15. MENGASIHI DENGAN BENAR

Orang yang hidup beriman dalam Tuhan adalah orang yang mengasihi Tuhan secara patut. Kepatutan mengasihi Tuhan, harus didasarkan pada ukuran Alkitab. Pernyataan yang jelas dan tegas mengenai hal ini terdapat dalam Matius 22:37, bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, akal budi dan kekuatan. Perintah ini sudah jelas menunjukkan bahwa segenap hidup harus dipersembahkan bagi Tuhan. Ditambah lagi dengan pernyataan Tuhan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24), maka lengkaplah, bahwa orang percaya harus sepenuhnya hidup dalam pengabdian kepada Tuhan. Dengan demikian sangatlah jelas pernyataan Tuhan Yesus bagi orang percaya, dan kita tidak boleh menghindar, bahwa hidup harus dipersembahkan sepenuhnya bagi Tuhan.

Penyesatan yang terjadi dewasa ini adalah seorang Kristen dianggap sebagai pelayan Tuhan sepenuh waktu (full timer) jika ia meninggalkan pekerjaan umum atau pekerjaan sekuler, kemudian mengkhususkan diri bekerja di gereja. Kalau pekerjaan itu menyangkut pelayanan mimbar, konseling, pelayanan liturgi atau kesekretariatan, maka sebutan yang otomatis disandangnya adalah “hamba Tuhan”. Bagaimana dengan Saudara yang tidak bekerja di gereja? Apakah Saudara bukan “full timer-nya Tuhan”?

Tuhan Yesus berkata: “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Luk. 20:25). Dari pernyataan Tuhan Yesus dapat diperoleh kebenaran bahwa tidak membayar pajak berarti memberontak, demikian pula kalau seseorang tidak menyerahkan diri bagi Tuhan juga adalah seorang pemberontak dihadapan-Nya. Dalam hal ini setiap orang percaya harus menyerahkan diri untuk melayani Tuhan. Dari hal ini jelas sekali, bahwa semua orang percaya harus menjadi full timer bagi Tuhan.

Hal yang juga merusak panggilan untuk melayani Tuhan adalah ketika diajarkan bahwa kita berhak menuntut Tuhan, biasanya dengan alasan karena kita anak-anak-Nya. Pengajaran ini menghanyutkan banyak orang Kristen dalam kebodohan dan sikap tidak bertanggung jawab. Dalam berurusan dengan Tuhan, mereka merasa berhak meminta apa pun yang menurutnya sebagai kebutuhan. Padahal yang benar adalah, kalau Alkitab mencatat bahwa kita diangkat sebagai anak-anak-Nya, bukan berarti kita dapat memanfaatkan atau menggunakan Tuhan. Kalau kita dinyatakan sebagai anak, maka utamanya bukan pemenuhan berkat jasmani, tetapi kita dipanggil untuk berkelakuan seperti Bapa (1Ptr. 1:17-18). Selanjutnya, kita juga dipanggil untuk menderita bersama-sama dengan Dia (Rm. 8:17). Mengajarkan Injil sebagai jalan mudah untuk menerima pemenuhan berkat jasmani adalah sesat. Ini berarti merusak bangunan iman Kristen yang harus terbangun dalam hidup kita.

Mengapa kita tidak berani berkata bahwa diri kita adalah hamba Tuhan yang statusnya full timer bagi Tuhan? Ada beberapa penyebabnya. Pertama, konsep yang salah mengenai pelayanan. Pelayanan selalu dikaitkan dengan kegiatan di lingkungan gereja. Padahal tanpa dukungan kaum di luar gereja, gereja lumpuh tidak dapat berbuat apa-apa. Harus diingat bahwa banyak anggota, tetapi satu tubuh (1Kor. 12:12). Masing-masing anggota memiliki panggilan khusus. Profesi yang disandang seseorang juga adalah jabatan rohani untuk mendukung rencana penyelamatan dunia. Pemisahan pekerjaan rohani dan pekerjaan duniawi yang diukur dengan pekerjaan di lingkungan gereja dan di luar lingkungan gereja adalah pembodohan yang membuat anak-anak Tuhan tidak sungguh-sungguh mengembangkan diri di bidang yang digelutinya sebagai pelayanan. Kemudian terjadi pengkultusan terhadap satu sosok. Padahal semua anak Allah adalah imamat-imamat bagi Tuhan (1Ptr. 2:9).

Kedua, ketidaksediaan mempersembahkan segenap hidup bagi Tuhan. Hal ini terjadi sebab ia berkeberatan menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Pribadinya masih egois. Ia hanya melihat kepentingan dirinya, keluarga dan orang-orang yang dianggap sebagai sesamanya. Orang-orang seperti akan merasa tidak aman kalau masuk dalam pelayanan. Ia merasa hidupnya akan terganggu. Ia merasa perjuangannya mencapai semua keberhasilan itu hanya pantas untuk dirinya sendiri. Kalaupun ia membagi miliknya bagi orang lain, ia pasti memberi dalam kelebihan atau kemewahannya, bukan seperti janda dalam yang memberi segenap hidupnya, ia memberi dalam kekurangan (Luk. 21:1-4).

Ketiga, ketidaksediaan meninggalkan kesenangan dunia, termasuk praktik dosa dalam kehidupannya setiap hari. Menunggu hidup suci atau tidak melakukan praktik dosa kemudian baru mau melayani Tuhan hampir pasti tidak pernah terjadi. Mestinya saat ini, ketika Firman Tuhan disampaikan, kita bertobat dan mengambil keputusan untuk sepenuh hati melayani Dia. Kalau tidak, maka kesempatan akan hilang sama sekali. Biasanya seseorang yang menolak mempersembahkan hidup bagi Tuhan, bukan menolak mengabdikan hidupnya bagi Tuhan sama sekali, tetapi hanya menundanya. Berhubung ia merasa bahwa hidupnya belum bersih, banyak dosa dan kelemahan. Ia merasa tidak layak mengambil bagian dalam pelayanan, kemudian menunda apa yang seharusnya tidak ditunda.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.