17. Mengawasi Diri Sendiri

BERMETAMORFOSA HARUS diterima sebagai tugas utama dalam kehidupan ini. Ini adalah PR (pekerjaan rumah) atau hutang yang harus dibayar. Jika kita menyadari bahwa target yang harus dicapai adalah menjadi pangeran-pangeran Kerajaan Surga yang berkepribadian agung seperti Bapa, maka kita selalu merasa memiliki PR atau hutang yang belum terbayar. Seperti murid sekolah yang baik, yang selalu merasa berhutang sebelum mengerjakan PR yang diberikan guru sekolahnya. Demikian pula orang percaya yang mengerti bahwa dirinya harus sempurna seperti Bapa, ia merasa berhutang sebelum menyelesaikan tugas tersebut. Betapa celakanya orang Kristen yang merasa tidak memiliki PR lagi. Ia menjalani hidup kekristenannya dengan mudah, karena tidak merasa ada tuntutan yang harus dipenuhi. Sebaliknya, orang Kristen yang benar akan selalu merasa bahwa sepanjang hidupnya adalah perjuangan untuk menyelesaikan tugas. Ketika menutup mata, barulah ia berhenti melakukan tugasnya. Tugas tersebut seperti hutang yang harus dibayar, yaitu hidup menurut roh.1 Orang yang berminat membayar hutang akan selalu memperhatikan dirinya apakah dirinya semakin menjadi manusia Allah yang selalu memuaskan hati Bapa, atau tidak.

Sering kita mendengar nasihat agar kita berhati-hati terhadap orang lain, karena bisa-bisa mereka mencelakai dan merugikan kita. Tetapi hampir kita tidak pernah mendengar orang menasihati kita agar berhati-hati terhadap diri sendiri, yang bisa membawa diri kita kepada kebinasaan. Faktanya, jarang sekali orang memperhatikan dirinya sendiri dengan serius dalam rangka memasuki proses pembaharuan terus menerus. Kepada Timotiuss, anak rohaninya, Paulus menasihai: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau”.2

Orang percaya yang benar akan memperhatikan dirinya dengan seksama, agar setiap gejala-gejala kekafiran yang muncul dalam suatu peristiwa dan keadaan, bisa dikenali dan ia bisa belajar untuk berubah dengan mengikisnya. Gejala-gejala jiwa kekafiran dalam diri kita adalah tidak menyadari bahwa sebenarnya masih ada unsur-unsur kekafiran tertentu di dalam diri kita. Tetapi bagaimana pun, hal itu akan terekspresi dalam tindakan, pada situasi tertentu. Kita harus peka memperhatikan kemunculannya agar kita bisa menggarapnya, artinya agar kita bisa membinasakan atau membunuh atau membuangnya. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita agar kita serupa dengan Tuhan Yesus, artinya memiliki keagungan sebagai pangeran-pangeran Kerajaan Allah.

Orang percaya yang belajar kebenaran dan menemukan standar bagaimana hidup sebagai pangeran Kerajaan Surga, mengerti bahwa di dalam dirinya masih banyak unsur kekafiran yang harus dikikis terus menerus agar menjadi anak Allah yang bersih, tidak bercacat dan tidak bercela. Dengan pengertian standar kesucian tersebut maka orang percaya akan menyadari bahwa ia selalu membawa tubuh dan karakter dosa dirinya kemana pun ia melangkah. Orang percaya seperti itu akan selalu menyadari bahwa ia sedang ada di dalam proses terus menerus diubah melalui setiap pertiswa hidup yang dialami.

Orang yang mau berubah terus menerus mewaspadai dirinya lebih dari mewaspadai orang lain. Dengan demikian ia akan lebih bersikap berjaga-jaga. Orang percaya seperti ini akan menyadari apakah proses metamorfosa Ilahi sungguh-sungguh sedang berlangsung dalam hidupnya atau tidak. Dalam hal ini harus dipahami bahwa perubahan ke arah kedewasaan mental atau kebaikan umum bukanlah proses metamorfosa. Proses metamorfosa adalah proses dari manusia berdosa dengan kodrat dosa menjadi manusia Allah dengan kodrat Ilahi yang tidak bisa berbuat dosa lagi. Tidak berbuat dosa lagi artinya setiap perbuatannya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Secara metaforis dari ulat yang menjijikan menjadi kupu-kupu yang cantik.

1) Roma 8:12-14 ; 2) 1Timotius 4:16

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.