16. Bermetamorfosa

KATA METAMORFOSA berarti suatu proses perkembangan pada makhluk hidup yang melibatkan perubahan fisik dan strukturnya akibat pertumbuhan sel dan differensiasi sel yang secara radikal berbeda. Proses metamorfosa ini terjadi pada beberapa serangga, binatang kelompok amphibi dan lain sebagainya. Dari seekor ulat yang menjijikan menjadi kupu-kupu yang cantik adalah keajaiban yang sebenarnya sangat luar biasa. Sebelum ilmu pengetahun hari ini menggunakan istilah ini, Paulus sudah menggunakannya dalam Roma 12:2. Kata ini digunakan untuk menunjukkan perubahan orang percaya dalam perubahan yang diharapkan radikal. Radikalismenya sampai pada tingkat membuat orang percaya berbeda dengan orang-orang pada umumnya.

Jika seseorang mengalami proses metamorfosa, ini berarti ia mengalami proses kelahiran baru. Dalam hal ini harus dimengerti bahwa kelahiran baru bukanlah kejadian sekejap, tetapi merupakan sebuah proses panjang. Proses metamorfosa pada dasarnya sama dengan proses kelahiran baru. Orang yang mengajarkan kelahiran baru sebagai kejadian supranatural, dalam sekejap pada waktu tertentu -seperti pada waktu kebaktian kebangunan rohani- sungguh menyesatkan. Kelahiran baru terjadi ketika seseorang terus menerus mengganti cara berpikirnya dengan cara berpikir Tuhan melalui Injil-Nya. Perubahan orang percaya yang mengalami proses metamorfosa ini harus merupakan perbedaan yang mendasar. Hal ini bisa terjadi kalau filosofi hidupnya diubah total. Perubahan ini membutuhkan waktu dan kerja keras yang luar biasa. Inilah perjuangan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dengan “masuk jalan sempit.1 Jika tidak melalui perjuangan dan waktu panjang, maka tidak akan terjadi. Kesalahan banyak orang adalah tidak sungguh-sungguh melakukan perjuangan tersebut. Sementara waktu berjalan terus, dunia menyeretnya kepada berbagai kesibukan dan kesenangan yang tidak mendukung proses metamorfosa tersebut. Banyak orang Kristen tidak menyadarinya, mereka menukar hak kesulungan dengan sepiring makanan.2 Sepiring makanan kesibukan dan kesenangan yang menghalangi dan menggagalkan proses metamorfosa ini. Waktu dan sarana yang seharusnya digunakan untuk mengalami proses metamorfosa, digantikan dengan banyak hal. Orang-orang seperti ini tidak mendahulukan Kerajaan Surga. Oleh sebab itu selama Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita -untuk memiliki kehidupan dimana aktivitas sel-sel saraf atau neuron-neuron dalam otak kita bekerja untuk membangun pola pikir Ilahi untuk menjadi anak-anak Allah- kita harus memanfaatkannya. Suatu hari otak seseorang akan membusuk dan tidak bisa lagi digunakan lagi dalam proses metamorfosa.

Tanda orang yang mengalami perubahan tersebut, tidak cukup hanya dengan memeluk agama Kristen, bermoral baik dan mengambil bagian dalam kegiatan gereja. Kegiatan dalam aktivitas gereja seperti ini justru sering menipu dan menjadi tempat persembunyian orang Kristen yang merasa sudah lahir baru, padahal mereka belum mengalami kelahiran baru sama sekali. Tidak ada proses pertumbuhan manusia Allah dalam dirinya. Mereka tidak menyadari, bahkan merasa sudah mengalami kelahiran baru. Hal ini terjadi sebab mereka belum dicerahi oleh kebenaran Injil. Mereka berhenti belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak menyadari bahwa terdapat kawasan-kawasan rohani yang menakjubkan kalau sekiranya mereka bertumbuh. Terkait dengan hal ini, pemisahan apakah seseorang akan menjadi anak Allah atau tidak, sudah harus mulai berlangsung jauh-jauh hari dalam kehidupan orang percaya. Bagi orang-orang yang mau menjadi anak Allah, harus sudah nampak keaktifannya dalam mencari kebenaran dan kesediaan untuk terus bertobat memperbaharui diri tanpa henti. Baginya waktu hidup ini hanyalah untuk menjalankan proses metamorfosa. Dengan cara ini orang Kristen bermetamorfosa atau ditransformasi menjadi (berkeadaan sebagai) anak-anak Allah. Semakin tahun keberadaannya sebagai anak Allah akan semakin nyata. Sungguh indah sekali.

1) Lukas 13:23-24 ; 2) Ibrani 12:16

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.