15. SEORANG KASIR

Pertanyaan yang selalu muncul dan dipersoalkan adalah: Berapa jumlah persembahan dalam bentuk uang yang patut diberikan kepada Tuhan melalui gereja? Jika menggunakan praktik perpuluhan, biasanya sepersepuluh dari gaji atau penghasilan. Kalau dipersoalkan apakah sepuluh persen tersebut dari penghasilan kotor atau penghasilan bersih setiap bulannya, maka sulit menjawabnya; sebab sulit untuk membuat perhitungan bagi mereka yang berbisnis, dan yang menerima hasil dari deviden setiap tahun, belum lagi kalau sebagian hasilnya diinvestasikan lagi. Apakah perpuluhan diberikan sebelum membayar pajak atau sesudahnya? Bagaimana dengan bonus uang yang diterima pegawai, mendapat bonus jalan-jalan wisata ke luar negeri dan lain sebagainya?Kalau jujur sebenarnya rumit untuk menemukan nilai sepuluh persen dari penghasilan.

Semestinya kalau sudah berbicara bahwa segenap hidup kita milik Tuhan, maka tidak ada lagi perhitungan persentase untuk Tuhan, atau berapa yang wajib diberikan kepada Tuhan melalui gereja. Iuran wajib yang dilakukan beberapa gereja bagi jemaatnya -yangmenekankan persentase jumlah uang persembahan dari penghasilan- bisa merusak prinsip persembahan segenap hidup bagi Tuhan. Karena segenap hidup kita -termasuk semua harta kita- adalah milik Tuhan, maka seharusnya kita memikirkan dengan serius semua kebutuhan pelayanan gereja tanpa merasa keberatan berapapun kebutuhannya. Persoalan yang harus dihadapi gereja dengan seluruh pembiayaannya harus menjadi persoalan semua jemaat. Kalau untuk kebutuhan sekolah anak-anak, membangun rumah, membeli kendaraan, wisata dan lain sebagainya, kita bisa mempertaruhkan harta kita, mengapa untuk pekerjaan Tuhan kita tidak mempertaruhkan segenapnya juga?

Kenyataan yang kita jumpai hari ini, banyak orang yang merasa bahwa semua yang dimilikinya adalah miliknya sendiri. Tidak heran jika hartanya bertambah banyak, maka rumahnya semakin besar, mobilnya semakin mewah, perhiasannya semakin berkilauan, barang-barangnya semakin branded dan lain sebagainya. Inilah irama hidup manusia pada umumnya, termasuk banyak orang Kristen. Mereka merasa bebas menggunakan harta yang ada pada mereka sesuka hati, sebab mereka merasa bahwa semua harta yang dimiliki adalah hasil jerih lelahnya. Orang-orang seperti ini adalah perampok-perampok di mata Allah yang suatu hari harus bertanggungjawab di hadapan Tuhan.

Karena segenap hidup kita -termasuk semua harta yang ada pada kita- adalah milik Tuhan, maka kita harus selalu mengingat bahwa kita adalah seorang “kasir” atau seorang pengelola milik “Majikan Agung”. Dalam Lukas 16:11 Firman Tuhan mengatakan demikian:Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?. Maksud harta orang lain di sini adalah harta Tuhan, bukan harta kita sendiri. Sedangkan harta kita sendiri sesungguhnya nanti di Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Harta Tuhan yang dipercayakan kepada kita, harus kita kelola sepenuhnya untuk kepentingan Tuhan. Orang yang mengelola harta milik Tuhan dengan benar, akan memperoleh hartanya sendiri di Kerajaan Surga nanti.

Dalam penggunaan semua harta yang kita miliki -yang semua itu milik Tuhan- kita harus mengerti dengan tepat apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Kita tidak boleh menggunakan harta yang ada pada kita sesuka hati kita. Kita harus menggunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan secara tepat. Dalam hal ini dibutuhkan kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan dengan tepat. Dengan demikian, sangatlah jelas, ternyata penggunaan harta dan persembahan bagi Tuhan sangat bertalian dengan kedewasaan rohani seseorang. Orang yang dewasa rohani memahami dan menerima bahwa segenap hidupnya adalah milik Tuhan. Ia sangat bersedia mempersembahkan segenap hidupnya tanpa batasbagi Tuhan. Biasanya orang percaya seperti ini, juga telah menghayati bahwa hartanya sendiri ada di langit baru dan bumi yang baru. Orang percaya yang dewasa rohani juga memiliki kesucian hidup. Kesucian hidup membuat seseorang peka terhadap kehendak Allah.

Bagi anak-anak Tuhan,memberikan persembahan untuk pekerjaan Tuhan berapa besarnya, berupa apapun, bukanlah berdasarkan konsep perpuluhan orang Yahudi, tetapi harus dilandasi kasih dan komando Roh Kudus. Harus dipahami bahwa kasih lebih mulia (luhur) dari hukum Taurat.Kalaupun harus menggunakan perhitungan perpuluhan sebagai alternatif, tetapi itu bukan keharusan atau kewajiban mutlak yang kaku. Jadi sebenarnya yang berhak menentukan prosentase persembahan adalah Roh Kudus, bukan hukum dari siapapun.

Pada akhirnya, untuk menjawab berapa jumlah uang yang harus dipersembahkan bagi Tuhan melalui gereja adalah coram Deo. Coram Deo adalah keputusan yang dihasilkan dari pergumulan optimal dengan Tuhan. Hal ini harus berlangsung setiap saat. Seorang kasir selalu siap melakukan perintah atau komando “Sang Majikan”. Orang percaya seperti ini adalah hamba Tuhan yang sejati, yang setiap saat siap mengawal Kerajaan Allah di bumi ini, yaitu bagaimana hidup untuk pelebaran Kerajaan Allah, agar banyak orang mendengar kebenaran dan diubahkan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.