16. HUPOKOUO

PADA AKHIRNYA sampailah kita pada persoalan bagaimana seperti Bapa itu. Pertanyaan ini tidak mudah dijawab sebab Allah Bapa bukan sekumpulan hukum atau peraturan. Tetapi Bapa adalah pribadi yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak serta rencana-rencana. Untuk menjadi seperti Bapa, tidak bisa tidak, kita harus mengerti pikiran, perasaan dan kehendak Bapa serta rencana-rencana-Nya. Hal ini tidak bisa dilakukan dengan mudah. Hal ini harus digumuli dengan sangat serius sebagai satu-satunya tujuan hidup. Tuhan Yesus menyatakan bahwa makanan-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.1 Di dalam kehendak Bapa tersebut juga termuat pikiran dan perasaan Bapa. Menyelesaikan pekerjaan Bapa artinya mengerti rencana Bapa dan memenuhinya. Setelah Tuhan Yesus sukses menjadi manusia normal seperti kita, yang dapat mengerti kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan. Menjadi pokok keselamatan artinya menjadi teladan yang dapat menjadi penyebab untuk mengubah hidup.2 Tetapi tidak semua orang Kristen bisa mengalaminya, hanya mereka yang taat kepada-Nya. Kata taat dalam teks aslinya adalah hupokouo (ὑπακούω) yang artinya juga mendengar dengan sungguh-sungguh dan mengikut.

Terkait dengan hal kata hupokouo suatu peristiwa Bapa di Surga berbicara: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”.3 Kalau bukan sesuatu yang penting Bapa di surga tidak akan menyuarakan suara-Nya. Pasti yang disuarakan adalah sesuatu yang sangat luar biasa pentingnya untuk diperhatikan. Pernyataan ini secara langsung hendak mengemukakan bahwa anak manusia seperti Yesus itulah yang dikehendaki oleh Bapa. Bapa berkata agar orang percaya mendengarkan Dia. Tentu saja mendengar untuk menuruti-Nya. Itulah pengertian percaya kepada-Nya. Orang yang percaya adalah orang yang berjuang mengikuti

jejak hidup-Nya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata agar orang percaya menjadikan semua bangsa murid-Nya. Bukan murid gereja atau murid manusia, tetapi murid Tuhan Yesus. Mandat ini berarti usaha untuk menciptakan proses pemuridan yang dialami individu oleh Tuhan Yesus. Mandat ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah mengalami sendiri bagaimana dimuridkan oleh Tuhan Yesus. Sebenarnya proses pemuridan ini lebih tepat sebagai mentoring, bukan seseorang memuridkan orang lain, sebab kita hanya memiliki satu Guru, yaitu Tuhan Yesus. Pelayanan gereja bukan untuk menjadi jasa penyedia liturgi, misa atau seremonial semata-mata, tetapi menciptakan suasana pemuridan setiap individu oleh Tuhan Yesus. Caranya adalah mengajarkan Injil yang benar. Terus terang, banyak gereja yang sudah menyimpang dan tidak memenuhi amanat agung Tuhan Yesus ini, maka sebagai akibatnya tidak banyak orang Kristen yang sungguh-sungguh diselamatkan menjadi anak manusia seperti Yesus Kristus. Ironinya, banyak di antara mereka merasa sudah menjadi anak Allah.

Kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib mensahkan diri-Nya sebagai anak Allah yang lulus. Kalau Ia tidak lulus, Ia juga tidak pernah lagi menjadi Anak Allah. Ia akan terbuang selamanya dari hadirat Allah Bapa yang sama dengan tidak dibangkitkan dari maut. Itulah sebabnya pergumulan hebat-Nya adalah dapat dilepaskannya dari maut.4 Walaupun Ia adalah Anak Tunggal Allah Bapa, tetapi ketika Ia mengosongkan diri, Ia harus kembali belajar taat dari apa yang diderita-Nya.5 Puji Tuhan, Tuhan Yesus berhasil. Ia lulus. Demikian pula kita yang mau menjadi anak-anak Allah yang sah, harus mendengar dengan sungguh-sungguh apa yang diajarkan-Nya dan mengikut jejak-Nya. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus.6 Kalau seseorang memiliki pikiran dan perasaan Kristus, bukan sebagian pikiran dan perasaan-Nya, maka pasti seseorang bisa mencapai level seperti level yang dapat dicapai-Nya.

1) Yohanes 4:34 ; 2) Ibrani 5:9 ; 3) Matius 3:17 ; 4)Ibrani 5:7 ; 5) Ibrani 5:8 ; 6) Filipi 2:5-8

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.