16. MENDAHULUKAN KERAJAAN SURGA

Di dalam Matius 25:1-13 dikisahkan mengenai lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh, dimana terasa suatu perasaan duka karena tragisnya peristiwa yang digambarkan tersebut. Tetapi sebenarnya ketragisan dalam perumpamaan ini belum mewakili secara penuh ketragisan dari keadaan yang sebenarnya ketika seseorang ditolak oleh Allah yang hidup. Pada waktu itu orang akan benar-benar menyadari apa arti keselamatan yang sangat berharga. Keselamatan ini kalau disia-siakan akan mengakibatkan penolakan Allah atas orang yang menyia-nyiakan keselamatan tersebut (Ibr. 2:1-3).

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan menyia-nyiakan keselamatan? Menyia-nyiakan keselamatan berarti tidak menerima atau tidak menanggapi keselamatan yang Tuhan berikan dengan cara yang benar. Perhatikan, bagaimana gadis yang bodoh yang tidak diperkenankan masuk pesta perjamuan kawin. Mereka bukannya tidak menantikan mempelai tersebut. Mereka menantikan. Tetapi mereka tidak memiliki persediaan minyak. Ini berarti mereka tidak melakukan penyambutan sesuai dengan prosedur yang benar. Prosedur yang benar adalah memiliki persediaan minyak. Minyak yang dikemukan Tuhan Yesus dalam perumpamaan ini sebagai suatu gambaran dari sikap berjaga-jaga. Dalam perumpamaan tersebut ditunjukkan bagaimana gadis yang bodoh tidak berkesempatan menyediakan minyak. Ini berarti minyak tersebut harus dipersiapkan jauh-jauh hari.

Sikap berjaga-jaga berarti suatu usaha untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan dan menumbuhkembangkan atau membuatnya semakin berkualitas. Hubungan harmonis adalah hubungan yang baik, yang riil, yang dapat dirasakan. Ciri dari seorang yang memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan antara lain: Seseorang yang selalu bertobat setiap hari. Hal ini seiring dengan bertumbuhnya pengenalan akan Tuhan dan kedewasaan hati nurani untuk mengenali kesalahan. Orang seperti ini akan memiliki pertumbuhan kesucian yang nyata. Memiliki pembelaan yang sangat tinggi bagi pekerjaan-Nya, tanpa batas. Baginya, pelayanan pekerjaan Tuhan adalah hidupnya. Semua ini tidak dapat dikerjakan dalam satu hari, bahkan satu minggu, atau satu bulan. Semua ini merupakan pembiasaan hidup yang harus terus berlangsung setiap hari. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Surga.

Bahaya besar yang tidak disadari oleh banyak orang adalah menunda bersikap benar terhadap keselamatan yang Tuhan berikan, sesuatu yang seharusnya dilakukan dengan segera dan terus menerus. Dalam Ibrani 12:16-17 diungkapkan kegagalan Esau menikmati atau memanfaatkan hak kesulungannya. Ia kehilangan hak kesulungannya karena tidak bersikap benar terhadap hak kesulungan yang diberikan dan yang memang adalah haknya. Ia menukar hak kesulungannya tersebut dengan sepiring makanan. Dalam kisah yang ditulis dalam Kejadian 27:1-4, nyata bahwa Esau merasa bahwa ia masih memiliki hak kesulungan tersebut. Ia sangat ceroboh, ia menganggap sepi apa yang telah dilakukan sebelumnya, bahwa ia menukar hak kesulungan dengan sepiring makanan (Kej. 25:29-34). Tentu Esau tidak berniat atau tidak bersungguh-sungguh dan tidak serius untuk menjual hak kesulungannya, tetapi tindakan cerobohnya cukup membuat ia kehilangan hak kesulungannya.

Perhatikan, bagaimana ia tidak mempersoalkan dari jauh-jauh hari mengenai hal yang berkaitan mengenai hak kesulungannya. Ketika keadaan sudah mendesak, barulah ia serius mempersoalkan, tetapi sudah terlambat (Lih. Kej. 27:30-35). Hal ini sama dengan kisah 5 gadis bodoh dari apa yang Matius 23:1-13 catat, tentu mereka tidak bermaksud untuk ditolak dan tidak mau juga untuk ditolak. Tetapi kecerobohan mereka -dimana mereka tidak mempersiapkan diri dan bahkan menganggap enteng persiapan tersebut- cukup membuat mereka kehilangan kesempatan yang berharga. Lima gadis bodoh tersebut baru mempersoalkan persediaan minyak pada waktu yang tidak tepat. Hal ini mengajarkan kepada kita agar kita jangan sampai pada waktunya mempersoalkan hal keselamatan, karena kecerobohan kita yang tidak mempersiapkan keselamatan kita sendiri dari jauh-jauh hari. Jangan mempersoalkan keselamatan di waktu yang tidak tepat. Tuhan Yesus mengingatkan agar kita tidak menyia-nyaikan kesempatan selagi hari siang (Yoh. 9:4). Perhatikan cara Iblis merusak kehidupan orang percaya dan membinasakan mereka, yaitu dengan cara membuat seseorang hanyut dalam keasyikan untuk hal-hal yang sepele, tidak berarti, dan dengan kenikmatan sesaat. Inilah kesalahan fatal Esau yang tidak boleh ditiru atau diulangi.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.