17. Menghidupkan Tuhan

SESEORANG BISA MENGALAMI Tuhan secara nyata jika ia menghidupkan Tuhan dalam hidup mereka. Menghidupkan Tuhan bukan berarti Tuhan sudah mati, tetapi berusaha mengalami secara nyata keberadaan Tuhan yang memang eksis. Banyak orang yang bertahun-tahun mengarungi hidup ini tanpa benar-benar mengalami Tuhan. Mereka tidak berusaha menghayati kehadiran Tuhan. Bagi mereka, Tuhan seperti sebuah teori mengenai sesuatu hal yang hanya dipercakapkan dalam diskusi. Sehingga Tuhan bagi mereka hanya sebuah fantasi dalam dunia imaginasi saja. Betapa mengerikan keadaan orang seperti ini ketika ia menghadap takhta pengadilan Tuhan nanti. Tidak mungkin mereka berkenan kepada Tuhan sesuai dengan standar kebenaran-Nya. Bisa saja mereka adalah orang-orang yang beragama tetapi mereka tidak “ber-Tuhan” dengan benar. Inilah orang-orang atheis praktis. Keadaan ini terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen dan berlangsung lama, sehingga tidak mampu menanggapi Tuhan sebagai pribadi yang hidup.

Setiap orang harus serius berusaha menghidupkan Tuhan. Usaha ini sejajar dengan yang dikatakan Alkitab sebagai “mencari Tuhan”.1 Tidak ada orang yang kurang serius dengan Tuhan yang bisa mengalami Tuhan secara berkesinambungan, pasti mereka tidak mengalami Tuhan. Tuhan hanya berurusan dengan mereka yang serius dengan Tuhan yaitu yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, akal budi dan segenap kekuatan. Dalam Perjanjian Baru terdapat kisah mengenai Kornelius, seorang perwira pasukan yang digolongkan sebagai bangsa kafir, tetapi ia mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Pencariannya akan Tuhan tidak sia-sia. Tuhan menyambut kerinduannya. Tuhan mengutus Petrus untuk menjumpainya dan memberitakan kabar baik.2 Tuhan Yesus menyatakan bahwa hanya orang yang haus dan lapar terhadap kebenaran yang dipuaskan.3 Haus dan lapar akan kebenaran artinya sangat merindukan untuk mengenal Tuhan dan mengalami-Nya serta melakukan kehendak-Nya. Bagi mereka Tuhan adalah kebutuhan utama lebih dari apa pun dan siapa pun.

Bagaimana membuat Tuhan hidup dalam kehidupan seseorang tergantung apakah dia memperlakukan Tuhan sebagai pribadi yang hidup atau tidak. Hendaknya orang percaya tidak bersikap sembarangan terhadap Tuhan dengan hidup suka-suka sendiri hanya karena Tuhan tidak kelihatan dan sering bersikap seakan-akan tidak ada. Merupakan pergumulan yang tidak ringan bagaimana mewujudkan atau mengalami Tuhan menjadi riil dalam kehidupan. di tengah dunia yang semakin fasik dan atheis ini. Dalam pengalaman hidup sebagaian besar orang, kalau sudah merasa Tuhan tidak memedulikannya, maka mereka tidak berkeyakinan kuat bahwa Tuhan berminat berurusan dengan mereka. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tidak pernah memiliki pengalaman spektakuler dengan Tuhan, selalu dalam keadaan yang serba sulit, doa-doa yang dirasa tidak dijawab dan banyak kausalitas lainnya. Semua keadaan ini membuat keyakinan mereka terhadap eksistensi Tuhan menjadi lemah dan membuat mereka merasa bahwa Tuhan bersikap pasif terhadap mereka. Padahal tidak demikian. Tuhan sangat serius hendak berurusan dengan setiap individu sebab setiap individu sangat berharga dan berarti bagi Dia.

Untuk merasakan, mengalami dan membuktikan kehadiran Tuhan, dituntut pergumulan panjang yang berat dengan harga segenap hidup yang harus dipertaruhkan. Jika tidak, orang percaya tidak patut berharap mengalami Tuhan secara riil. Memang harga menghidupkan Tuhan dalam hidup kita adalah segenap hidup kita tanpa batas. Untuk hal tersebut Tuhan Yesus sudah mempertaruhkan diri-Nya sebagai korban penebusan agar orang percaya mendapat akses untuk mengalami Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, serta suatu hari nanti dapat menetap di rumah Bapa. Inilah anugerah yang tidak terbeli dengan apa pun juga, oleh sebab itu kita tidak boleh menyia-nyiakannya.

1) Yesaya 55:6 ; 2) Kisah 10 ; 3) Matius 5:6

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.