18. KESAMAAN UNSUR

Dalam Roma 12:2, tertulis bahwa mengerti kehendak Allah didahului dengan keadaan seseorang yang harus berubah menjadi “tidak sama dengan dunia ini”. Kalau tidak sama dengan dunia berarti sama dengan Allah. Pengertian kata “mengerti kehendak Allah” dalam Alkitab hendaknya tidak hanya dipahami sebagai “tahu”, tetapi juga berarti bisa menjadi satu chemistry, satu spirit, satu gairah dan satu kehendak, karena manusia hanya memiliki dua kemungkinan, yaitu menjadi sama dengan Allah atau sama dengan Iblis. Jadi, mengerti kehendak Allah bukan hanya usaha untuk tahu apa yang diingini Tuhan tetapi juga satu chemistry, satu spirit, satu gairah dan satu kehendak dengan Tuhan. Dalam hal ini kita mengerti bagaimana Iblis meracuni pikiran manusia, yaitu agar orang Kristen tidak bisa sepikiran dengan Allah lagi.

Di taman Eden, Ular membujuk manusia untuk “tahu” apa yang baik dan jahat bukan dari perspektif Allah, tetapi dari perspektif yang lain. Adam dan Hawa telah menerima banyak masukan yang tidak membangun cara berpikir Allah, tetapi cara berpikir yang lain. Hal ini membuat manusia tidak bisa berpikir dan berperasaan seperti Allah. Hal ini juga yang dilakukan oleh kuasa jahat hari ini, yang memasukkan berbagai masukan dalam pikiran seseorang agar tidak pernah memiliki sifat atau karakter Roh Kudus. Dengan demikian seseorang tidak pernah memiliki kehidupan menurut roh. Hal ini sama dengan tidak pernah memiliki nurani Ilahi.

Dalam Perjanjian Baru, hal inilah yang ditakutkan oleh Paulus sehingga ia menulis: Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya (2Kor. 11:3). Allah bukan saja menghendaki kita mengerti nilai-nilai moral, tetapi mengerti kehendak Allah. Iblis membujuk manusia hanya sampai mengerti nilai-nilai moral, tetapi bukan kehendak Allah, itulah sebab manusia meleset, sehingga kehilangan kemuliaan Allah. Iblis menjatuhkan manusia pada taraf di mana manusia tidak bisa mengerti kehendak Allah, tetapi manusia tetap tahu apa yang baik dan buruk menurut ukuran norma atau kehendak Tuhan secara terbatas.

Manusia hanya jatuh sampai taraf tidak bisa mengerti kehendak Allah, tetapi manusia masih berbuat baik. Contoh yang jelas mendukung hal ini terdapat dalam kisah Kain dan Habel. Dalam Kejadian 4:6-7 Firman Tuhan kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Tuhan menunjukkan bahwa manusia masih bisa berbuat baik, tetapi manusia tidak bisa sempurna seperti Bapa. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus hendak mengembalikan manusia untuk memiliki kesempurnaan seperti yang dirancang Bapa. Kesempurnaan itu adalah manusia memiliki hati nurani yang sama seperti Allah atau dengan kata lain memiliki kesamaan unsur dengan Allah. Hal inilah yang memampukan manusia bisa bertindak seperti Allah bertindak.

Kesamaan unsur dengan Allah inilah yang membangun persekutuan yang luar biasa dengan Tuhan. Persekutuan yang hebat ini ditunjukkan oleh Tuhan Yesus dalam doa-Nya dalam Yohanes 17:20-21 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Hanya orang-orang yang bisa satu chemistry dengan Tuhan yang diperkenankan masuk ke dalam persekutuan yang sangat intim. Inilah hal yang sangat dirindukan oleh Tuhan, di mana anak-anak-Nya mendapat bagian dalam kekudusan-Nya karena mengenakan kodrat Ilahi. Orang percaya yang mengalami pembaharuan roh, artinya sifat rohnya diubahkan sehingga sama seperti sifat Roh Kudus, berarti telah memiliki hati nurani Ilahi. Inilah kesamaan unsur yang dikehendaki oleh Allah dimiliki setiap orang percaya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.