16. Kebenaran Yang Tertulis Di Hati

HATI NURANI ADALAH institusi yang menetapkan dan memutuskan apa yang baik dan buruk, pembuat peraturan, membuat ukuran kebenaran atau kejahatan dan yang mendorong seseorang mengambil suatu keputusan. Oleh sebab itu hati nurani harus memperoleh pengaruh positif dari luar. Pengaruh itu dari pendidikan (keluarga dan sekolah), kebudayaan, lingkungan hidup dan yang paling kuat adalah filosofi atau ajaran agama. Bila pengaruh yang diterima itu baik, maka hati nuraninya pun menjadi baik. Itu berarti manusianya pun juga berkualitas baik. Dalam hal ini kita dapat menemukan banyak orang-orang di luar Kristen yang memiliki perilaku yang sangat baik, bahkan sampai tingkat mengagumkan. Hal ini sangat ditentukan oleh lingkungan yang mendewasakan hati nurani mereka.

Bagi bangsa Israel yang memiliki torat yang tertulis secara hurufiah. Kehidupan bangsa itu dikungkung, dipenjara dan disandera oleh torat yang diajarkan secara ketat dan ekstrim. Hati nurani mereka diwarnai, dibentuk dan dibangun oleh suara torat dalam jiwa mereka. Mereka menjadi manusia torat dalam seluruh pikiran, kesadaran dan kehidupan ini. Jika ada yang dengan setia mengikuti torat yang tertulis, maka mereka memiliki hati nurani yang baik, sebab torat adalah rohani. Bagi bangsa non Yahudi, mereka memang tidak memiliki torat yang tertulis secara harafiah. Tetapi Firman Tuhan katakan bahwa mereka memiliki torat yang tertulis di dalam hati mereka.1 Torat yang tertulis di dalam hati mereka adalah hukum yang mereka warisi melalui budaya, hukum adat dan warisan kebenaran atau filosofi yang mereka dengar. Kebaikan mereka bukan berarti tidak bernilai sama sekali. Bagi orang yang tidak mendengar Injil, yang tidak dituntut sempurna, kebaikan hati nurani mereka menjadi ukuran penghakiman. 2 Kebaikan mereka bisa membuat mereka diperkenan masuk dunia yang akan datang. Hendaknya kita tidak menganggap remeh perbuatan baik hanya karena kita mengerti bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik. Perbuatan baik memang tidak menyelamatkan, tetapi bagi mereka yang tidak mendengar Injil atau mendengar Injil yang salah, perbuatan baik menjadi ukuran penghakiman itu. Orang dihakimi menurut perbuatan.

Bangsa-bangsa di dunia ini pada umumnya menerima warisan hukum atau budaya dan adat mengenai apa yang baik dan jahat dari nenek moyang. Nenek moyang mereka tentu telah mewarisi dari pendahulunya. Jika mereka menanggapi hukum itu dengan benar, maka lahirlah manusia-manusia beradap yang melakukan hukum yang mirip dengan torat. Itulah torat yang tertulis di dalam hati. Bila seseorang meresponi hukum itu dengan baik, bukan tidak mungkin mereka juga diperkenan masuk dunia yang akan datang. Bagaimana manusia mewarisi torat yang tertulis dalam hati manusia? Bila kita merunut dari kitab Kejadian, maka dijumpai kemungkinan seperti ini: Bahwa di Eden Adam dan Hawa telah belajar dari dua sumber, yaitu dari Allah yang diwakili dengan simbol pohon kehidupan dan dari ular yaitu pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Tentu di dalam hati Adam telah tertulis torat yang diajarkan Tuhan. Hanya ternyata Adam tidak menyerap kebenaran sebagaimana mestinya, sebab manusia pertama juga menyerap apa yang dilarang Tuhan untuk dikonsumsi. Akhirnya manusia sampai pada taraf dimana tidak bisa mencapai kesucian Allah. Namun ini bukan berarti manusia menjadi rusak sama sekali. Hal di atas ini menjadi gambaran kehidupan orang percaya, kalau kita menyerap sepenuhnya kebenaran yang Tuhan sediakan dan tidak menyerap apa yang dunia sediakan pasti kita menjadi manusia yang luar biasa. Kalau orang di luar Injil menyerap hukum dalam nurani mereka bisa menjadi baik, maka orang percaya menyerap kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus akan menjadi manusia yang sempurna. Dalam hal ini hati nurani orang percaya harus ditulisi kebenaran secara terus menerus sampai sewarna dengan Allah sendiri.

1) Roma 2:15; 2) Roma 1:12-15; Wahyu 20:12-13

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.