19. Tidak Berhak Memiliki Hidup

ORANG YANG BERHAK memiliki hidup adalah orang yang merasa berhak memiliki keinginan dan memuaskan keinginannya sendiri. Dalam kesesatannya, ia merasa bahwa Tuhan berkewajiban menyukakan hatinya. Sebenarnya kita tidak boleh merasa berhak memiliki hidup, sebab kita tidak menciptakan hidup ini. Keberadaan kita juga bukan karena kita mau, tetapi ada yang menghendakinya. Untuk itu patut kita mempersoalkan apa yang dikehendaki Dia yang menciptakan dan memberikan kehidupan ini, bukan apa yang kita kehendaki. Tuhan menghendaki agar manusia hidup hanya untuk melakukan keinginan-Nya. Untuk ini kita harus belajar mengenal siapa diri Tuhan dan apa yang disukai-Nya. Sebagai makhluk ciptaan kita harus bisa menempatkan diri secara benar. Kita harus mengerti apa yang dikehendaki oleh Pemilik kehidupan ini. Memahami apa yang dikehendaki Pemilik kehidupan ini adalah hal paling utama dan penting dalam hidup ini.

Kiranya kita dijauhkan dari sikap seperti Lusifer, ia lupa atau tidak sadar bahwa keberadaannya hanya oleh karena Allah semesta alam yang menciptakannya. Tentu ia diadakan hanya untuk Penciptanya. Ia tidak boleh memiliki agendanya sendiri. Ia harus tunduk kepada agenda Tuhan. Rupanya ia mau memuaskan keinginannya sendiri. Dalam Alkitab dikatakan didapati kecurangan dalam dirinya. Ia merasa bahwa Allah tidak berhak atas dirinya. Pribadi yang berpikir bahwa Allah tidak berhak atas hidupnya akan nampak dari sikap hidupnya yang mengingini segala sesuatu untuk kepuasan dirinya.1 Orang-orang seperti ini berarti bersahabat dengan dunia. Mereka adalah orang-orang yang berkhianat kepada Tuhan. Dunia adalah umpan yang digunakan Iblis untuk menjerat manusia agar tidak berbakti kepada Allah.2 Kenyataan hari ini banyak orang merasa berhak memiliki hidupnya dan menaruh berbagai keinginan dalam dirinya tanpa memedulikan Tuhan yang memiliki hidup ini.

Dalam penciptaan atas kita masing-masing Allah pasti memiliki agenda. Agenda Tuhan itulah yang seharusnya kita perdulikan dengan serius, dan kita tidak boleh memiliki agenda sendiri. Orang yang mengumbar segala keinginan dalam dirinya adalah orang yang merasa berhak memiliki agenda sendiri. Orang seperti ini sebenarnya berstatus pemberontak. Mereka hidup di dunia hanya memenuhi dengan segala kegiatan yang berasal dari agendanya sendiri. Ini salah. Seharusnya hidup kita ini hanya untuk agenda Tuhan semata-mata. Kalau Tuhan mengadakan seseorang atau menciptakan seorang individu sejatinya Tuhan ingin memiliki anak. Anak yang dengan rela mengabdi kepada Bapa dan bersekutu dengan Bapa dalam kerelaan.

Melalui proses mengukir kesadaran dalam nurani, bahwa kita adalah makhluk yang diciptakan untuk melayani kehendak-Nya, seseorang akan memiliki irama sebagai pelayan Tuhan. Irama ini akan dibawa sampai pada kekekalan. Perlu diperhatikan bahwa kita bukan dipanggil sekadar menjadi orang beragama yang mengerti hukum dan melakukan hukum-hukum itu. Tetapi kita dipanggil sebagai makhluk -yang dalam kesadaran tinggi- bahwa kita hidup dalam semesta dimana ada Sang Penguasa yang aktif memerintah, dimana kita harus menundukkan diri sepenuh tanpa syarat kepada-Nya. Inilah gairah hidup Tuhan Yesus: Makananku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Orang yang menyadari bahwa dirinya makhluk ciptaan pasti berusaha hidup hanya untuk kesukaan hati Penciptanya. Kesempatan di bumi untuk menyukakan hati Tuhan tidak lama. Tidak menghargai kesempatan ini sama dengan tidak menghargai Tuhan yang memberi kesempatan. Tetapi banyak orang tidak memedulikannya. Hal ini mirip dengan anak-anak yang tidak mengerti betapa tinggi resiko kehidupan seorang anak yang tidak mau belajar dengan giat mempersiapkan hari esoknya. Kegiatan hidupnya ditujukan kepada kegiatan yang lain, tidak mempersiapkan hari esok.

1) Yakobus 4:1-4 ; 2) Lukas 4:5-8

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.