15 November 2014: Atmosfir Atheis

Pada umumnya atmosfir yang memuat gairah hidup yang ada di sekitar kita adalah gairah hidup yang tidak mengakui keberadaan Tuhan; atmosfir atheis praktis. Secara teori masyarakat memercayai adanya Tuhan, tetapi dalam perilakunya menunjukkan seakan-akan tidak ada Tuhan. Suasana seperti ini melingkupi kehidupan semua orang hampir di semua tempat. Sebagai akibatnya banyak orang Kristen juga terpengaruhi oleh suasana dunia yang fasik tersebut. Hal ini sangat menghambat untuk dapat menghadirkan Tuhan dalam hidup ini. Tuhan memang Mahahadir, tetapi seberapa kuat kehadiran Tuhan tergantung masing-masing individu menyambut kehadiran-Nya. Banyak orang Kristen yang ditinjau dari perbuatannya menunjukkan seakan-akan Tuhan tidak ada. Pastilah ini akibat suasana dunia yang atheis tersebut. Mereka tidak menghadirkan Tuhan, sehingga melakukan banyak perbuatan yang tidak sesuai dengan Tuhan. Tanda yang lain kalau seseorang tidak menghadirkan Tuhan dalam hidup adalah kecemasan dan ketakutan yang mudah menguasai dan membelenggu hidup seseorang.

Dalam Alkitab kita dapat menemukan orang-orang yang memercayai dan merasakan kehadiran Tuhan begitu kuat sehingga mereka bisa hidup benar dan berani menghadapi segala persoalan dan ancaman. Sosok pertama yang kita soroti adalah Yusuf. Ketika nyonya Potifar membujuknya untuk berbuat dosa, ia mengatakan: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej. 39:7-9). Sebenarnya Yusuf memiliki dua alasan untuk melakukan dosa itu. Pertama, ia bukan yang memulai kesalahan tersebut. Dirinya yang dibujuk oleh nyonya Potifar. Kedua, ia dalam keadaan terbuang tanpa kasih sayang. Ia bisa merasa berhak mengisi kekosongan hatinya dengan nyonya Potifar. Tetapi Yusuf tidak melakukan kesalahan yang dapat melukai hati Tuhan. Dengan integritas tinggi ia menolak berbuat dosa. Contoh kedua adalah Sadarkh, Mesakh dan Abednego. Mereka tetap menolak menyembah patung walaupun diancam dengan hukuman dibakar hidup-hidup. Dalam kesaksiannya mereka berkata: “… kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (Dan. 3:10- 17). Sadrakh dan teman-temannya begitu yakin bahwa Tuhan hadir dan menyertai mereka, sekalipun mereka menemukan kenyataan seakan-akan Tuhan seperti tidak berbuat apa-apa.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.