinya kuasa atau hak. Dalam hal ini orang percaya tidak boleh ada dalam kekuasaan sesuatu atau ada sesuatu yang berhak menguasai atau memiliki kehidupannya. Seperti misalnya memiliki rumah bukan sesuatu yang salah, tetapi kalau memiliki rumah menjadi hukum, seakan-akan rumah harus dimiliki maka itu berarti rumah menjadi tuan yang mengikat kehidupan seseorang. Juga hal lain seperti jodoh. Tidak salah kalau seseorang memiliki jodoh tetapi kalau dijadikan suatu keharusan maka jodoh menjadi ikatan. Dari penjelasan di atas ini dapatlah dimengerti bahwa untuk tidak terikat dengan sesuatu atau seseorang, orang percaya harus berjuang, sebab selama ini sudah menjadi irama hidup bahwa yang halal boleh dilakukan. Banyak orang menjalani hidup tanpa memiliki kewaspadaan terhadap gerak manuver kuasa kegelapan yang berusaha untuk membelenggu kehidupan mereka. Kuasa kegelapan berusaha agar orang Kristen tidak terbelenggu oleh Tuhan, tetapi terbelenggu oleh yang lain. “Yang lain” ini bisa apa pun yang secara moral umum tidak salah untuk diingini atau dilakukan, tetapi ketika Tuhan tidak menjadi satu-satunya yang membahagiakan hidup maka pasti ada berhala atau ikatan dalam kehidupan seseorang. Memang tidak secara langsung seseorang berhubungan dengan Iblis, tetapi ketika seseorang tidak menjadikan Tuhan sebagai sumber kebahagiaannya satu-satunya, pasti ia terikat dengan sesuatu yang kepadanya ia memperhambakan diri. Di sini nyata betapa berat menjadi anak Tuhan yang harus mengikatkan diri dengan Tuhan. Namun, bagaimana pun berat dan sulitnya, Tuhan melalui Roh-Nya akan menuntun orang percaya sehingga dapat hidup tidak bercacat dan tidak bercela.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.