17. MELIHAT TANDA

Ternyata meyakini keberadaan Allah atau hidup beriman dalam Tuhan bukan sesuatu yang mudah. Tetapi selama ini bagi orang-orang yang sudah terbiasa beragama, seakan-akan meyakini bahwa Allah itu ada adalah sesuatu yang mudah. Mengapa demikian? Sebab mereka berpikir bahwa keyakinan terhadap keberadaan Allah (bahwa Allah itu ada), cukup dengan pikiran saja, tidak perlu disertai dengan perjumpaan pribadi terus menerus dengan Dia untuk melakukan kehendak-Nya. Dalam Yohanes 6:25-26 tertulis: Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”

Tuhan Yesus mengatakan secara blak-blakan bahwa mereka mencari Tuhan sebab mereka makan roti sehingga kenyang. Memang peristiwa ini terjadi setelah Tuhan Yesus membuat mukjizat atas lima roti dan dua ekor ikan. Hal ini menunjukkan bahwa memang dari dulu tidak sedikit orang -bahkan sebagian besar orang- mencari Tuhan karena roti jasmani. Biasanya agama menolerir kalau umat berurusan dengan Allah karena pemenuhan kebutuhan jasmani. Bahkan mereka mengajarkan bahwa maksud berurusan dengan Allah memang agar diberkati secara jasmani atau berkat lahiriah. Selain itu, Allah juga akan memberikan berkat bonus, yaitu surga.

Dalam hal tersebut dikesankan bahwa Allah membutuhkan pengikut atau orang-orang yang mau memercayai keberadaan-Nya. Jadi, kalau orang mau berurusan dengan Allah, pergi ke rumah ibadah dan rajin berdoa atau sembahyang, maka Allah sudah cukup dipuaskan dan tersanjung. Orang-orang yang melakukan hal tersebut diberkati, dengan memberi jalan keluar dari masalah-masalah hidupnya, mencukupi kebutuhannya, melindungi dari segala marabahaya dan memberikan bonus surga sesudah kematiannya. Inilah pemikiran agamani yang tidak boleh masuk dalam teologi Kristen.

Dari perkataan Tuhan dalam Yohanes 6:26 -bahwa mereka mencari Tuhan bukan karena melihat tanda, tetapi karena makan roti sehingga kenyang- menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak membenarkan sikap ini. Ironisnya, hari ini hampir semua gereja mengajarkan hal demikian itu. Jemaat diajar untuk mencari Tuhan untuk berkat-berkat jasmani. Ini adalah penyesatan. Jadi, kalau ada gereja dan pendeta yang mengajarkan hal tersebut, ini adalah penyesatan yang merusak kehidupan iman yang sejati.

Sekarang ini, di mana-mana terdapat kesan yang ditimbulkan oleh banyak orang Kristen, bahwa seolah-olah Allah membutuhkan orang-orang yang mau memercayai diri-Nya sebagai Allah Israel dan meyakini Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dunia, kemudian membuat mereka menjadi orang yang beragama Kristen. Menjadi orang Kristen, menurut mereka berarti memperoleh keselamatan, artinya terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Selama hidup di bumi berhak menerima berkat Tuhan, dari kesembuhan, jalan keluar dari segala masalah dengan mudah sampai pada segala pemenuhan kebutuhan jasmani.

Sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah bukan sekadar menjadi Kristen dengan memercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi yang dikehendaki oleh Allah adalah orang yang memercayai Diri-Nya, belajar kebenaran dan hidup dalam kebenaran. Untuk apa menjadi Kristen kalau tidak melakukan kehendak-Nya?

Dalam Yohanes 6:25-26, dikisahkan banyak orang yang mencari Tuhan karena roti. Mereka tidak melihat tanda. Kata tanda dalam teks aslinya adalah semeion (σημεῖον). Kata ini memiliki pengertian sebagai petunjuk arah. Jadi kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa mereka tidak melihat tanda, berarti mereka tidak mengerti arah yang Tuhan kehendaki, yaitu hendak dibawa kemana. Orang Yahudi memang tidak tahu atau tidak mau tahu arah atau tujuan Tuhan hendak membawa mereka.

Demikianlah keadaan banyak orang Kristen hari ini. Sebenarnya banyak orang Kristen yang tidak tahu maksud utama keselamatan yang diberikan oleh Tuhan. Biasanya mereka menghubungkan langsung Injil dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Bila Injil dihubungkan langsung dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, maka orang Kristen tersebut tidak akan mengerti karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus secara benar. Ini bukan berarti Injil tidak memiliki keterkaitan dengan kebutuhan jasmani. Tetapi pemenuhan kebutuhan jasmani bukanlah tujuan utama.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.