19 Desember 2014: Menjaga Hati Diri Dari Kemabukan

Dalam Lukas 21:34-36 Tuhan Yesus menasihati orang percaya agar menjaga hati agar tidak hidup dalam kemabukan. Mabuk di sini bukan hanya berarti mabuk anggur atau minuman yang berkadar alkohol, tetapi berbagai kesenangan yang membuat seseorang kehilangan kesadaran rohani. Kesadaran rohani artinya kesadaran untuk mempersiapkan diri menghadapi kekekalan. Betapa celaka orang yang tidak mempersiapkan diri menghadapi kekekalan. Harus diingat bahwa hidup di dunia ini hanya persiapan untuk menyongsong kehidupan di balik kubur kita. Sesuatu yang paling membuat orang mabuk ada dua hal, pertama uang atau harta, kedua pangkat atau kedudukan atau kehormatan. Bukan hanya orang di luar gereja yang mabuk oleh hal-hal ini, tetapi juga anak-anak Tuhan, pengerja gereja bahkan pendeta. Kalau orang sudah mabuk kekayaan maka ia pasti binasa (1Tim. 6:9-10). Menjadi kaya tidak salah, malah mestinya kita kaya untuk kemuliaan Tuhan, tetapi mabuk oleh kekayaan itulah yang salah. Orang yang mabuk kekayaan dikisahkan oleh Tuhan Yesus di Lukas 12:16-21. Orang ini sibuk menimbun harta di bumi tetapi tidak mengumpulkan harta di surga. Harta di surga adalah menjadi manusia yang berkenan kepada Tuhan. Banyak orang Kristen seperti orang kaya dalam Lukas 12:16-21, akhirnya keadaannya tidak kaya di hadapan Tuhan. Betapa menyesalnya kalau suatu hari semua harta dan kekayaan ditinggalkan sementara pulang ke rumah kekal atau mati tidak memiliki apa-apa yaitu berkeadaan tidak berkenan di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu Tuhan Yesus juga menasihati agar orang percaya menjaga hati supaya tidak hanyut dalam kepentingan duniawi. Kata kepentingan duniawi ini sebenarnya dalam bahasa aslinya adalah merimnais biotikais (μερίμναις βιωτικαῖς) yang artinya kekhawatiran hidup. Dalam bahasa Inggris kata ini diterjemahkan anxieties of life. Kekhawatiran hidup ini membuat orang menjadi serakah. Mereka ingin mempunyai banyak, sebab dengan mempunyai harta yang banyak maka ia merasa hidupnya akan terjamin. Sebenarnya menjadi kaya atau sangat kaya bukan sesuatu yang salah, tetapi kalau seseorang berpikir dengan hal itu dirinya merasa aman berarti uang atau harta menjadi berhala. Itu yang salah. Tanpa mereka sadari hasrat ingin memiliki harta banyak itu menenggelamkan kepada kehidupan yang tidak melekat dengan Tuhan. Mereka akan gagal menjadi mempelai Tuhan Yesus sehingga tidak layak masuk Kerajaan Surga. Harus diingat bahwa di akhir zaman banyak orang menjadi hamba uang (2Tim. 3:2). Kita harus memeriksa diri sendiri jangan sampai kita berstatus hamba uang di mata Tuhan. Selanjutnya orang percaya harus berjaga dan berdoa. Bila tidak berjaga-jaga dan berdoa orang percaya akan dikalahkan dunia ini atau terpengaruhi oleh pengaruh dunia yang jahat ini. Berjaga-jaga adalah kehidupan yang membiasakan diri melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Berdoa di sini bukan berarti kita harus sepanjang hari tidak meninggalkan kamar dan berlutut. Berdoa di sini berarti persekutuan yang terus menerus dengan Tuhan. Dimana pun orang percaya berada, ia harus selalu menghayati bahwa Tuhan hadir. Hal ini kita lakukan agar kita tidak mudah berbuat dosa sampai tidak berbuat dosa sama sekali atau hidup suci. Dunia ini sedang menuju suatu keadaan dimana yang jahat bertambah jahat, dan yang suci semakin dimurnikan. Orang percaya harus menentukan sikap. Bila tidak menentukan sikap tegas maka cepat atau lambat akan dibawa ke dalam arus dunia yang jahat ini menuju kebinasaan. Melihat kenyataan dunia yang semakin jahat ini setiap orang percaya dipanggil untuk “berjaga-jaga”, yaitu sikap lebih bersungguh-sungguh dalam bertumbuh dalam kesucian.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.