18. MENOLAK ALLAH

Allah menghendaki setiap orang percaya hidup kudus yang berstandar kekudusan-Nya. Kesucian adalah hal mutlak yang harus dimiliki dan dijalani orang percaya. Karena hal ini adalah hal yang sangat mutlak, maka Tuhan pasti bersikap sangat adil. Keadilan Tuhan menuntut masing-masing individu untuk bertanggung jawab. Seberapa tinggi kualitas kesucian hidup seseorang tergantung dari masing-masing individu merespon anugerah yang Allah sediakan kepada mereka sesuai dengan takaran atau bagiannya. Sesuai takaran atau bagiannya artinya masing-masing orang memiliki bagian yang khusus; tentu satu dengan yang lain berbeda. Dalam hal ini berlaku Firman bahwa “yang diberi banyak dituntut banyak, tetapi yang diberi sedikit dituntut sedikit pula” (Luk. 12:48).

Tuhan memberi karunia atau anugerah keselamatan kepada semua umat pilihan. Di dalamnya terdapat fasilitas untuk bertumbuh dalam iman dan meraih kesucian sesuai dengan kesucian Allah. Fasilitas itu adalah penebusan, Roh Kudus yang menuntun orang percaya kepada segala kebenaran (Yoh. 16:13), Injil yang adalah kekuatan Allah (Rm. 1:16-17), dan penggarapan Allah melalui segala peristiwa hidup (Rm. 8:28-29). Seberapa seseorang mau bertumbuh dan mencapai kesucian tergantung masing-masing individu, bukan tergantung Tuhan. Ketekunan masing-masinglah yang berperan. Tuhan tidak membuat seseorang bisa bertekun dan yang lain tidak dibuat untuk bisa bertekun. Ketekunan masing-masing orang tidak tergantung Tuhan, tetapi tergantung individu menggerakkan dirinya sendiri. Allah tidak memaksanya. Memaksa bukanlah hakikat Allah. Dari hal ini kita memperoleh fakta ada orang Kristen yang bersedia bertobat dan menerima Yesus Kristus dengan benar dan banyak pula yang menolak-Nya. Dari hal ini jelas bahwa hidup adalah perjuangan (Luk. 13:23-24). Untuk ini orang percaya harus memasuki proses pengudusan.

Ada dua jenis atau dua aspek pengudusan, yaitu aktif dan pasif. Hal ini sama dengan fakta adanya pengudusan oleh darah Tuhan Yesus (pengudusan pasif) di satu pihak, dan pihak yang lain dikuduskan oleh Firman, Roh Kudus, dan pengharapan. Pengudusan oleh darah Tuhan Yesus adalah pengudusan untuk mengubah status, dari manusia yang tidak diperdamaikan dengan Allah menjadi manusia yang diperdamaikan dengan Allah. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh Tuhan Yesus (Kis. 4:12). Dikuduskan dengan darah Tuhan Yesus tidak melibatkan peran manusia sama sekali. Manusia hanya menerima anugerah tersebut dengan percaya dalam nalar. Pengudusan oleh darah Tuhan Yesus ini tidak otomatis menghilangkan kodrat dosa (Ing. Sinful nature) atau watak dosa dalam kehidupan manusia. Kodrat dosa dapat dihilangkan melalui proses pendewasaan oleh Firman dan pembentukan Allah.

Pengudusan aktif artinya respon manusia terhadap anugerah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus untuk melepaskan karakter dosa dalam dirinya, sehingga atau agar tidak berbuat dosa lagi. Dengan demikian bukan hanya dosa atau kesalahan masa lalu yang dianggap telah beres atau dibereskan, tetapi kemungkinan untuk berbuat salah lagi juga dihilangkan. Orang yang menerima pengampunan dari Tuhan adalah orang-orang yang memiliki tanggung jawab untuk mengubah hidupnya. Inilah yang disebut sebagai anugerah yang bertanggung jawab. Orang yang menerima pengampunan Tuhan harus memberi diri diperbaiki oleh Tuhan. Perbaikan di sini adalah perbaikan dari gambar Allah yang rusak untuk dikembalikan pada rancangan semula-Nya. Proses menguduskan diri ini membuat seseorang menjadi kudus, artinya menjadi semakin seperti Yesus.

Jadi pengudusan oleh darah Yesus tidak berhenti sampai hanya status orang percaya berubah, sebab pengudusan harus berlanjut pada proses di mana orang percaya yang dikuduskan haruslah benar-benar menjadi kudus. Dalam 1 Tesalonika 4:7 Firman Tuhan berkata: “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” Sejajar dengan 1 Tesalonika 4:7, dalam 1 Petrus 1:16 Firman Tuhan tegas berkata: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Dan banyak lagi teks Alkitab yang berupa perintah untuk menjadi kudus. Dalam hal ini orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kekudusan. Selanjutnya dalam 1 Tesalonika 3:8 tegas Firman Tuhan mengatakan: “Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Dalam 2 Korintus 6:17-18 tertulis, Sebab itu: “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Dalam teks ini orang percaya dipanggil untuk keluar dari kehidupan yang tidak sesuai kehendak Allah sejak di dunia ini dalam pergaulan di bumi. Dari hal ini sangat jelas orang percaya harus berjuang untuk mencapai kesucian. Hal ini menjadi dasar bahwa keselamatan bukan tindakan Allah sepihak.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.