15. KELAHIRAN BARU

ORANG YANG DILAHIRKAN oleh Allah akan sadar dan mengerti sekali bahwa dirinya sudah dilahirkan oleh Allah. Ini bukan sesuatu yang bersifat spekulasi atau tidak ada kejelasan. Kalau seseorang berjuang untuk berubah bagaimana menjadi manusia Allah yang berkarakter seperti Bapa, maka ia akan mengerti proses perubahan yang dialami dan level yang dicapainya. Kalau seseorang ragu-ragu, apakah dirinya sudah lahir baru atau belum, hal ini menunjukkan bahwa ia tidak mengalami pergumulan yang benar untuk dilahirkan oleh Allah. Seperti sakit bersalin yang dialami Roh Kudus dalam melahirkan kita, juga kita rasakan. Tentu Roh Kudus melewati masa-masa yang sulit ketika seseorang masih hidup dalam daging dan selalu memberontak terhadap kehendak-Nya. Sampai pada suatu level seseorang bisa bertumbuh dewasa dan mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah.1 Orang percaya sendiri juga akan mengalami pergulatan yang hebat ketika menyesuaikan kehendaknya terhadap kehendak Allah.

Pergumulan hebat itu disebabkan karena irama hidup yang sudah salah selama bertahun-tahun dan sudah terbiasa menikmatinya, tetapi sekarang harus mengenakan irama hidup yang baru. Dalam hal ini orang percaya pasti mengalami jatuh bangun sampainyaris dan bisa “putus asa”. Pergumulan ini ditulis oleh Paulus, “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak”.2 Untuk menjadi anak yang sah (huios) seseorang harus memberi diri dididik oleh Bapa atau dilatih oleh-Nya.

Mengapa banyak orang yang tidak menyadari apakah dirinya telah dilahirkan oleh Allah atau belum? Sebab merela tidak mengalami perjuangan untuk dilahirkan oleh Allah. Mengapa tidak mengalami? Sebab tidak tahu bahwa ia harus berjuang untuk mencapai level tertentu, dimana dirinya sungguh-sungguh mengalami kelahiran baru tersebut. Level hidup bagaimana yang harus dicapainya untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah dilahirkan oleh Allah? Level itu adalah keberadaan seperti Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus sempurna seperti Bapa.3 Pernyataan Tuhan Yesus dalam ayat ini bisa berarti bahwa kita harus berjuang untuk dilahirkan oleh Allah atau mengalami kelahiran baru. Dalam hal ini kelahiran baru bukanlah sebuah proses otomatis oleh anugerah, tetapi buah dari respon yang benar terhadap anugerah Allah.

Level orang yang telah dilahirkan oleh Allah dikatakan oleh Yohanes dalam suratnya bahwa: “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah”.4 Kata “berbuat” dalam teks aslinya adalah poiei (ποιεῖ), yang memiliki keterangan waktu present aktif indikatif orang ketiga tunggal (verb indicative present active 3rd person singular) dari akar kata poieo (ποιέω). Kata ini bila diterjemahkan bebas berarti “terus menerus berbuat dosa”. Jadi sejatinya, orang yang dilahirkan dari Allah tidak terus menerus berbuat dosa. Sering keterangan waktu present aktif indikatif ini menjadi senjata untuk menentang bahwa orang yang dilahirkan baru mendapat peluang untuk berbuat dosa, sehingga ada sikap permisif terhadap kesalahan. Kalau jujur, kita harus berani tegas mengatakan bahwa orang yang dilahirkan oleh Allah dapat hidup tidak bercacat dan tidak bercela secara permanen, seperti Allah yang tidak mungkin melakukan suatu kesalahan atau dosa.

1) Yohanes 1:13 ; 2) Yohanes 1:1-12 ; 3) Yohanes 1:10-11 ; 4) Matius 7:21-23 ; 5) Matius 4:4 ; 6) Roma 8:28

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.