16. Peripateo

AAPAKAH SESEORANG YANG telah dibaptis Roh Kudus bisa menolak pimpinan Roh Kudus, sehingga Roh Kudus meninggalkannya? Banyak orang berpikir bahwa kalau seseorang sudah dibaptis Roh Kudus maka ia tidak bisa menolak pimpinan Roh Kudus atau tidak bisa murtad lagi. Seakan-akan baptisan tersebut menjadi materai yang secara permanen membuat seseorang tidak dapat binasa. Benarkah ini? Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka haruslah kita mengamati dengan benar kisah dalam Kejadian 6:1-4. “Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. Berfirmanlah TUHAN: “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.” Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka; inilah orang-orang yang gagah perkasa di zaman purbakala, orang-orang yang kenamaan”.

Dalam paragraf ini Roh Allah atau Roh Kudus berusaha untuk menuntun anak-anak Allah yaitu keturunan Set, walaupun nenek moyang mereka (Adam dan Hawa) telah gagal hidup dalam kehendak Allah. Hal ini menunjukkan keadilan Tuhan sekaligus untuk membuktikan kebenaran-Nya sehingga Allah tidak bisa dipersalahkan. Ternyata bukan hanya Adam yang gagal, keturunannya pun ketika dipimpin Roh Kudus untuk menjadi manusia yang dikehendaki oleh Allah, juga gagal. Hal ini membutikan bahwa semua manusia telah berdosa (meleset dari kesucian Allah) sehingga kehilangan kemuliaan Allah.1 Tidak ada seorang manusia pun yang benar, jika dipandang dari kesucian Allah atau standar yang ideal sesuai dengan rancangan semula-Nya.

Keturunan Set ternyata menolak hidup sesuai dengan kehendak Roh Allah, mereka mengikuti keinginan mereka sendiri, sehingga Roh Allah undur. Hidup menurut kehendak diri sendiri inilah yang disebut sebagai hidup dalam “daging” (Ibr. bazar; בּשָָׂר ). Itulah sebabnya dalam Roma 8:8 dikatakan bahwa mereka yang hidup dalam daging (Yun. En Sarkei; εν σαρκει), tidak mungkin berkenan kepada Allah. Jadi, kalau seseorang masih hidup dalam daging, ia tidak mungkin selamat, seperti yang tertulis dalam Galatia 5:21, “…bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah”. Untuk ini jangan kita berpikir bahwa yang penting percaya, maka kita pasti selamat. Seorang yang selamat adalah mereka yang bermoral Allah yaitu tidak hidup dalam daging. Firman Tuhan mengatakan bahwa kalau seseorang tidak hidup menurut Roh, tidak berlaku atau berkarakter seperti kesucian Bapa, berarti ia bukan anak Allah, sebab Allah tidak memandang muka.2 Itu berarti orang tersebut tidak bersedia ditebus oleh Tuhan Yesus dari cara hidupnya yang sia-sia. Penebusan oleh darah Tuhan Yesus dimaksudkan agar manusia dikembalikan menjadi manusia seperti rancangan semula-Nya.3

Oleh sebab itu seseorang harus memberi diri dipimpin oleh Roh, bukan oleh dagingnya (Galatia 5:16, Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging). Maksudnya adalah membiasakan diri berjalan sesuai dengan kehendak Roh. Kata “ hiduplah” dalam teks aslinya adalah peripateo (περιπατέω) yang memiliki beberapa pengertian antara lain be have (berperilaku atau berkebiasaan), conduct ourselves (mengatur diri sendiri), to walk (berjalan), to make one’s way, progress (membuat jalan seseorang; kemajuan), to make due use of opportunities (memanfaatkan peluang), to regulate one’s life, to conduct one’s self, to pass one’s life (mengatur kehidupan sendiri untuk lulus). Pada dasarnya kata peripateo menunjuk pada usaha membiasakan hidup ( sesuai dengan Roh Kudus). Tentu saja pembiasaan ini membutuhkan perjuangan dan latihan dalam waktu yang panjang.

1) Roma 3:23 ; 2) 1Petrus 1:13-17 ; 3) 1Petrus 1:18-19

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.