15. Selalu Memuaskan Tuhan

TIDAK ADA YANG lebih pantas untuk membalas kebaikan-Nya selain selalu memuaskan hati Tuhan. Memuaskan hati Tuhan bukan hanya berarti kita tidak melukai hati-Nya. Sering kita mendengar orang berkata agar kita tidak melukai hati Tuhan. Selama ini tidak melukai hati Tuhan dipahami oleh sebagian besar orang Kristen adalah hidup dalam ketaatan kepada hukum dan bermoral baik di mata masyarakat. Kalau hanya hidup menurut hukum, belumlah memenuhi tuntutan standar hidup sempurna seperti Bapa atau melakukan kehendak Bapa.1 Umat Perjanjian Baru memiliki tuntutan yang jauh lebih berat dari umat Perjanjian Lama. Sebab umat Perjanjian Baru adalah umat yang dirancang menjadi anak-anak Allah yang harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Pikiran dan perasaan Kristus diperagakan dalam tindakan. Tindakan yang Tuhan Yesus lakukan didasarkan pada prinsip: “Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”.2 Inilah irama hidup yang selalu memuaskan hati Bapa.

Selalu memuaskan hati Tuhan berarti kita aktif untuk mencari dan menemukan apa yang membuat hati Bapa puas. Itu berarti kita selalu bertanya: Apa yang harus kulakukan, Bapa? Sampai kita menjadi peka terhadap kehendak Bapa, sehingga secara otomatis kita dapat mengerti apa yang dikehendaki oleh Bapa untuk kita lakukan setiap hari. Hal selalu memuaskan hati Bapa adalah hal yang tersulit dalam hidup ini, tetapi ini merupakan puncak atau klimaks dari prestasi kehidupan yang dikehendaki oleh Bapa. Tuhan Yesus telah mencapai level ini. Ia taat kepada Bapa, bahkan taat sampai mati di kayu salib. Jika kita menyatakan diri menjadi pengikut Tuhan Yesus, kita pun harus mengikuti jejak-Nya sampai mencapai level ini. Pada akhirnya, inilah goal akhir dari perjalanan kita sebagai orang percaya.

Selalu memuaskan hati Bapa dimulai dari menit pertama pada pagi hari bangun tidur sampai pada malam hari rebah kembali ke pembaringan. Memang sangat sulit untuk mencapai level “selalu memuaskan hati Bapa”, sebab kita sudah terbiasa hidup dengan irama “menyenangkan diri sendiri”. Banyak orang sudah merasa puas dengan keadaan dirinya yang tidak melanggar moral, tidak merugikan sesama, apalagi memiliki martabat moral yang baik di mata manusia lain. Sehingga mereka tidak memperkarakan bahwa mereka belum memiliki kehidupan yang selalu memuaskan hati Bapa. Kalau keadaan ini berlarut-larut, maka sampai titik tertentu mereka tidak akan dapat bertumbuh lagi sama sekali.

Sangat sulit untuk mencapai level selalu memuaskan hati Bapa, tetapi tidak ada yang tidak dapat dilakukan kalau diusahakan dengan sungguh-sungguh. Allah Bapa melalui Roh Kudus akan menolong orang percaya yang mengasihi Dia, untuk dapat menjadi serupa dengan anak-Nya. Untuk ini Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.3 Dari diri kita harus ada kerinduan yang kuat untuk bisa mencapai level tersebut. Kerinduan ini merupakan perasaan “haus dan lapar akan kebenaran”. Tuhan akan memuaskan orang yang haus dan lapar akan kebenaran. Pada akhirnya, sebelum kita menutup mata, kita harus sampai pada level ini. Ketika seseorang sampai pada level ini, maka barulah ia memiliki kemerdekaan yang sesungguhnya. Hatinya akan sangat merindukan bertemu dengan Tuhan Yesus.

Kehidupan memuaskan hati Bapa adalah kehidupan standar orang yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus. Memang setiap orang yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus harus menyerahkan diri sepenuhnya bagi Majikan yang telah menebusnya. Orang tebusan hidup hanya untuk melayanai kepentingan Tuan yang memilikinya dan menyenangkan hati Tuan tersebut. Hanya orang yang menjadi hamba yang dapat selalu memuaskan hati Tuannya, dan yang akan diperkenan melayani Dia selama-lamanya di dalam Kerajaan-Nya.

1) Matius 5:48; 7:21-23 ; 2) Yohanes 4:34 ; 3) Roma 8:28

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.