19 November 2014: Pendahuluan Buku Hidup

Untuk mengalami Tuhan kita harus percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang hidup dan nyata. Kita harus percaya bahwa apa yang diungkapkan Alkitab merupakan fakta kehidupan, pengalaman konkrit yang dialami manusia. Peristiwa-peristiwa dalam Alkitab harus dibaca terus menerus dan berulang-ulang. Sehingga kisah-kisah tersebut menjadi nyata dan dekat dengan hidup kita, seakan-akan kita sedang ada di dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Membaca Alkitab bukan seperti masuk gedung museum, hanya melihat barang-barang kuno yang tidak memiliki relasi langsung dengan kita hari ini. Tetapi membaca Alkitab kita masuk dalam realitas hidup, seperti hidup kita hari ini. Kita harus mempercakapkan pengalaman tersebut setiap hari atau merenungkannya siang dan malam. Kita harus menjunjung tinggi pengalaman-pengalaman tokoh-tokoh iman tersebut sebagai petunjuk kita bergaul dengan Tuhan.

Alkitab harus merupakan “pendahuluan“ dari isi buku kehidupan kita. Dengan demikian Alkitab adalah bagian hidup kita. Bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh perjalanan studi, karir, rumah tangga dan lain sebagainya. Rasul-rasul dan bapak-bapak gereja telah mendahului kita melukis isi pendahuluan buku kehidupan kita. Hal ini dikemukakan dengan maksud agar kita tidak memisahkan diri dari pengalaman hidup tokoh-tokoh iman. Seperti mereka mengalami Tuhan secara riil, kita juga harus mengalami Tuhan dengan kualitas yang sama. Tuhan tidak menempatkan seseorang boleh mengalami Tuhan secara berlimpah sementara yang lain tidak. Untuk itu Alkitab tidak boleh menjadi ruangan museum yang hanya menjadi obyek wisata, tanpa bertalian dengan hidup kita hari ini. Alkitab adalah ruang tamu kita atau teras depan rumah kita. Seseorang tidak dapat masuk rumah tanpa melalui teras depan rumah. Kita harus berani menarik kehidupan tokoh-tokoh iman dan segala kebenaran dalam Alkitab terwujud atau dialami oleh kita setiap hari dengan kualitas yang sama. Sebab Tuhan tidak melarang kita mengalami apa yang dialami oleh kekasih-kekasih-Nya pada masa lalu. Tuhan yang tidak berubah adalah Tuhan yang membuka diri terhadap setiap orang yang haus dan lapar akan diri-Nya. Perhatikan, kata “yang haus dan lapar”. Hanya orang yang haus dan lapar yang akan dipuaskan (Mat. 5:6). Tuhan menetapkan bahwa orang yang mencari Tuhan akan menemukan-Nya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.