17. APHRON

BANYAK ORANG BERPIKIR, kalau sudah pergi ke gereja berarti sudah mempersiapkan diri untuk kehidupan di balik kubur. Mereka sudah merasa memenuhi tanggung jawabnya sebagai manusia yang beragama. Dikesankan kepada jemaat bahwa yang penting adalah menjadi orang Kristen yang rajin ke gereja. Sejatinya mereka belum mencari Tuhan dengan benar, tentu saja mereka sebenarnya belum menemukan-Nya. Fakta itu dibuktikan dengan proyeksi hidup mereka yang belum ke Kerajaan Surga. Mereka masih mencintai dunia. Semua kegiatan mereka masih berorientasi pada kenyamanan hidup di bumi ini. Sehingga sebenarnya mereka belum mengabdi kepada Tuhan, sebab Tuhan tidak menghendaki seseorang memiliki dua tuan.1 Hidup mereka masih dibelenggu oleh banyak kesenangan-kesenangan yang tidak pernah habis. Kesenangan- kesenangan tersebut seperti candu yang mengikat sampai mereka tidak bisa melepaskan diri. Mereka tidak pernah menjadikan Tuhan sebagai kesukaan dan tidak pernah menjadikan Kerajaan-Nya sebagai tujuan. Mereka tidak menyadari keadaan tersebut sebab tidak memahami standar hidup sebagai anak-anak Tuhan yang normal melalui kebenaran Firman Tuhan. Tidak sedikit gereja yang tidak mengingatkan jemaat terhadap realitas kekekalan yang sangat dahsyat tersebut. Tema pemberitaan Firman Tuhan selalu berorientasi pada berkat jasmani. Ini sebuah penyesatan yang luar biasa, sampai mereka tidak bisa lagi disadarkan.

Betapa sulitnya menyadarkan orang-orang yang tidak memiliki pengertian yang benar terhadap Firman Tuhan. Tanpa mereka sadari, mereka sedang meluncur ke dalam kegelapan abadi. Tetapi mereka merasa sebagai orang-orang baik yang tidak pantas dibuang ke dalam api kekal. Sejatinya mereka adalah orang-orang yang tidak menghormati Tuhan secara pantas. Mereka menghargai barang-barang dunia fana lebih dari menghargai Tuhan. Ini suatu tindakan kurang ajar dan tidak hormat kepada-Nya. Mereka merasa sudah menghormati Tuhan sebab mereka memuji dan menyembah Tuhan dengan nyanyian di gereja. Penyesatan ini juga terjadi pada orang-orang yang sibuk dalam pelayanan; para rohaniwan atau pendeta yang sibuk dalam kegiatan rohani atau pelayanan. Mereka sibuk dalam kegiatan yang disebut pelayanan yaitu menolong orang untuk bisa menjalani hidup di bumi ini tanpa gangguan, menolong rumah tangga yang bermasalah, mendoakan orang sakit, menghibur orang susah, mengkonseling orang yang dalam tekanan jiwa, membantu orang miskin dan berbagai kegiatan sosial dan lain sebagainya. Tetapi mereka tidak membuka mata orang untuk mengenali tujuan hidup yang benar sesuai dengan Alkitab. “Pelayan-pelayan Tuhan” palsu ini sebenarnya juga masih berorientasi pada kehidupan di bumi ini. Itulah sebabnya fokus pelayanan masih pada kehidupan jasmani atau masalah makan dan minum. Pelayan Tuhan seperti ini masih bisa dibeli dan kompromi dengan dunia. Inilah yang disebut sebagai komunitas gereja yang menyesatkan. Tetapi pada umumnya pelayanan gereja seperti ini sudah dianggap sebagai standar yang normal dan baik. Padahal justru mereka melanggengkan pola hidup duniawi, dimana orang dibuat merasa nyaman di bumi atau paling tidak memberi pengharapan bahwa bumi bisa dijadikan kenyamanan seperti Firdaus. Biasanya mereka menjanjikan surga di bumi dan surga di belakang langit biru. Semestinya orang percaya harus memilih salah satu, tidak bisa dua-duanya. Ini sebuah kecerobohan yang membinasakan.

Kecerobohan yang sama artinya dengan bodoh (Yun. aphron; ἄφρων) digunakan oleh Paulus dalam Efesus 5:17. Ia menasihati agar orang percaya tidak menjadi bodoh, tetapi supaya mengerti kehendak Tuhan. Paulus menunjukkan bahwa orang yang tidak mengerti kehendak Tuhan adalah orang-orang bodoh. Orang bodoh adalah orang yang tidak bijaksana artinya segala sesuatu yang dilakukan tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dalam tulisannya tersebut Paulus menasehati agar waktu yang ada harus dipergunakan dengan benar, sebab hari-hari ini jahat. Kalau anak-anak Tuhan tidak menggunakan waktu yang ada untuk mencari Tuhan, maka dunia akan memengaruhi hidup iman Kristiani sehingga binasa.2

1) Matius 6:24 ; 2)Efesus 5:15-17

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.