17. MENYENANGKAN TUHAN

Banyak orang Kristen yang sebenarnya sesat, tetapi mereka tidak menyadari sama sekali kesesatan tersebut. Mereka merasa dan percaya bahwa dengan mengaku percaya Tuhan Yesus sebagai Juruselamat sudah secara otomatis akan selamat dan dosa telah diselesaikan. Mereka tidak berjuang untuk mengalami perubahan kodrat guna menyenangkan hati Bapa. Mereka juga tidak peduli sama sekali adanya Kerajaan Tuhan Yesus yang akan ditegakkan. Mereka hanya hidup untuk kesenangan hari ini, seakan-akan tidak ada dunia atau kehidupan lain yang akan mereka jalani dan nikmati selain dunia hari ini. Mereka berpikir bahwa Tuhan dan segala berkat-Nya diadakan hanya untuk kehidupan hari ini. Pada dasarnya ini adalah gaya hidup seperti hewan, makhluk yang hidup hanya untuk hari ini: “Mari kita makan dan minum sebab besok kita mati” (1Kor. 15:32).

Sejatinya, orang percaya yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus harus bersedia melakukan hal yang sama seperti yang Dia lakukan. Orang percaya harus bersedia meninggalkan kesenangan dunia. Meninggalkan kesenangan dunia dapat dibagi dalam dua bagian: Pertama, meninggalkan kepuasan daging yang tidak sesuai dengan kesucian Tuhan, yaitu makan minum dan seks serta kebencian atau sikap tidak mengasihi. Kedua, dosa dalam jiwa, yaitu hasrat memiliki harta dunia untuk memperoleh kesenangan, kebanggaan yang melahirkan keangkuhan hidup. Firman Tuhan mengatakan: “Barangsiapa tidak meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya, maka ia tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 14:33). Ini adalah bagian tersulit yang sering kurang atau tidak diajarkan dengan benar kepada umat dewasa ini.

Dunia kita hari ini sungguh-sungguh sudah sangat rusak. Bukan hanya jemaat, tetapi juga tidak sedikit pendeta atau pejabat sinode yang sebenarnya masih dibelenggu oleh filosofi percintaan dunia. Hal ini nampak jelas dari Teologi Kemakmuran yang mereka ajarkan kepada jemaat. Khotbah atau ajarannya hanya berkisar pada berkat jasmani dan kemakmuran lahiriah. Dengan cara berpikir yang salah tersebut, mereka terbelenggu. Belenggu ini banyak tidak disadari, sebab mereka ternyata masih aktif dalam kegiatan pelayanan. Mereka bisa mengusir setan -bahkan mengadakan mukjizat- tetapi mereka masih tetap dalam belenggu percintaan dunia. Tuhan seakan-akan bungkam, tetapi suatu hari nanti pasti akan ada perhitungannya (Mat. 7:21-23). Kondisi seperti ini merusak kehidupan iman murni jemaat, sehingga mereka tidak dipersiapkan untuk berjumpa dengan Tuhan. Alhasil, kesempatan terakhir (the last chance) yang diberikan Tuhan tidak digunakan sebagaimana mestinya. Orang percaya harus meninggalkan dunia ini untuk bisa menyenangkan hati Tuhan.

Menyenangkan hati Bapa dan Tuhan Yesus tidak cukup hanya dengan beragama Kristen, menjadi anggota gereja yang aktif, pergi ke gereja, menjadi aktivis gereja, bahkan sekalipun menjadi seorang pendeta. Menyenangkan hati Bapa adalah berkeadaan selalu berkenan kepada Bapa, yaitu berpikir, berucap, dan melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran, perasaan, dan kehendak Bapa. Sesungguhnya, satu-satunya keberhasilan hidup hanyalah menyenangkan hati Bapa dan Tuhan Yesus. Oleh sebab itu seharusnya tidak ada hal lain yang kita upayakan dalam hidup ini selain menyenangkan hati Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus. Inilah yang dimaksud oleh Alkitab: “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah tidak cukup hanya menyanyi, memuji, dan menyembah Tuhan dengan lagu yang bersyair pujian dan penyembahan. Tidak cukup hanya datang ke gereja mengikuti misa atau liturgi.

Pengembaraan hidup Kekristenan seseorang sampai pada tahap akhir atau puncak kesempurnaan di bumi sesuai dengan bagian atau porsinya ditandai dengan satu hal, yaitu merindukan atau mengingini dengan sangat kuat bagaimana bisa menyukakan hati Bapa dan Tuhan Yesus. Orang percaya tersebut semakin mengerti dan merasakan pikiran, perasaan, dan kehendak Bapa dan Tuhan Yesus. Menyadari anugerah Tuhan tersebut, maka kita harus terus bertumbuh dalam iman, yaitu dalam kedewasan rohani sampai pada satu level di mana dalam hidup ini kita hanya mau menyenangkan hati Bapa dan Tuhan Yesus. Kita tidak lagi menjadikan sesuatu sebagai tujuan, cita-cita, atau obsesi dalam kehidupan ini, sebab tujuan hidup kita adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya atau menyenangkan hati Bapa. Ketika kita berkerinduan hidup hanya untuk menyenangkan Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus, maka segala sesuatu di bumi ini menjadi tidak berarti atau tidak berharga lagi, sebab yang berharga hanyalah Bapa dan Tuhan Yesus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.