19. Tanda Orang Yang Menghidupkan Tuhan

ORANG PERCAYA HARUS berusaha memperlakukan Allah sebagai pribadi yang hidup walaupun Tuhan tidak terlihat dan sering bersikap seolah-olah tidak ada. Dalam pencarian Tuhan kadang orang percaya seperti orang yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia. Gangguan jiwa skizofrenia adalah keterpecahan atau keterbelahan pikiran. Penderita skizofrenia hidup dalam dua alam yaitu alam fantasi dan alam realitas yang nyata. Orang percaya yang memperlakukan Tuhan sebagai pribadi yang hidup seperti penderita gangguan jiwa ini, tetapi tidak sakit jiwa. Orang percaya seperti ini dalam sepanjang harinya bahkan setiap jam, menit dan detiknya selalu menghayati kehadiran Tuhan. Tentu saja dengan hidup seperti ini nampak “ketidak wajarannya” di mata manusia lain. Tetapi melalui hal itu mereka mengalami Tuhan secara nyata di dalam seluruh kegiatan hidupnya. Justru Tuhan seharusnya bisa dihayati, dirasakan dan dialami di tengah-tengah segala kesibukan dalam perjalanan hidup ini setiap hari, menit dan detiknya. Bagi mereka ber-Tuhan bukan hanya pada saat hari dan jam ke rumah ibadah yang ada dalam liturgi gereja. Perjalanan bersama dengan Tuhan bukanlah alam imajinasi tetapi realitas yang lebih nyata dari pada segala sesuatu yang dapat dilihat dan didengar serta dirasa.

Orang yang memperlakukan Tuhan sebagai pribadi yang hidup akan berusaha memerhatikan perasaan Tuhan dalam segala tindakan yang dilakukan. Ini sama dengan menaruh Tuhan di matanya agar tidak berbuat dosa dan melukai perasaan Tuhan. Orang percaya seperti itu berusaha hidup benar bukan karena ada mata yang mengawasinya, tetapi selalu menghayati kehadiran Tuhan dalam hidupnya sehingga Tuhan menjadi begitu nyata dalam hidup ini. Fenomena ini sejajar dengan fakta pengendara kendaraan yang tidak melakukan pelanggaran lalu lintas, walau tidak melihat adanya polisi di tempat kejadian. Demikian pula orang yang memperlakukan Tuhan sebagai pribadi yang hidup, tidak sembarangan menjani hidup ini. Jadi, orang yang memperlakukan Tuhan sebagai pribadi yang hidup akan berusaha hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Memperlakukan Tuhan sebagai pribadi yang hidup berarti belajar untuk mengharap pertolongan Tuhan dalam segala keadaan. Dalam keadaan genting orang percaya belajar untuk “menguatkan percaya”nya kepada Tuhan. Seperti Daud ketika ada dalam keadaan terjepit, ia menguatkan percayanya kepada Tuhan dan tidak berharap pertolongan manusia.1 Keadaan yang sulit dan krisis merupakan latihan beriman kepada Tuhan sekaligus membuktikan bahwa Ia hidup. Dalam kehidupan sebagian orang Kristen, ada yang menunjukkan seakan-akan Allah yang mereka sembah tidak ada. Sehingga dalam keadaan terjepit mereka lebih memercayai kekuatan atau sumber lain sebagai andalannya. Mereka juga dalam keadaan tertentu mudah takut seakan-akan Tuhan tidak ada. Orang Kristen yang tidak terbiasa berjalan dengan Tuhan ketika menghadapi keadaan genting akan menjadi sangat ketakutan sebab ia tidak memiliki pegangan.

Akhirnya, orang yang memperlakukan Tuhan sebagai pribadi yang hidup sangat memercayai kehidupan yang akan datang sehingga tidak berharap hidup di bumi sebagai “firdaus”. Mereka dapat menghayati dengan benar bahwa dunia ini bukan rumahnya. Tentu saja selama hidup di dunia ini, mereka tetap berusaha mengembangkan semua potensi untuk dapat digunakan bagi Tuhan. Tanpa memiliki potensi yang baik seseorang tidak efektif bagi Tuhan. Dengan demikian memaksimalkan potensi merupakan bagian dari pengabdian kepada Tuhan secara nyata. Dengan profesi dan aktifitas yang dilakukan, seseorang memerankan panggilannya dalam melayani Tuhan. Mereka yang memerankan panggilannya dalam melayani Tuhan selama hidup di dunia ini pasti melayani Tuhan di kekekalan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang tidak memperlakukan Tuhan sebagai pribadi yang hidup tidak pernah bisa melayani Tuhan.

1) 1Samuel 30:1-6

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.