15. MENOLAK MENYEMBAH IBLIS

Frase “menyembah Iblis” mengesankan sesuatu yang fatalistis, apalagi di antara komunitas orang beragama. Tetapi inilah faktanya, banyak orang beragama termasuk orang Kristen di zaman ini menyembah Iblis. Dalam Lukas 4: 4-8 terdapat fragmen mengenai Iblis yang membujuk Yesus untuk menyembah dirinya, dengan memberi umpan atau menawarkan keindahan dunia ini. Tuhan Yesus menolak dengan tegas, dan berkata agar semua makhluk ciptaan menyembah Allah. Dari fragmen ini sudah cukup memberi kesimpulan kepada kita, bahwa mengingini dunia ini sama dengan menyembah Iblis. Hal inilah yang sekilas sukar untuk kita mengerti dan menerimanya. Tetapi demikian sesungguhnya kebenaran itu. Melihat hal ini, betapa kita harus memperhatikan jerat harta kekayaan tersebut.

Kalau seseorang sudah cinta akan uang dan memiliki kesempatan untuk meraihnya, maka ia dapat terjerat, hal ini dapat membinasakan jiwanya. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Yesus berkata: “Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mrk. 10:24-25). Kalau seseorang sudah terjerat oleh tipu daya kekayaan, maka ia sukar untuk bertobat, dan Kekristenan orang tersebut pasti tidak bertumbuh (Mat. 13:22). Orang seperti itu bisa menjadi orang beragama yang baik, tetapi tidak pernah mengalami keselamatan, artinya tidak pernah mengalami proses dikembalikan ke rancangan Allah semula.

Dalam mengantisipasi Iblis, Yesus berkata: “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti”. Di dalam kalimat inilah terletak arti dan isi kehidupan ini. Kalau kehidupan ini tidak diisi dengan menyembah Allah dan berbakti kepada Dia saja, maka hidup ini tidak berarti sama sekali. Lebih baik seseorang tidak pernah menjadi manusia dan tidak pernah hidup di dunia ini, daripada hidup tanpa memiliki arti dan isi yang tidak sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus kemukakan. Kehidupan yang tidak berarti karena tidak menyembah dan berbakti kepada Allah adalah jalan manusia menuju kebinasaan abadi. Allah tidak melestarikan kehidupan semacam ini dalam Kerajaan-Nya.

Dari ucapan Tuhan Yesus di atas jelas bahwa penyembahan dan pengabdian kepada Tuhan adalah suatu keharusan. Setiap makhluk, termasuk manusia, harus menyembah dan mengabdi kepada Tuhan, kurang dari ini berarti tidak hidup sebagai manusia normal. Dalam hal ini sekilas Tuhan seperti Pribadi yang absolut dan otoriter. Memang, Allah adalah Allah yang berhak bertindak otoriter (bertindak berdasarkan kemauan dan kesukaan-Nya) dan Ia adalah Allah yang absolut (mutlak harus dipatuhi). Kita harus menerima realitas ini, sebab kita adalah hasil karya-Nya dan diciptakan untuk mengabdi serta melayani-Nya. Seharusnya setelah kita mengenal kebenaran dalam Injil dan menjadi anak tebusan-Nya, kita harus menyadari dan bersedia menerima bahwa seluruh hak kita telah dimiliki oleh Tuhan. Kita hanya hidup bagi Dia saja.

Menyembah Iblis versi modern adalah ketika seseorang merasa tidak lengkap hidup tanpa memiliki berbagai fasilitas yang ada untuk kebahagiaan diri dan prestisenya atau kebanggaannya. Orang-orang seperti ini telah terpengaruhi dan terbentuk oleh semangat zaman ini. Mereka mengumbar keinginan memiliki apa yang orang lain miliki, tanpa mempersoalkan apakah hal itu demi kepentingan Tuhan atau kesenangan dan kebanggaan pribadi. Orang yang mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini dengan fasilitas uang atau harta, pasti menyembah Iblis. Mereka adalah orang yang terikat oleh percintaan dunia, tetapi orang yang tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini dengan berbagai fasilitasnya adalah orang yang menolak menyembah Iblis. Orang yang tidak menyembah Iblis tetapi hanya menyembah Allah, menggantungkan suasana jiwanya pada Tuhan. Tuhan menjadi kebahagiaannya. Orang seperti ini dapat menyembah Tuhan dengan benar. Inilah yang harus dengan berani kita kenakan dalam hidup kita. Dengan demikian kita dapat menantang zaman.

Banyak orang Kristen merasa tidak menyembah Iblis karena tidak terlibat dalam perdukunan atau praktik okultisme. Tidak terlibat dengan perdukunan atau praktik okultisme bukan berarti tidak menyembah Iblis. Sesungguhnya, ketika seseorang mencintai dunia ini atau bersahabat dengan dunia ini, maka ia menjadikan dirinya sebagai musuh Allah. Menjadikan diri sebagai musuh Allah berarti ada di pihak musuh. Siapa mereka yang ada di pihak musuh? Tentu mereka yang bersahabat dengan Iblis. Berhubung Iblis menjadi majikannya, seperti yang diingini bahwa dirinya mau berkuasa, maka orang yang bersahabat dengan Iblis pasti orang yang menyembah Iblis. Percintaan dengan dunia sebenarnya juga sama dengan perzinaan rohani. Ini sama dengan dosa berhala. Ini adalah praktik percabulan rohani dalam kehidupan umat Tuhan. Banyak orang Kristen berkeadaan seperti ini. Sayangnya, gereja tidak memperingatkan mereka dengan tegas, sehingga banyak mereka yang sesat. Mereka dianggap hidup wajar sebagai orang beragama yang tidak menyalahi norma umum kehidupan ini. Padahal mereka adalah pengkhianat bagi Tuhan Yesus.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.