19. Tidak Harus Disertai Tanda

BILA MEMBAHAS BAPTISAN Roh Kudus, tidak bisa tidak kita harus membahas mengenai karunia-karunia Roh. Sebab bila kita membicarakan baptisan Roh Kudus selalu dikaitkan dengan karunia-karunia Roh. Dalam pembahasan ini kita akan melihat bagaimana relasi di antara keduanya. Tidak sedikit gereja, teolog dan pembicara Kristen yang memastikan secara mutlak bahwa kalau seseorang dibaptis Roh Kudus, maka tandanya adalah memiliki karunia-karunia Roh Kudus tertentu. Seakan-akan karunia-karunia Roh tertentu tersebut menandai bahwa seseorang telah dibaptis Roh Kudus. Sebaliknya, jika tidak ada karunia-karunia Roh tertentu, seseorang dianggap belum dibaptis oleh Roh Kudus atau tidak mengalami baptisan Roh Kudus. Inilah yang membangkitkan tuduhan bahwa gereja-gereja aliran Protestan yang tidak mempraktikkan bahasa Roh dianggap tidak memiliki urapan Roh Kudus. Betapa dangkal dan miskin pemikiran ini. Sementara mereka yang merasa memiliki urapan Roh Kudus, tidak menunjukkan buah-buah Roh yang baik. Dalam gereja seperti ini, sering terjadi pertikaian bahkan perpecahan serta berbagai pelanggaran moral.

Dalam Alkitab tidak dikatakan dengan jelas bahwa ada karunia-karunia Roh tertentu yang menandai secara mutlak, bahwa seseorang telah dibaptis Roh Kudus. Dalam Kisah Rasul terdapat peristiwa yang berkenaan dengan baptisan Roh Kudus –yang disertai dengan beberapa tanda- maka hal itu harus dilihat secara cerdas dan teliti. Hendaknya kita tidak secara sembarangan men”generalisir” suatu peristiwa. Artinya suatu peristiwa (dengan keadaan khusus) yang terjadi dijadikan standar atau landasan secara umum bagi semua orang atau kondisi. Seperti misalnya dalam Kisah Para Rasul terdapat peristiwa baptisan Roh Kudus yang ditandai dengan berbahasa Roh, kemudian dirumuskan bahwa baptisan Roh Kudus harus ditandai dengan berbahasa Roh. Mengapa tidak sekalian dengan berbahasa asing, dengan tiupan angin keras dan lidah-lidah api? Mengapa hanya berbahasa Roh? Ini adalah cara berpikir yang tidak konsisten. Biasanya cara berpikir demikian adalah cara berpikir yang hanya melihat satu aspek, tetapi tidak melihat aspek lainnya, sehingga tidak menemukan esensinya.

Terkait dengan hal di tersebut maka ada pertimbangan-pertimbangan penting yang harus diperhatikan. Pertama, Baptisan Roh Kudus bagi orang percaya pada waktu gereja mula-mula memang harus disertai dengan tanda. Hal itu dimaksudkan untuk menegaskan atau memberi sebuah verifikasi bahwa janji Bapa membaptis umat-Nya dengan Roh Kudus sungguh-sungguh digenapi atau dipenuhi. Tanpa adanya karunia-karunia Roh sebagai tanda-tanda yang spektakuler, maka tidak akan nampak sesuatu yang luar biasa yang terjadi atas orang percaya. Dalam hal ini Allah hendak menunjukkan kepada dunia bahwa inilah masa yang sangat khusus dan istimewa berkenaan dengan cara berada Roh Allah dalam menyelenggarakan proses keselamatan (usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula). Tanda-tanda spektakuler dari karunia-karunia Roh serta keajaiban-Nya tersebut menunjukkan adanya masa yang baru dalam sejarah kehidupan manusia. Kedua, harus diperhatikan bahwa tanda-tanda tersebut tidak bersifat mutlak, artinya bahwa orang-orang percaya yang mengalami baptisan Roh tidak selalu harus disertai dengan tanda-tanda tertentu secara mutlak. Cara Allah bertindak pada gereja mula-mula tidaklah sama dengan cara Allah bertindak di zaman lain. Dalam setiap masa, ada cara Allah yang khusus dan istimewa untuk menyatakan kehendak dan rencana-Nya. Ketiga, sangat besar kemungkinan pada masa aniaya tanda-tanda seperti yang terjadi di Yerusalem, yaitu pada hari Pentakosta, tidak terulang, bahkan sampai sekarang atau bahkan sampai Tuhan datang kembali. Pada masa aniaya justru orang percaya seperti ditinggalkan oleh Tuhan. Orang percaya mengalami aniaya hebat seakan-akan Tuhan tidak berdaya menolong mereka. Mereka tersingkirkan dan sangat tertindas sebagai kelompok yang kalah atau pecundang. Tetapi di mata Allah mereka yang setia dalam aniaya tersebut adalah orang yang dikatakan lebih dari pemenang.1

1) Roma 8:36-37

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.