16. KECEROBOHAN HIDUP

BILA DITINJAU DARI sudut pandang kebenaran Firman Tuhan, banyak orang yang hidup tanpa tujuan; suatu kehidupan yang sangat tidak berkualitas sama sekali. Kehidupan seperti ini digambarkan oleh Tuhan Yesus di dalam Lukas 12:16-21, seorang yang mengisi hari hidupnya dengan segala kesibukan tetapi tidak pernah mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh sehingga tidak menemukan-Nya. Orang seperti ini dari sudut pandang dunia adalah orang cerdas dan sukses, tetapi Alkitab menyebut orang ini sebagai orang yang bodoh. Harus diingat bahwa Alkitab memiliki sudut pandang logika yang terbalik dengan dunia ini. Itulah sebabnya kalau seseorang tidak mengerti kebenaran Firman Tuhan yang murni, logikanya sesat. Kata bodoh dalam teks ini adalah aphron (ἄφρων).1 Kata ini memiliki beberapa pengertian antara lain stupid, foolish (bodoh atau tolol), unwise (tidak bijaksana) juga berarti senseless (bodoh, tidak masuk akal), without reason (juga tanpa alasan), without reflection or intelligence (tanpa refleksi atau perenungan dan kecerdasan) dan yang terakhir berarti acting rashly (bertindak gegabah atau ceroboh). Kebodohan yang digambarkan dalam Lukas 12:16-21 tersebut bagi manusia hari ini adalah kehidupan yang dianggap sebagai pola standar atau normal. Hal ini menunjukkan betapa sesatnya logika banyak orang; termasuk sebagian besar orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran Firman Tuhan. Kesibukan hidup sehari-hari itulah yang dianggap sebagai tujuan atau alasan hidup yang normal. Karena sudah terlalu lama sesat sehingga sebagian besar mereka sampai pada titik pengertian yang kokoh dan tidak bisa diubahkan. Bagi mereka itulah tujuan hidup satu-satunya. Orientasi berpikir mereka hanya dunia hari ini, sekarang di bumi ini.

Mereka menggulirkan hidupnya dengan pergi ke sekolah, berkarir, menikah, memiliki keturunan, melengkapi dengan berbagai fasilitas, membesarkan anak, memilih menantu, dan akhirnya ikut membesarkan cucu sebelum nyawanya putus. Sebagai variasi hidup mereka pergi wisata, menikmati hobi dan berbagai kesenangan. Bagi yang terobsesi menjadi orang terhormat, mereka akan berusaha mencari kehormatan dan nilai diri melalui kekayaan atau kekuatan finansial. Bagi yang mengutamakan penampilan, para wanita akan mengejar kecantikan dan para pria akan mengusahakan kegagahan dengan segala perhiasannya, gelar pendidikan, pangkat, kekuasaan politik dan popularitas. Bagi yang menyukai kehidupan dagingnya mereka memuaskan diri dengan makan dan minum serta kehidupan seks. Kesibukan hidup untuk segala hal tersebut menyita waktu mereka tanpa sisa. Mereka tenggelam dalam berbagai aktivitas tanpa mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh atau secara benar. Mereka menjadi orang miskin di kekekalan, artinya binasa.

Kesibukan hidup menenggelamkan banyak orang dalam kesesatan sehingga mereka tidak pernah mencari Tuhan dengan benar. Hal tersebut berlangsung sampai hari semakin senja, kesehatan mulai rapuh dan obat-obat yang berunsur kimia mulai dikonsumsi, hingga akhirnya kematian menjemput. Kesibukan hidup membelenggunya dari hari ke hari dalam perjalanan waktu yang terus melaju. Bagi masyarakat modern di kota-kota besar, waktu akan terasa lebih cepat berlalu. Hal itu disebabkan mereka diatur oleh tugas-tugas dan segala kesibukan yang sangat padat, sampai tanpa sadar waktu kontrak hidupnya sudah habis. Kehidupan seperti ini sebenarnya kehidupan yang tidak berbeda jauh dari binatang yang tidak memiliki proyeksi hidup selain hidup di bumi ini. Mereka hidup tanpa alasan, tanpa akal. Inilah sebenarnya kecerobohan itu. Kecerobohan yang menggiringnya ke api kekal.

Bagi mereka yang ada di lingkungan orang Kristen, pergi ke gereja hanya sebagai “suplemen” atau sekadar tambahan. Ke gereja pun hanya dalam rangka supaya perjalanan hidupnya yang tanpa alasan tersebut bisa diberkati. Ia bisa membuat hidupnya indah berbunga-bunga dengan keberhasilan model anak-anak dunia yang tidak mengenal kebenaran Firman Tuhan. Prestasi yang bisa disebut sebagai keberhasilan semu dan sementara –seperti orang kaya dalam Lukas 12:16-21- dapat membutakan mata pengertian kita. Memang orang kaya di Injil Lukas itu di mata manusia kaya, tetapi sebenarnya miskin di mata Allah. Ia pulang ke rumah abadi tanpa kekayaan sama sekali. Ia tidak mendengar atau menuruti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus agar mengumpulkan harta di surga.

1) Lukas 12:20

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.