19. SUARA DI DALAM HATI NURANI

Siapa kita hari ini adalah produk dari apa yang kita dengar dan kita lihat selama perjalanan hidup kita di masa lalu. Sama seperti bagaimana kesehatan tubuh kita hari ini adalah peta dari makanan yang kita konsumsi serta pola hidup yang kita jalani. Demikian pula dengan keadaan nurani kita adalah peta dari kehidupan yang telah kita jalani, yaitu filosofi yang kita serap setiap hari dari lingkungan, baik lingkungan keluarga, pergaulan dan pendidikan. Produk yang kita konsumsi dalam jiwa melahirkan suara manusia lama. Manusia lama ini memiliki suara di dalam diri kita. Pada waktu di gereja atau di suasana tertentu suara itu bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Ia bisa bersikap baik, tetapi sebenarnya ia sangat licik. Harus diketahui bahwa di gereja pun suara itu tidak bisa dibungkam. Ia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan secara licik. Bahkan seorang pendeta yang berkotbah atau seorang worship leader yang memimpin puji-pujian di mimbar bisa mengeluarkan kata-kata dan sikap yang berasal dari suara manusia lamanya. Tentu ia tidak menyadari. Bahkan kadang-kadang ia merasa itu suara Tuhan.

Pada waktu di gereja kadang-kadang suara itu bisa tidak terdengar, suara roh lebih keras, tetapi ketika keluar dari gereja suara itu kembali mendominasi hidup. Itulah sebabnya mengapa seseorang begitu mudah jatuh dalam dosa atau melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan pada waktu di luar gereja. Kalau seseorang sungguh-sungguh berhasrat untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, ia harus sungguh-sungguh mengenali suara tersebut, yang sering tanpa sadar mendorong seseorang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dalam hal ini, bukan hanya perbuatan dosa yang sudah dilakukan yang sangat berbahaya, tetapi yang tidak kalah berbahayanya adalah suara dari daging atau manusia lama yang tidak bisa dibungkam dengan mudah.

Kalau seseorang tidak memiliki keteguhan hati untuk melakukan kehendak Allah, maka ia akan mudah menyerah terhadap suara itu dengan mengikuti keinginannya. Dan masih terus hidup sesuai dengan suara yang adalah filosofi dari kehidupan lamanya, hasil asuhan dunia. Akhirnya ia selalu hidup dalam perbudakan manusia lama. Suara manusia lama dengan segala pertimbangan dan hasratnya sering menguasai diri kita tanpa kita sadari. Sering orang menganggap itulah dirinya. Tentu suara tersebut memiliki kecerdasan dan berbagai argumentasi dengan segala pertimbanganya. Tentu pertimbangan yang tidak searah dengan pikiran Tuhan. Itulah sebabnya banyak orang Kristen yang berbuat dosa dengan seribu satu alasan mengapa ia melakukan perbuatan tersebut. Alasan-alasan yang dibangun sering semata-mata hanya untuk mendapat pembenaran terhadap perbuatan salah yang dilakukan. Terkait dengan hal ini Firman Tuhan mengatakan dengan tegas: Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 4:21-24).

Kalau seseorang tidak belajar Firman Tuhan yang murni, sehingga tidak pernah mendengar rhema, maka ia tidak pernah mendengar suara “manusia lama dalam nuraninya”. Ketika kita mendengar suara dari manusia lama tersebut, kita harus mulai menggantikan dengan suara baru yang kita peroleh dari kebenaran Firman Tuhan. Suara baru yang bersumber dari suara kebenaran harus digoreskan atau ditanamkan di hati untuk dapat menggantikan suara manusia lama. Ibarat siput, kita sadar bahwa cangkang yang kita bawa kemana-mana ternyata cangkang yang salah, sekarang kita hendak melepaskan diri dari cangkang tersebut dan mengenakan cangkang yang lain, cangkang yang baru. Cangkang yang lama adalah suara manusia lama dan cangkang yang baru adalah suara kebenaran. Ini adalah hal yang sulit karena kita telah bertahun-tahun mengenakan cangkang tersebut, tetapi kita bisa melakukannya dengan pertolongan Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.