19. SPEKULATIF

DI KERAJAAN TUHAN YESUS Kristus nanti tidak boleh ada tindakan yang melukai hati Bapa sama sekali. Sebab kerajaan tersebut milik Allah Bapa. Seharusnya warna kehidupan seperti ini sudah dilatih atau diterapkan sejak masih di dunia. Dunia ini juga bagian dari Kerajaan Allah. Tidak ada daerah netral dimana seseorang boleh berbuat suka-suka sendiri. Oleh karenanya dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan pola hidup: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”. Doa Bapa kami bukan hanya untuk diucapkan tetapi untuk dilakukan. Hal ini paralel dengan kesaksian Paulus bahwa baik sementara diam di dalam tubuh di bumi ini maupun di luarnya ia berusaha berkenan.1 Berkenan artinya dalam segala hal yang dilakukan menyukakan hati Allah Bapa. Kalau hidup berkenan kepada Allah sungguh-sungguh menjadi tujuan satu-satunya dalam hidup ini maka seseorang menemukan perhentian.2 Selama masih memiliki banyak goal atau tujuan dalam kehidupan maka akan selalu bergerak mencari kepuasan dunia dan ujungnya adalah api kekal. Inilah yang diupayakan oleh Iblis agar manusia menghargai sesuatu lebih dari Tuhan dan menikmatinya sampai terlena dan tidak merasa memerlukan Tuhan.

Sebelum seseorang masuk ke dalam pemerintahan Allah di langit baru dan bumi baru nanti -di bumi sejak sekarang ini- kita harus sudah belajar menciptakan kehidupan yang hanya menyukakan hati Bapa. Dengan berusaha untuk hidup tanpa melukai hati Bapa -tetapi menyukakan hati-Nya- seseorang sudah bisa membangun keyakinan apakah dirinya layak masuk Kerajaan Surga atau tidak. Hal masuk Kerajaan Surga atau terbuang ke dalam neraka kekal bukanlah hal yang boleh spekulatif atau untung-untungan. Hal yang sangat dahsyat lebih dari segala hal ini harus menjadi suatu kepastian. Untuk membangun kepastian seseorang harus berjuang untuk bisa menemukan apakah dirinya sudah berkenan kepada Bapa dengan melakukan kehendak Bapa atau belum. Perjuangan ini harus dipandang lebih penting dari segala hal. Inilah yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Surga.

Matius 7:21-23 menyatakan bahwa pada hari itu Tuhan akan berterus terang kepada orang-orang yang ditolak-Nya: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Apakah Tuhan sengaja menjebak orang-orang tertentu yang akan ditolak-Nya dengan tidak memberi tahu jauh-jauh hari bahwa mereka tidak berkenan kepada-Nya? Tentu tidak. Tuhan pasti selalu berbicara dan memberi teguran serta peringatan agar orang percaya tidak hidup dalam keadaan tidak melakukan kehendak Bapa. Tetapi biasanya orang sibuk dengan segala keinginannya sendiri sehingga mereka tidak sungguh-sungguh berusaha mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya. Inilah yang terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini.

Banyak orang Kristen merasa bahwa suatu hari tidak akan ditolak. Mereka merasa yakin akan pasti masuk surga. Keyakinan mereka tidak dibangun dari realita kehidupan melakukan kehendak Allah, tetapi hanya sebuah keyakinan. Keyakinan seperti itu tidak memiliki dasar, menyesatkan dan menipu. Keyakinan harus dibangun di atas fakta kehidupan setiap hari yang sungguh-sungguh telah melakukan kehendak Bapa, yaitu kehidupan dalam kedaulatan Allah secara penuh. Dengan demikian kita sudah menarik atmosfir Kerajaan Surga hadir dalam kehidupan kita setiap hari di bumi ini. Kehidupan yang tidak menyukakan hati Allah adalah kehidupan yang tidak menghadirkan Kerajaan Allah tetapi kerajaan Iblis. Sebaliknya, kalau seseorang selalu menyukakan hati Bapa maka Kerajaan Allah hadir dalam hidup kita. Kehidupan seperti ini akanberlanjut sampai di langit baru dan bumi yang baru nanti. Dalam hal ini akan nampak sangat jelas mulai sekarang di bumi hari ini apakah seseorang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga atau tidak. Seharusnya setiap kita juga memiliki kesadaran dengan kuat apakah kita sudah layak masuk Kerajaan Surga atau belum.

1) 2Korintus 5:9 ; 2) Matius 11:28-29

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.