18. MELEPASKAN SEGALA SESUATU

TIDAK DAPAT DISANGKAL bahwa Tuhan menghendaki anak-anak-Nya rela melepaskan apa pun yang menjadi kesukaan dan kebanggan demi memuaskan hati-Nya. Ketika Allah menghendaki agar Abraham menjadikan Ishak sebagai korban bakaran, Allah menghendaki agar diri-Nya dipuaskan Abraham dengan cara memberikan yang terbaik, tersayang dan termahal dalam hidupnya bagi Tuhan.1 Dari apa yang tertulis dalam Alkitab ini nampak sekali tidak ada keraguan dalam hati Abraham terhadap Allah yang memerintah dirinya melakukan sesuatu yang benar-benar asing dan aneh, sebab cara korban seperti ini biasa dilakukan oleh orang-orang Kanaan. Dari penurutan Abraham ini menunjukkan pandangannya bahwa Tuhan berhak menerima yang terbaik dari apa yang ada padanya dan memperlakukan dirinya sesuka-suka Tuhan tanpa memedulikan perasaan dirinya. Dari hal ini nampak sekali bagaimana Abraham menempatkan diri secara benar di hadapan Allah. Sikap ini adalah sikap yang luar biasa, tetapi normal di hadapan Tuhan, sebab memang Tuhan berhak diperlakukan demikian.

Umat Perjanjian Baru dikehendaki oleh Tuhan untuk memiliki kehidupan iman seperti Abraham. Abraham dibenarkan bukan karena perbuatannya (dalam melakukan hukum, sebab memang belum ada hukum), tetapi Abraham dibenarkan karena penurutannya yang begitu hebat. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Kristen belum bisa dikatakan Kristen yang dibenarkan sebelum memiliki kehidupan iman seperti Abraham. Pada mulanya Abraham dipilih bukan karena perbuatan baik yang dilakukan, tetapi karena Allah memilih, tetapi setelah Abraham menjadi pilihan Tuhan, maka ia harus hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah yang sempurna. Pilihan Allah atas kehidupan orang percaya tidak membawa orang percaya kepada sebuah pelabuhan dimana mereka bisa berhenti dari perjuangan, tetapi justru merupakan awal dari sebuah perjuangan untuk masuk jalan sempit.

Orang percaya tidak dikehendaki berurusan dengan hukum dan peraturan agar dapat melakukannya sehingga menyenangkan hati Tuhan. Tidak ada manusia yang dapat melakukan hukum dengan sempurna. Orang percaya telah menerima penebusan oleh darah Tuhan Yesus, ketidaksanggupannya melakukan hukum telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus. Namun bukan berarti semua sudah beres dan orang Kristen berpangku tangan menantikan hari kematiannya dan diperkenan masuk surga. Orang Kristen harus mulai berurusan dengan Tuhan secara pribadi dan memiliki kepercayaan yang mutlak dan total kepada Tuhan. Untuk ini orang percaya harus bergumul mengenal Tuhan secara lengkap dan mengalami Tuhan secara nyata untuk dapat mengerti kehendak-Nya serta melakukannya.

Hal ini kebalikan dari apa yang dipahami selama ini oleh banyak orang Kristen, seakan-akan dengan memercaya secara nalar bahwa Tuhan Yesus adalah Juru Selamat, berarti sudah dibenarkan. Kristenanan menjadi begitu dangkal dan miskin. Tidak ada keagungan dan keluar biasaannya. Jika kekristenan hanya demikian, maka kekristenan menjadi lebih buruk dan sangat tidak berkualitas dibanding banyak agama-agama lain. Orang Kristen hanya merasa bangga bahwa menjadi Kristen memiliki cara mudah masuk surga dan cara mudah menjadi anak Allah. Padahal hanya orang-orang yang memiliki

sikap hati dan langkah hidup seperti Abraham yang menjadi anak-anak Abraham. Orang-orang Yahudi yang berusaha membunuh Tuhan Yesus dikatakan sebagai bukan anak Abraham, sebab kalau mereka anak Abraham pasti mereka bertindak seperti Abraham.2 Kalau ada orang-orang Kristen yang tidak mau mengerti misi utama yang dibawa oleh Tuhan Yesus -tetapi berkeras dengan gairah duniawi dalam dirinya- berarti ia bukan anak Abraham. Abraham adalah sosok yang berjiwa musafir dan menujukan hidupnya hanya untuk menerima negeri yang Allah janjikan. Semua itu dilakukan Abraham sebagai sikap ketertundukkannya kepada Allah sebagai Majikan Agungnya.

1) Kejadian 22:1-3 ; 2) Yohanes 8:39

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.