18. Finalitas Kristus

DALAM MENATAP DENGAN mata tajam kepada setiap pokok ajaran Alkitab, seseorang haruslah memiliki sikap hati yang hormat terhadap kebenaran Alkitab. Maksudnya, bahwa peneliti Alkitab harus tetap menjunjung tinggi kewibawaan Alkitab yang diakui sebagai kitab yang tidak dapat salah. Alkitab satu-satunya landasan berpikir teologis, bahkan seluruh gerak nalar. Di dalam Alkitab, kita dapat menemukan pikiran dan perasaan Tuhan yang menjadi kapital untuk menemukan kehendak-Nya, dalam konteks kehidupan riil hari ini. Kita harus berani berkata “tidak” untuk ketidakbenaran dan “ya” untuk kebenaran, walaupun konsekuensi logisnya kebenaran yang dipaparkan dicurigai.

Satu hal yang tidak bisa ditawar adalah bahwa keselamatan dalam Kristus adalah final, artinya tidak bisa diganggu gugat. Orang percaya harus memahami dengan benar finalitas Kristus. Finalitas berasal dari kata bahasa Inggris: finality yang artinya quality of being final: the quality, state, or condition of being concluded or decided, permitting no further progress or development. Kata finality bisa juga berarti final action: an act, belief, or statement that is final. Jadi, finalitas Kristus artinya ketegasan akhir atau final dalam bersikap terhadap nilai karya keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus. Maksudnya adalah sikap, pandangan atau prinsip yang tidak dapat diubah; bahwa jalan keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus di bukit Kalvari adalah jalan keselamatan yang tidak ada tandingannya; bahwa karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus adalah jalan satu-satu bagi manusia untuk memperoleh apa yang disediakan Allah dalam proses penyelamatan melalui Injil yang adalah kekuatan Allah.1 Berkat yang tersedia di dalamnya antara lain:

Pertama, pemulihan hubungan manusia dengan Allah yang telah putus. Dalam hal ini manusia yang terhilang dapat ditemukan kembali. Manusia dimungkinkan untuk kembali bersekutu dengan Tuhan. Ini adalah sebuah hubungan eksklusif dengan Sang Khalik yang tidak akan ditemukan dalam agama dan ajaran mana pun.2

Kedua, dipulihkannya gambar Allah yang rusak (restitutio imaginis Dei), sehingga manusia disempurnakan dalam karakter (character building). Penyempurnaan ini bukan saja membuat seseorang “mirip Yesus”, tetapi memasuki proses “mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar”,3 sampai pada fase atau tingkat “mengenakan kehidupan Yesus” atau sekarakter dengan Tuhan Yesus.4

Ketiga, terhindarnya manusia dari api kekal, dan diperkenan masuk surga.5 Sesungguhnya hal ini bukanlah keselamatan itu sendiri, tetapi buah keselamatan. Adapun keselamatan adalah usaha Tuhan memulihkan manusia menjadi sosok seperti yang Dia kehendaki (inilah pemulihan gambar Allah tersebut). Dan keselamatan orang percaya harus bukan saja membawa kepada kehidupan yang akan datang, tetapi memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus atau dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus.

Keempat, bagi umat pilihan yang memasuki proses kesempurnaan atau pendewasaan, buah keselamatan lebih dari sekadar terhindar dari api kekal, tetapi juga dipermuliakan bersama-sama dengan Yesus atau memerintah bersama Yesus dalam kerajaan-Nya.6

Pembahasan mengenai finalitas Kristus perlu dilakukan dan terus diselenggarakan, mengingat atau sehubungan dengan berkembangnya berbagai pandangan sekitar soteriologi dalam Yesus Kristus yang mulai bergeser dari nilai-nilai konservatif yang seharusnya tetap dipertahankan, demi kemurnian Injil. Hal ini bukan berarti kita harus mempertahankan segala sesuatu yang berbau konservatif, tetapi kebenaran mengenai karya keselamatan yang dilakukan Kristus di kayu salib adalah final; bahwa keselamatan yang dapat diperoleh manusia hanya ada pada Yesus Kristus.7 Kebenaran ini adalah kebenaran mutlak yang tidak dapat direduksi (dikurangi) nilainya. Orang percaya harus tetap mengklaim bahwa Yesus Kristus sebagai Tuhan dan penyelamat satu-satunya bersifat mutlak. Tidak ada keselamatan di luar Kristus.

1)Roma 1:16-17 ; 2) Yohanes 17:20-21; 3) Filipi 2:12 ; 4) Galatia 2:19-20; Kolose 3:1-4 ; 5) Yohanes 3:16; Roma 6:23 ; 6) Matius 20:23; Lukas 22:29; Roma 8:17, 30 dll ; 7) Yohanes 14:6; Kisah 4:12

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.