18 Desember 2014: Menjaga Hati Dari Pesta Pora

Paulus dalam suratnya mengingatkan bahwa hari-hari ini adalah jahat (Ef. 5:16). Yang jahat adalah suasana atau atmosfirnya. Melalui berbagai sarana Iblis berusaha memengaruhi manusia menjadi manusia yang tidak takut Tuhan dan tidak memedulikan hukum-Nya atau manusia menjadi semakin jahat. Pengaruh-pengaruh jahat bisa melalui pergaulan yaitu gaya hidup manusia di sekitarnya yang memberi pengaruh yang kuat sekali, melalui film, lagu-lagu yang didengar dan lain sebagainya. Iblis memiliki banyak cara untuk mewarnai hidup manusia agar gagal menjadi anak Tuhan yang baik. Mengantisipasi keadaan dunia jahat di akhir zaman ini Tuhan Yesus mengajarkan dalam Lukas 21:34-36 agar orang percaya menjaga hati supaya tidak sarat dengan pesta pora. Maksudnya tidak sarat dengan pesta pora di sini adalah agar orang percaya tidak hanyut dengan segala kesenangan hidup sampai mengabaikan hal pertumbuhan kedewasaan rohani. Pertumbuhan kedewasaan rohani artinya menjadi semakin berkenan kepada Tuhan. Orang yang sarat dengan pesta pora artinya mencari kesenangan bagi dirinya sendiri tidak akan berusaha untuk mencari perkenanan Tuhan. Mereka hanya mencari kesenangan bagi diri sendiri dari hari ke hari sampai mereka tidak memiliki kemampuan dan hasrat untuk menyenangkan hati Tuhan. Orang seperti ini sampai tua tidak bisa diubah lagi. Banyak orang yang hidupnya hanya diisi dengan berbagai kegiatan yang menyenangkan hati makan minum dan pesta-pesta tetapi kalau untuk belajar Alkitab (Pendalaman Alkitab), kebaktian doa dan lain-lain tidak mau hadir. Kalau untuk pesta ulang tahun, shopping, menghadiri pesta perkawinan dan berbagai pesta lain, kuliner, nonton suatu pertunjukan baik film, konser dan lain sebagainya mereka hadir. Dalam hal ini Tuhan diperlakukan tidak lebih berharga dari hal-hal tersebut. Mereka bisa menginvestasikan waktu begitu banyak untuk hal lain, tetapi tidak untuk perkara-perkara rohani. Hal ini sudah memberi peta kehidupan yang jelas bahwa mereka yang tidak layak menjadi anak-anak Allah. Orang-orang seperti di atas ini pasti terbawa pengaruh kejahatan dunia. Mereka memiliki banyak alasan untuk tidak menyediakan waktu untuk Tuhan di antaranya untuk belajar Alkitab dan berdoa. Mereka merasa bahwa dirinya sudah baik dan tidak melakukan pelanggaran moral, padahal mereka belum berkenan kepada Tuhan. Harus diingat bahwa Tuhan menghendaki agar orang percaya untuk menjadi sempurna artinya berkenan kepada Tuhan (Mat. 5:48). Biasanya orang yang hanya mencari kesenangan diri sendiri menjadi egois. Dalam Lukas 16:19-31 dikisahkan mengenai orang kaya yang selalu berpesta. Ketika Lazarus yang miskin tergeletak di depan rumahnya, orang kaya ini membiarkan Lazarus mati. Ia tidak berbuat kebaikan untuk sesamanya. Akhirnya orang kaya ini juga mati tetapi ia tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Inilah keadaan manusia di akhir zaman yaitu mencintai dirinya sendiri (2Tim. 3:2). Mereka tidak dapat meneladani kehidupan Tuhan Yesus yang menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Mereka tidak dapat melayani Tuhan. Inilah keadaan manusia di akhir zaman dimana kasih kebanyakan orang menjadi dingin (Mat. 24:12). Mereka mungkin juga berkorban bagi Tuhan tetapi yang diberikan kepada Tuhan hanya sisa-sisa atau remah-remahnya saja. Jangan sampai hal ini terjadi di dalam hidup kita, sebab kita akan malu dan takut menghadap Tuhan nanti. Kesempatan untuk menghindarkan diri dari api kekal harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jika tidak, api kekal yaitu keadaan terpisah dari Allah menjadi bagiannya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.