17. MERASA ASING

DALAM KITAB IBRANI 11: 9 tertulis, “Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu”. Dalam ayat ini Abraham sengaja membawa dirinya sebagai orang asing, walau sebenarnya ia bisa hidup tidak sebagai orang asing di negerinya sendiri. Tetapi dalam memenuhi panggilan Allah yang dipercayainya,ia rela melakukan hal tersebut. Dalam pandangan mata manusia pada zamannya, langkah Abraham benar-benar konyol. Orang-orang sebangsanya akan mengatakan: apa yang kamu harapkan dari cara hidupmu ini? Apa yang kamu harapkan dari Allah yang kamu sembah? Tetapi inilah kehidupan Abraham sebagai orang yang terpanggil dengan iman, yang menjadi pola kehidupan iman orang percaya.

Banyak orang Kristen memisahkan “iman” yang dimaksud dalam Roma 4:9 dan banyak kata “iman” dalam kitab Roma dengan kehidupan Abraham. Mereka memahami jenis iman sebagai percaya secara akali bahwa Tuhan Yesus adalah Juru Selamat. Oleh karya salib yang dikerjakan, asal seseorang memercayai fakta tersebut, berarti ia sudah menerima penebusan dan keselamatan. Padahal iman yang dimaksud oleh Paulus dalam kitab Roma adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Hal ini menuntut pertaruhan segenap hidup, bukan hanya sebuah aktivitas pikiran atau langkah dalam akal pikiran. Seperti percayanya Abraham bukan hanya sebuah persetujuan pikiran, tetapi tindakan yang menuntut segenap hidup untuk diubahkan dan diserahkan sepenuhnya bagi pemenuhan panggilan yang Tuhan berikan.

Anak-anak Allah harus mengenakan iman Abraham, dalam hal ini orang percaya harus berani membawa dirinya sebagai orang asing di bumi di tengah-tengah lingkungannya.1 Inilah hal yang tidak sanggup dilakukan oleh banyak orang Kristen hari ini. Mereka tidak berkeberatan menjadi Kristen, aktivis jemaat bahkan menjadi pendeta, tetapi untuk menjadi orang asing di bumi mereka sangat tidak bersedia. Banyak orang sudah merasa nyaman hidup. Mereka tidak berani memiliki irama hidup yang lain. Mereka tidak yakin bahwa irama hidup yang baru itu bisa membahagiakan dan menguntungkan. Mereka secara tidak langsung meragukan Tuhan dan penyelamatan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang memandang Tuhan penipu, seakan-akan Tuhan tidak sungguh-sungguh memberi yang terbaik bagi mereka. Ini berarti mereka tidak dapat dihisabkan sebagai orang percaya.

Untuk memiliki irama hidup yang baru ini, seseorang harus berani melangkah memercayai pribadi Tuhan, bahwa apa yang disediakan Tuhan lebih baik dari apa pun yang dapat kita peroleh dari dunia ini. Hanya dengan keberanian ini seseorang rela melepaskan segala sesuatu dan dapat memperoleh Kristus.2 Dalam hal ini percaya adalah tindakan barter. Tidak ada percaya tanpa pertaruhan. Tidak ada percaya tanpa ada yang harus dilepaskan. Percaya tanpa melepaskan segala sesuatu menunjukkan usaha untuk memperdaya Tuhan. Tetapi percaya dengan melepaskan segala sesuatu berarti langkah untuk hidup dalam penurutan dan ketertundukan kepada Allah. Tidak heran dengan percaya seperti ini, Abraham rela menyembelih anaknya sebagai korban bakaran atas perintah Allah. Abraham melakukan barter, ia lepaskan segala kenikmatan di tanah asalnya demi sebuah negeri yang dijanjikan Allah. Mestinya ia sudah merasa nyaman di Urkasdim, tetapi ia memercayai ada tempat yang lebih baik yang menjadi tujuan hidupnya. Ia tidak berpikir lagi bahwa negri yang menjadi tujuannya membuat ia rugi.

Sekarang yang dituntut Tuhan atas orang percaya adalah “menyembelih” apa pun yang menjadi kesukaan yang membuat dirinya nyaman dan merasa betah di bumi ini. Banyak milik kesayangan yang ada pada kita yang membuat kita gagal menempatkan Tuhan secara pantas atau menghargai Tuhan secara benar. Hal ini juga membuat kita tidak merasa bahwa dunia atau bumi ini bukanlah rumah kita. Anak-anak Allah yang benar akan memiliki naluri pulang ke rumahnya sendiri.

1) Filipi 3:20; 1Petrus 1:17; 1Petrus 2:11 ; 2)Filipi 3:7-8

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.