18 Januari 2015: Mempresentasikan Bapa

Tuhan Yesus berkata: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.1 Kata melihat dalam teks aslinya adalah horao (ὁράω). Kata horao lebih memiliki pengertian melihat dengan pikiran (to see with the mind, to perceive). Sedangkan kata “tunjukkanlah” dalam teks aslinya adalah deiknuo (δείκνυω) berarti usaha untuk melihat dengan mata yang terbuka lebar-lebar guna menemukan bukti. Dalam hal ini Filipus mewakili murid-murid yang lain menginginkan suatu bukti fisik atas keberadaan dan kehadiran Bapa. Hal mana tidak mungkin bisa dijawab sebab Allah adalah Roh.2 Pada waktu itu pengertian murid-murid mengenai Bapa dan pribadi Anak Tunggal-Nya masih sangat dangkal. Mereka berpikir bahwa Allah Bapa memiliki wujud seperti manusia yang dapat ditemui dengan mudah dan mereka berpikir bahwa mereka dapat dengan mudah menemui-Nya. Ini adalah pikiran picik. Allah adalah roh; setiap orang yang mau menyembah Dia harus menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran.

Tuhan Yesus adalah pribadi Anak Allah yang merepresentasikan Bapa; sebab selamanya Allah Bapa tidak kelihatan. Melalui Tuhan Yesus Kristus Bapa menyatakan diri dan kehendak-Nya. Dalam hal ini betapa sentralnya kehadiran Anak Allah dalam kehidupan manusia. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan: Sebab barangsiapa menyangkal Anak, ia juga tidak memiliki Bapa. Barangsiapa mengaku Anak, ia juga memiliki Bapa.3 Dengan demikian tidak ada kebenaran dan keselamatan di luar Tuhan Yesus Kristus. Dalam penciptaan alam semesta ini Bapa mempercayakannya kepada Anak Tunggal-Nya.4 Sungguh merupakan kasih karunia yang tidak ternilai kalau kita dapat mengenal Tuhan Yesus sebagai Anak Allah dan menerima sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta ini.

Dalam percakapan Tuhan dengan murid-murid-Nya dalam Yohanes 14:1-11 ada sambungan yang putus. Murid-murid ingin melihat Bapa secara fisik sedangkan Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa yang penting bagi mereka adalah mengerti semua yang dikatakan atau diajarkan oleh Tuhan Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya orang ingin mendapatkan jalan mudah untuk mengalami anugerah dari Tuhan. Anugerah tersebut bisa berupa berkat-berkat jasmani maupun keselamatan atau berkat kekal. Biasanya agama-agama di dunia menawarkan jalan untuk memperoleh berkat-berkat dengan dua hal yaitu upacara agama (seremonial atau liturgi) dan peraturan atau hukum. Tetapi keselamatan dalam Tuhan Yesus tidaklah demikian. Keselamatan dalam Tuhan Yesus adalah memahami jalan hidup (Yun. hodos) dalam kebenaran (Yun. alitheia) sehingga kebenaran dapat terperagakan dalam hidup secara konkrit (Yun. zoe). Orang yang memiliki keselamatan dalam Tuhan Yesus pasti memiliki gaya hidup yang berbeda dengan mereka yang tidak memiliki keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus.

Jalan menuju rumah Bapa adalah jalan yang sukar. Hal ini sangatlah bertolak belakang dengan pengertian banyak orang Kristen hari ini. Banyak orang Kristen yang memandang bahwa Tuhan Yesus adalah jalan tol untuk mencapai rumah Bapa dan memperoleh segala berkat. Sehingga dikesankan dengan sangat kuat bahwa menjadi orang Kristen berarti mendapatkan kemudahan hidup di bumi ini dan kemudahan masuk surga. Pada hal kekristenan adalah jalan yang sukar untuk mencapai rumah Bapa, dituntut perjuangan yang sangat berat bagi orang percaya. Murid-murid mengharapkan ada jalan tol mencapai rumah Bapa, tetapi Tuhan Yesus menunjukkan bahwa diri-Nyalah jalannya. Tuhan Yesus menjadi jalan berarti hanya dengan mengikuti pengajaran dan cara hidup-Nya seseorang beroleh keselamatan. Untuk ini mutlak bahwa orang percaya harus menguasai ajaran Tuhan Yesus dan hidup-Nya.

1) Yohanes 14:9 2) Yohanes 4:24; 3) 1Yohanes 2:23 4) Yohanes 1:1-3.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.