18. KEPEMILIKAN TUHAN

Harus selalu diingat, karena manusia adalah makhluk ciptaan, manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, maka manusia tidak mungkin tidak dimiliki oleh pihak lain. Manusia tidak akan pernah berhak atas dirinya sendiri. Kalau manusia bisa menciptakan dirinya sendiri, maka manusiaberhak memiliki dirinya sendiri. Karena manusia diciptakan oleh pihak di luar dirinya, maka manusia tidak berhak atas dirinya. Tetapi persoalannya adalah, siapa yang memiliki manusia? Apakah Tuhan yang memiliki, yaitu Tuhan yang menciptakan manusia, atau pihak lain dimana manusia menjual dirinya atau menyerahkan dirinya?

Prinsip penting mengenai hukum kepemilikan kehidupan manusia sejak penciptaannya adalah: Kepada siapa manusia menaati, kepadanya manusia dimiliki. Walaupun Adam diciptakan oleh Tuhan dan secara hukum adalah milik Tuhan, tetapi manusia pertama diberi kebebasan apakah memberi diri dimiliki oleh Tuhan atau dimiliki oleh pihak lain. Dalam hal ini nyata adanya kehendak bebas (Lat. Liberum arbitrium) dalam kehidupan manusia. Jadi, sangatlah keliru kalau takdir manusia ditentukan oleh pihak di luar manusia. Tetapi yang benar adalah keadaan manusia ditentukan oleh keputusan dan pilihan manusia itu sendiri.

Allah tidak memaksa Adam untuk memberi diri dimiliki oleh Tuhan. Tuhan memberi kebebasan kepada manusia untuk sepenuhnya dimiliki oleh Tuhan, atau tidak. Dimiliki sepenuhnya oleh Tuhan artinya dalam segala yang diingini dan dilakukan oleh manusia selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tetapi jika manusia menuruti keinginan pihak lain di luar Allah berarti manusia melepaskan dirinya dari kepemilikan Tuhan. Sebenarnya hal ini sama dengan sebuah pemberontakan. Dalam hal ini manusia selalu dalam keadaan harus memilih, yaitu menjadi sekutu Tuhan, berarti hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, atau menjadi sekutu yang lain dengan kehidupan sesukanya sendiri.

Kepada keinginan atau kehendak siapa manusia menuruti, manusia akan dimiliki atau dikuasainya. Firman Tuhan mengatakan: Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa (Rm. 7:14). Kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak selalu atau tidak pasti selalu berdampak manusia menjadi bejat seperti binatang, tetapi manusia tidak mampu lagi mencapai standar kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Manusia meleset (Yun. hamartia) dari standar kesucian yang sebenarnya Allah kehendaki. Kepemilikan Tuhan atas manusia secara benar ialah ketika manusia mengambil bagian dalam kekudusan Bapa, atau mengenakan kodrat Ilahi. Ketika manusia tidak hidup dalam kesucian Allah, maka manusia tidak berada didalam pemilikan Tuhan secara benar.

Seharusnya manusia hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Dengan cara hidup demikian, manusia dimiliki oleh Tuhan secara penuh. Tetapi ketika manusia tidak melakukan kehendak Allah, yaitu ketika manusia memilih jalannya lain yang ditawarkan oleh kuasa kegelapan, maka manusia menjual dirinya menjadi milik pihak lain. Inilah yang dilakukan oleh Adam, manusia pertama. Manusia lebih menuruti Iblis daripada menuruti Tuhan (Kej. 3). Hal ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita yang hidup di zaman akhir ini. Kita harus memilih di pihak siapa kita berdiri dan hidup. Di pihak Tuhan atau di pihak setan. Orang yang tidak memilih, pasti di pihak musuh Allah.

Orang yang tidak hidup dalam kepemilikan Tuhan secara benar, masih membuka peluang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Memang manusia tidak selalu atau pasti menjadi bejat seperti manusia biadab yang tidak beradab atau seperti binatang, tetapi manusia masih memiliki peluang untuk memiliki sebagian hidupnya guna melakukan apa yang menurut dirinya sendiri baik. Umat Perjanjian Lama belum bisa dikembalikan ke rancangan semula, karena belum mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus. Itulah sebabnya merekabelum bisa dituntut untuk dapat mengembalikan segenap hidupnya bagi Tuhan. Mereka baru dapat mengembalikan milik dalam jumlah persentase tertentu. Tetapi berbeda dengan umat Perjanjian Baru yang harus menyadari bahwa segenap hidupnya adalah milik Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.