17. Philotimeomai

FAKTA YANG TIDAK dapat dibantah adalah bahwa seseorang bisa menolak pimpinan Roh Kudus. Jika seseorang yang dipimpin Roh Kudus tidak bisa menolak pimpinan-Nya, maka tidak perlu pembiasaan untuk hidup menurut kehendak Roh Kudus. Pembiasaan tersebut menunjukkan bahwa seseorang harus berlatih untuk hidup sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Dalam berlatih atau belajar membiasakan diri hidup sesuai dengan kehendak Roh Kudus, kehendak bebas seseorang harus digunakan dengan maksimal agar bisa hidup sesuai dengan kehendak Allah. Hendaknya kita tidak berpikir kalau seseorang dipimpin Roh Kudus, maka ia tidak bisa menolak atau memberontak terhadap pimpinan-Nya. Harus tetap diingat bahwa baptisan Roh Kudus hendak menunjukkan keadaan dimana manusia dimungkinkan kembali untuk mencapai kesucian Allah. Baptisan Roh Kudus menunjuk suatu kemampuan yang diberikan manusia untuk menjadi manusia seperti yang dirancang Allah sejak semula. Baptisan Roh Kudus tidak otomatis membuat seseorang menjadi sempurna atau selamat.

Jika seseorang tidak bisa menolak atau memberontak terhadap pimpinan-Nya berarti manusia menjadi “robot” dan kehilangan kebebasan memilih. Firman Tuhan mengatakan bahwa jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.1 Kata “jika kita hidup oleh Roh “dalam teks aslinya adalah ei zomen pneumati (eἰ ζῶμεν πνεύματι). Hidup oleh Roh berarti telah memiliki pimpinan Roh atau sudah dibaptis oleh Roh Kudus atau sama dengan telah memiliki potensi untuk hidup sesuai dengan kesucian Allah. Kata dipimpin atau memimpin dalam teks aslinya adalah stoikheo (στοιχέω). Kata ini selain berarti berjalan seirama juga berarti setuju dengan (agree with) dan mengikut (follow). Dalam kata stoikomen tersebut terdapat unsur adanya pihak-pihak yang harus berjalan seirama atau sinkron, seperti sebuah proses baris-berbaris. Dalam hal ini Roh Kudus tidak mengatur kaki hidup (kehendak) kita untuk seirama dengan diri-Nya. Kita sendiri yang harus mengatur kaki hidup kita untuk seirama dengan kehendak Roh Kudus. Inilah proses sinkronisasi, kita sendiri yang harus menyesuaikan

diri terhadap kehendak Roh Kudus, bukan sebaliknya.

Bagaimanapun, manusia tidak pernah kehilangan kehendak bebasnya, sebab manusia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Paulus sendiri -walau sudah menjadi rasul- tetap berusaha untuk berkenan kepada-Nya. Untuk berkenan kepada Tuhan, kita harus mengusahakannya sendiri, bukan karunia.2 Dalam teks aslinya kata “berusaha” adalah philotimeomai (φιλοτιμέομαι) yang selain berarti berusaha juga berarti berambisi dengan kuat. Dalam teks Alkitab bahasa Inggris ada yang menerjemahkan: Therefore also we have as our ambition, whether at home or absent, to be pleasing to Him. Kata berusaha dalam teks ini menunjukkan adanya “niat” dari individu untuk melakukan kehendak Allah, bukan kehendaknya sendiri. Niat atau ambisi tersebut lahir dari diri sendiri.

Kisah dalam Kejadian 6:1-4 menunjukkan bahwa sekalipun Roh Kudus menuntun manusia, tetapi tanpa Injil manusia tidak dapat memenuhi tuntutan kesucian Allah. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, seperti yang terdapat dalam Roma 1:16-17, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman”. Dapat disimpulkan bahwa tanpa kebenaran Injil tidak mungkin seseorang selamat (dikembalikan ke rancangan semula Allah). Demi adanya Injil, maka selama tiga setengah tahun dengan tiada henti Tuhan Yesus mengajarkan isi Injil kepada bangsa Israel. Selanjutnya demi keselamatan bisa dialami banyak orang sampai ke ujung bumi, maka orang percaya harus mengajarkan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus.3 Tanpa menerima dan mengerti apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, seseorang pasti tidak selamat.

1) Galatia 5:25 ; 2) 2Korintus 5:9-10 ; 3) Matius 28:19-20

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.