15 Oktober 2014: Dua Manusia

Harus dipahami bahwa di dalam diri kita ada dua jenis manusia. Pertama manusia lama yang disemangati oleh spirit dan cara berpikir yang diwarisi dari nenek moyang dan lingkungan. Kedua, manusia baru yang di semangati oleh kebenaran Firman Tuhan. Kalau seseorang tidak mendengar Firman Tuhan yang benar, pada dasarnya manusia baru yang dimilikinya bukanlah manusia baru yang sejati. Dinamika seperti ini sebenarnya juga dialami setiap orang yang memasuki keadaan yang baru, misalnya kalau seseorang pergi keluar negeri dengan keadaan yang sangat berbeda dengan negara asalnya. Ia harus berusaha untuk mengikuti gaya hidup masyarakat dimana ia menetap dari cara berpakaian, sopan santun, tegur sapa, cita rasa makanan dan lain sebagainya. Keadaan akan memaksa dirinya untuk berubah, sebab kalau tidak mau berubah ada sangsi sosial yang akan dipikulnya dan berbagai kesulitan lainnya. Melalui proses waktu, gaya hidup dan cara berpikir orang tersebut pasti berubah. Pada waktu mengalami masa transisi ia akan melihat di dalam dirinya ada dua manusia, manusia lama yaitu gaya hidup manusia yang dibawanya dari daerah atau negara asal, dan manusia baru yang sedang terus mengalami proses perubahan. Hal ini merupkan proses wajar dan natural. Demikian pula dengan kehidupan kekristenan. Sebelum seseorang mengenal Tuhan Yesus, memiliki gaya hidup dan cara berpikir anak-anak dunia. Cara hidup ini disebut oleh Petrus sebagai cara hidup yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang (1Ptr. 1:18). Setelah kita mengambil keputusan untuk mengikut Tuhan, maka kita harus mengalami pertobatan setiap hari atau pembaharuan pikiran untuk membangun manusia baru dan menanggalkan manusia lama (Ef. 4:17:24). Ini juga merupakan proses wajar dan natural. Hendaknya kita tidak berpikir mistis, seakan akan kalau sudah menyatakan menerima Tuhan Yesus, maka otomatis sudah menjadi manusia baru. Memang ketika seseorang menerima Tuhan Yesus (sebagai penguasa) (Yoh. 1:10-11), maka ia diberi kuasa atau hak (exousia) untuk menjadi anak-anak Allah. Namun harus dimengerti bahwa exousia tersebut tidak otomatis membuat seseorang berkeadaan sebagai anak-anak Allah (de fakto). Ia harus mengalami proses pemuridan. Allah Bapa di Surga akan mendidik orang-orang ini untuk pantas disebut anak Allah (huios) melalui hajaran dan didikan yang diberikan Bapa (Ibr. 12:6-10). Ciri anak yang sah adalah mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.