19 Oktober 2014: Elachistos

Kalau seseorang mengasihi Tuhan maka kasih itu bukan fantasi tetapi harus konkrit atau nyata. Konkrit atau nyata maksudnya adalah harus ada tindakan yang bisa dirasakan oleh orang di sekitar kita. Dalam lingkungan anak-anak Tuhan, kasih secara vertikal tidak mungkin tanpa kasih secara horisontal dan juga sebaliknya. Dengan demikian bisa dimengerti mengapa Tuhan Yesus menyatakan bahwa perbuatan kita bagi mereka yang paling hina diperhitungkan sebagai perbuatan kita bagi Tuhan Yesus sendiri. Sesungguhnya Tuhan tidak membutuhkan apa-apa dan siapa-siapa. Dia Mahakuasa dan Mahasempurna, tetapi yang bisa menjadi kebutuhan-Nya adalah uluran tangan bagi orang-orang menderita yang membutuhkan pertolongan. Dalam hal ini, hati Tuhan dapat disukakan oleh anak-anak-Nya yang mengasihi sesamanya dengan benar. Tuhan menikmati apa yang kita lakukan bagi orang-orang yang dikatakan Tuhan Yesus “paling hina” (Mat. 25:40). Dinamika hidup seperti ini membuat kita bergairah bekerja keras agar berpotensi untuk bisa berbuat sesuatu bagi Tuhan lebih banyak. Terkait dengan hal ini yang harus diperhatikan adalah kata “ saudara-Ku yang paling” hina (Mat. 25:40). Dalam teks aslinya adalah kata itu adalah elachistos (λχιστος). Kata ini menunjuk kepada mereka yang benar-benar terabaikan oleh orang lain. Menemukan orang yang paling hina (elachistos) bukan pilihan sesuai dengan selera kita. Tuhan pasti akan menunjukkan obyek, siapa-siapa yang patut meneguk anggur hidup yang kita curahkan dan roti hidup yang kita pecah-pecahkan. Kita tidak boleh memilih-milih sendiri siapa yang kita anggap sebagai sesama kita. Tuhan yang akan menunjukkan siapa elachistos kita masing-maing. Seperti orang Samaria yang baik hati diberi Tuhan proyek untuk diperhatikan, yaitu orang Yahudi yang selama ini memusuhi dan merendahkan orang-orang Samaria (Luk. 10:29-35). Dengan sikap hati yang benar maka orang di sekitar kita akan merasakan kebaikan kita. Kalau tidak merasakan berarti kita belum mengasihi Tuhan. Sesuatu yang baik itu adalah orang dapat merasakan dan menemukan kebaikan Tuhan dari diri kita. Tentu ini adalah kebaikan yang tulus yang mengantar manusia mengenal Allah dan tergiring dalam Kerajaan Surga. Itulah sebabnya dalam hukum kasih, Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dan hukum yang sama dengan hukum ini adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Mat. 22:37-40).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.