18. Percaya Walau Tidak Melihat

KITA TIDAK BOLEH menuntut Tuhan menyatakan diri sesuai dengan keinginan kita, seperti Tomas yang menghendaki agar dirinya mendapat pembuktian kebangkitan Tuhan Yesus. Kita harus menghormati Tuhan dengan menerima dengan sukacita porsi pengalaman bersama Tuhan yang kita miliki. Selalu ada kecenderungan meragukan keberadaan Tuhan sehingga kita menuntut bukti, bahkan ada orang-orang Kristen yang menantang Tuhan untuk membuktikan bahwa Dia eksis, barulah ia mau percaya. Tindakan seperti ini harus dijauhkan dari kehidupan kita, sebab hal tersebut merupakan sikap tidak hormat kepada Allah. Untuk orang Kristen yang baru sikap tersebut masih bisa ditolerir, tetapi untuk mereka yang sudah menjadi orang Kristen, sikap tersebut tidak boleh dilakukan. Seharusnya orang Kristen lama bisa percaya sepenuhnya kepada Tuhan tanpa bukti-bukti lahiriah.

Kalau kita tidak memiliki pengalaman yang spektakuler dengan Tuhan secara lahiriah atau secara fisik bukan berarti kita tidak diperhatikan oleh Tuhan. Orang yang cacat kaki membutuhkan tongkat penyangga untuk bisa tegak dan berjalan, tetapi orang yang kakinya tidak invalid tidak membutuhkannya. Kita tidak memerlukan “tongkat penyangga” untuk percaya kepada Tuhan. Kita bisa percaya walau tidak melihat.1 Oleh sebab itu orang percaya yang tidak memiliki pengalaman spektakuler dengan Tuhan tidak perlu rendah diri dan merasa kurang diperhatikan Tuhan. Sebaliknya, mereka yang memiliki pengalaman spektakuler dengan Tuhan tidak boleh meninggikan diri seakan-akan mereka orang VIP Tuhan yang lebih dari orang lain. Justru orang yang tidak memiliki pengalaman spektakuler adalah orang yang dipercayai Tuhan untuk bisa percaya walau tidak melihat.

Dengan memahami betapa tidak mudah memercayai keberadaan Tuhan dan mengalami-Nya, maka kita bisa mengerti salah langkah Abraham ketika mengambil Hagar menjadi wanita yang diharapkan dapat melahirkan anak untuk Abraham. Sekitar 25 tahun Abraham menunggu anak yang dijanjikan tetapi tidak kunjung hadir, sementara itu Tuhan diam saja seakan-akan Tuhan melupakan janji-Nya akan memberikan anak sebanyak pasir di laut dan bintang di langit. Keadaan-keadaan seperti inilah yang membuat orang pilihan Tuhan meragukan “keaktifan Tuhan” hadir di tengah-tengah umat-Nya. Ternyata manusia sekaliber Abraham bisa gagal juga. Tentu ini bukan kegagalan total tetapi bagian dari proses penyempurnaan imannya. Akhirnya Abraham berhasil melewati semua ujian sehingga pantas disebut sebagai bapa orang percaya.

Keadaan seperti Abraham sering dialami orang percaya yaitu pada saat Tuhan tidak menyatakan diri secara khusus kepada mereka. Bertahun-tahun rasanya Tuhan tidak menyatakan diri dalam suatu penampakan, penglihatan atau mimpi-mimpi. Mereka merasa seakan-akan Tuhan tidak terlalu serius berurusan dengan mereka. Kemudian mereka tidak memberi porsi yang pantas untuk mencari dan mengalami Tuhan. Banyak orang Kristen yang ala kadarnya saja dalam memburu Tuhan sehingga tidak terbangun sikap optimisme untuk memiliki pengalaman secara riil dengan Tuhan. Sikap pesimisme ini bisa berkembang sampai sikap apatis sehingga mereka menjadi orang Kristen yang hanya pergi ke gereja setahun sekali sampai tidak pernah ke gereja lagi. Orang-orang seperti ini mudah menyangkal iman Kristennya. Perkara-perkara sepele dapat membuat mereka berkhianat terhadap Tuhan. Tuhan tidak menginginkan kita serius berurusan dengan Dia hanya karena telah atau ingin memiliki pengalaman yang spektakuler. Kita harus sungguh-sungguh serius berurusan dengan Tuhan walau tidak memiliki pengalaman spektakuler. Segala sesuatu yang dikemukakan oleh Alkitab mengenai Tuhan sudah cukup menjadi landasan mencari Tuhan. Dengan demikian orang percaya harus serius berurusan dengan Tuhan karena Firman yang tertulis di dalam Alkitab.

1) Yohanes 20:29

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.