18. Hati Nurani Yang Terbeban

HATI NURANI ATAU suara hati lebih bersifat subyektif, maksudnya bahwa hati nurani kita sangat dipengaruhi oleh “diri sendiri” (yaitu yang menurut “aku” baik atau buruk). Suara hati mencerminkan segala pengertian dan prasangka masing-masing individu, sehingga jelas merupakan “sesuatu yang bersumber pada diri sendiri”. Dalam hal ini kita tidak boleh mengidentifikasikan dan mengidentikkan hati nurani dengan suara Allah. Walaupun hati nurani tidak dapat diidentikkan dan tidak boleh diidentifikasikan sebagai suara Allah tetapi hati nurani berhubungan dengan “yang Ilahi” sebab komponen itu memang dari Allah dan diharapkan dapat se “chemistry” atau sewarna dengan Allah, sehinggta subyektifitasnya dapat dipercaya.

Kalau hati nurani digarap dengan benar, maka menjadi hati nurani yang se “chemistry dengan Allah”, ini disebut sebagai nurani Ilahi. Tetapi kalau tidak digarap dengan baik menjadi jahat. Orang yang hati nurani yang berkelas “Ilahi” tidak membutuhkan hukum atau peraturan untuk memiliki kelakuan yang baik. Tidak perlu diancam hukuman untuk melakukan hukum, sebab “polisi“ ada di dalam dirinya sendiri.1 Kalaupun seseorang berbuat baik, bukan hanya karena ancaman neraka, tetapi hati nuraninya memang terbentuk demikian yaitu tidak bisa berbuat salah. Dalam Roma 13:5 Paulus menulis kalimat ini: Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.

Oleh karena hati nurani belum tentu bisa mewakili suara Allah maka hati nurani belum tentu dapat selalu dipercaya. Belum tentu suara hati nurani sesuai dengan pertimbangan dan keputusan Allah, oleh sebab itu hati nurani harus tunduk pada otoritas firman Allah dan pengadilan Allah. Bagi orang pilihan Allah yang direncanakan Allah untuk sempurna, harus selalu mempertimbangkan kemungkinan kesalahan pada suara hati nuraninya. Menyadari hal ini, maka orang percaya tidak boleh berhenti dalam memperbaharui pikiran dan hatinya, sampai makin memiliki pengertian seperti pengertian Allah. Sehingga suara hati dapat mewakili suara Allah dan segala pertimbangan dan keputusannya sesuai dengan yang Allah inginkan. Ini barulah tidak meleset. Inilah yang disebut dengan hati nurani yang murni, yaitu keberadaan manusia batiniah yang tidak menyimpan niat kejahatan. 2 Keberadaan hati nurani yang murni ini membuat seseorang memiliki beban yang tulus terhadap keselamatan jiwa orang lain. Seperti Tuhan juga tidak menghendaki seorang pun binasa, Ia akan rela mengorbankan apa pun demi keselamatan jiwa orang lain.3 Orang-orang seperti ini melayani bukan karena upah atau imbalan yang disediakan. Di dalam dirinya ada “beban” dan irama melayani. Hati nurani yang terbeban bagi keselamatan jiwa orang lain ini berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ia rela kebebasannya terampas demi supaya menjadi berkat bagi sesama.4

Dalam proses pembentukan hati nurani, yang memegang peranan adalah jiwa. Unsur yang masuk dalam jiwa yang menentukan kualitas jiwa, dan kualitas jiwa menentukan keselamatan hati nuraninya. Kalau unsur-unsur dunia atau dari kuasa jahat yang masuk ke dalam jiwa, maka hati nuraninya rusak. Unsur-unsur dunia adalah keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup.5 Ini sama dengan percintaan dunia atau mengasihi dunia.6 Hal inilah yang menyeret jiwa dan roh ke dalam kegelapan abadi. Itulah sebabnya dikatakan dalam Firman-Nya bahwa bukan tanpa alasan kalau Kitab Suci berkata: “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!”. 7 Allah mengingini roh yang keluar dari diri-Nya yang ada pada manusia dapat kembali kepada-Nya. Kalau hati nurani seseorang baik, maka roh atau neshamahnya menjadi bersih atau kudus sehingga dilayakkan menerima kemah baru; kembali kepada Bapa dalam Kerajaan Surga.

1) Roma 2:15; 2) Kisah 23:1; 24:16; 2Korintus 1:12; 3) Roma 9:1-3; 4) 1Korintus 10:25-29; 5) 1Yohanes 2:15-17; 6) Yakobus 4:1-4; 7) Yakobus 4:5

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.