17. TELAH DIBELI DENGAN LUNAS

Dalam kehidupan umat Perjanjian Baru, dinyatakan dengan sangat tegas bahwa orang percaya sebagai anak tebusan adalah milik Tuhan, sebab orang percaya sudah dibeli dengan harga yang lunas di bayar. Dalam 1Korintus 6:19-20 tertulis: …Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!Hal ini harus mendasari seluruh tindakan persembahan kita kepada Tuhan. Jadi, dasar atau landasan persembahan kepada Tuhan bukan jumlah atau persentasenya.

Dalam teks aslinya kalimat dalam “kamu telah dibeli dan harganya telah lunas terbayar”, terjemahan aslinya adalah egorasthete gar times (ἠγοράσθητε γὰρ τιμῆς). Egorasthete dari akar kata agorazo (ἀγοράζω), artinya membeli dalam hubungan atau keterkaitannya dengan perdagangan. Kata dibeli berbicara mengenai sebuah barter atau pertukaran. Adapun kata times (τιμῆς) adalah harga. Kalimat “kamu telah dibeli dan harganya telah lunas terbayar”, sebenarnya dari teks aslinya bisa diterjemahkan dengan kalimat pendek “kamu telah dibeli dengan sebuah harga”. Tentu kalau sudah dibeli dengan suatu harga berarti telah lunas dibayar. Sebagaimana kalau sebuah barang telah dibayar lunas, maka si pembelilah yang berhak sepenuhnya atas barangtersebut.

Hal ini penting untuk selalu diingat, bahwa kita tidak diperoleh dan dimiliki oleh Tuhan Yesus secara gratis, Tuhan Yesus harus membayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu Diri-Nya sendiri. Petrus mengatakan bahwa darah-Nya sangat mahal menebus kita (1Ptr. 1:18-19). Tentu tidak ada sarana atau cara lain untuk dapat membeli manusia agar dapat dimiliki oleh Tuhan,selain dengan darah-Nya. Sebelum ditebus oleh darah Yesus kita adalah budak dosa, tetapi setelah ditebus oleh darah Yesus, maka kita telah menjadi milik Tuhan. Hal ini sejajar atau paralel dengan sejarah hidup bangsa Israel yang telah dibebaskan dari perbudakan bangsa Mesir oleh tangan Tuhan yang kuat. Itulah sebabnya Tuhan selalu mengingatkan bangsa Israel atas peristiwa pembebasan mereka dari perbudakan bangsa Mesir. Dalam pernyataan-Nya, Elohim Yahwe mengatakan berulang-ulang: Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Dengan peringatan ini, dimaksudkan agar bangsa Israel selalu dalam kesadaran bahwa hanya Elohim Yahwe yang berhak atas mereka. Oleh sebab itu, tidak boleh ada alah lain di hadapan-Nya.

Dalam suratnya kepada jemaat Roma, Paulus juga mengingatkan mengenai hal ini dengan kalimat: Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu. Demi kemurahan Allah artinya bahwa Allah sudah terlebih dahulu berkemurahan kepada kita. Tentu saja kemurahan Allah adalah pemberian Putra Tunggal-Nya untuk menebus dosa-dosa manusia. Demi kemurahan Allah berarti bahwa Ia telah menebus kita dari perbudakan dosa, bukan karena jasa dan kebaikan kita. Inilah yang disebut sebagai kasih karunia atau anugerah.

Penebusan kita dari pemilikan kuasa yang lain bukan sesuatu yang sederhana. Anak Allah harus menjadi manusia, mengosongkan Diri yang dalam segala hal harus disamakan dengan manusia. Dalam keadaan sebagai manusia, Yesus harus menghadapi berbagai pencobaan untuk membuktikan ketaatan dan penghormatan-Nya kepada Bapa di surga. Ia harus taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Jika tidak, maka Ia tidak dapat menjadi Penebus bagi kita. Hal ini adalah perjuangan yang sangat berat. Kalau Yesus gagal melakukan kehendak Bapa dan tidak memenuhi rencana-Nya, Yesus tidak dapat menjadi Penebus. Ini berarti semua kita binasa. Dalam fakta kehidupan ini, Yesus telah berhasil menaati Bapa dan menghormati Bapa secara patut, sehingga Ia dapat menjadi Juruselamat.

Perjuangan dan pengorbanan Yesus dilakukan untuk dapat menebus dan memiliki kita. Harus selalu kita ingat, bahwa keselamatan kita tidaklah berharga murah, tetapi sangat mahal. Harganya adalah Diri Yesus sendiri. Dengan menghayati hal ini, maka kita akan lebih bersedia untuk melakukan kehendak Bapa dan hidup sepenuhnya bagi Dia, serta kerelaan untuk dimiliki Tuhan. Sehingga hidup kita hanya untuk kepentingan Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.