19 Januari 2015: Satu-Satunya Jalan

Dalam Yohanes 14:6 ini tertulis: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”. Kata Aku disini menunjuk Tuhan Yesus Kristus selaku subyek. Dalam pernyataan-Nya tersebut Yesus Kristus hendak menegaskan bahwa Ia bukan salah satu jalan, tetapi jalan itu sendiri; satu-satunya jalan. Dari pernyataan-Nya tersebut Dia menentang segala tawaran dari berbagai filsafat dan agama akan adanya jalan keselamatan di luar diri-Nya. Dalam kalimat terakhir ayat tersebut tertulis: “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Kalimat “kalau tidak melalui Aku” (Yun. eimi di emou; εἰμὴ δι᾽ἐμοῦ), mengindikasikan bahwa hanya ada satu jalan untuk menemukan Allah yang benar dan bersekutu dengan Dia.

Dalam pernyataan-Nya yang lain Ia berkata: Akulah pintu.1 Ia bukan salah satu pintu tetapi satu-satunya pintu. Kebenaran ini juga diteguhkan oleh pernyataan Petrus: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”2 Untuk kebenaran ini setiap orang percaya harus berani intoleransi terhadap pandangan siapapun. Namun, keyakinan ini harus dipahami dalam penghayatan yang dewasa di tengah-tengah masyarakat yang majemuk. Intoleransi harus dihayati di dalam kebenaran batiniah. Dalam menerjemahkan iman tersebut di kehidupan secara konkrit, orang percaya harus mengenakan sikap hidup seperti yang diajarkan Tuhan Yesus “be ye therefore wise as serpents, and harmless as doves”.3 Orang percaya harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kata cerdik dalam bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari kata dalam bahasa Yunani phronimos (φρόνιμος) yang juga dapat diterjemahkan cerdas atau bijaksana.

Toleransi orang percaya haruslah toleransi yang terlimitasi atau termargin, dengan kata lain dibatasi dengan ketat dan dengan jelas. Disini, integritas iman orang percaya diuji. “Tenggang rasa” demi menciptakan keharmonisan hidup di tengah-tengah masyarakat yang majemuk tidak boleh mengorbankan kemurnian iman Kristiani. Namun juga hendaknya orang percaya tidak ceroboh dalam mengungkapkan imannya yang sangat eksklusif tersebut; bahwa keselamatan hanya dalam Tuhan Yesus Kristus. Fakta ini adalah harga mati yang membuat iman Kristen menjadi sangat eksklusif. Bisa dimengerti kalau orang percaya yang benar pasti rela mati demi imannya dari pada pindah agama atau menyangkal Tuhan Yesus. Seharusnya sejak muda orang Kristen diajar mengenal kebenaran dan terus memeteraikan dalam hati sehingga tidak bisa diubah oleh apa pun dan siapa pun kecuali Tuhan sendiri. Kebenaran itu akan melekat dalam hati dan tidak pernah terhapus, dalam hal ini khususnya pengakuan bahwa Tuhan Yesus adalah jalan satu-satunya untuk mencapai Bapa dan surga.

Kalau jujur, sebenarnya hampir semua agama dalam dunia ini memiliki eksklusifitas sehingga tidak membuka toleransi selebar-lebarnya tanpa batas bagi ajaran lain. Sebab setiap agama akan mengklaim bahwa ajaran yang dianutnya satu-satunya yang paling benar. Adapun seberapa jauh kebenaran agama tersebut dapat dibuktikan dengan seberapa tinggi penerimaan umat suatu agama terhadap umat agama lain. Kekristenan tidak mengakui ada jalan keselamatan di luar Kristus, tetapi umat Kristen tidak diajar memaksa umat lain untuk memeluk agama Kristen. Dalam pemberitaan Injil, Tuhan Yesus mengajarkan agar orang percaya tidak memaksa seseorang atau suatu komunitas menerima Injil. Kalau orang percaya dalam pemberitaan Injil ditolak, Tuhan Yesus menyarankan untuk pergi ke kota lain.4 Bahkan Tuhan mengajarkan untuk mengasihi musuh. Dalam kekristenan tidak ada “pedang” dalam mengekspansi imannya kepada orang lain. Kalau suatu umat percaya Allah, dimana yang dipercaya adalah Allah yang benar, maka tidak perlu menggunakan kekuatan fisik untuk memaksa orang lain mengikuti kepercayaannya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.