15 Januari 2015: Harga Diri

Harga diri artinya kesadaran terhadap berapa nilai yang diberikan kepada diri sendiri. Nilai harga diri seseorang bisa ditentukan oleh bermacam-macam ukuran sesuai dengan filosofi hidup orang tersebut. Ada yang menilai diri dengan materi atau kekayaan. Ada yang menilai diri dengan pendidikan. Ada yang menilai diri dengan pangkat. Ada yang menilai diri dengan “keakuan”; aku adalah aku, aku terhormat, aku harus dihargai dan lain sebagainya. Orang-orang seperti ini akan mudah terluka kalau direndahkan oleh siapapun. Mereka biasanya menuntut untuk dihargai orang lain. Harga diri bertalian dengan perasaan, sebab ketika nilai yang diberikan orang kepada diriya tidak seperti yang diharapkan maka ia akan tersinggung atau terluka karena merasa direndahkan. Harga diri inilah yang membuat seseorang menuntut orang memperlakukan dirinya sedemikian rupa sesuai dengan keinginannya.

Kita harus sadar bahwa tatkala kita bertobat maka Tuhan telah menebus kita seutuhnya. Oleh sebab itu kita tidak boleh menghargai diri kita secara berlebihan sehingga kita lupa bahwa kita bukan milik kita sendiri. Dalam keluarga, pergaulan dan pelayanan, memasang tarif harga diri pada prinsipnya adalah “kesombongan”. Oleh sebab kita tidak mau dianggap rendah, miskin, bodoh maka kita bersikap menolak atau menentang secara “frontal”. Dalam kehidupan sering hal ini menjadi awal sebuah bencana. Banyak orang yang memanjakan perasaannya sehingga ia mengorbankan kepentingan yang besar. Tidak mungkin orang seperti ini bisa diajak berpikir besar seirama dengan Tuhan bagi pekerjaan dan kerajaan-Nya.

Mengapa orang mudah tersinggung ketika harga dirinya direndahkan? Jawabnya adalah karena pribadi orang tersebut tidak matang, perasaannya belum dewasa. Orang-orang seperti ini akan selalu menuntut lingkungannya menghargai dirinyasesuai dengan harga yang dipatoknya. Dalam hal ini kita harus mengerti bahwa penyaliban diri bukan hanya penolakkan terhadap keinginan-keinginan yang  bertentangan dengan hukum, tetapi juga kesediaan dan kerelaan untuk tidak dihargai. Oleh sebab itu kita tidak boleh memanjakan perasaan demi kepuasan diri, artinya merasa berhak untuk dihormati. Bila Tuhan Yesus menjadi Tuhan atas kita maka demi kepentingan Tuhan, kita harusrela tidak memiliki harga diri sehingga setiap langkah kita adalah usaha untuk mempermuliakan nama-Nya.

Dalam Filipi 2:5 tertulis, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Sebelum ayat ini muncul ayat sebelumnya berbunyi: Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”1 Dengan demikian dapat dimengerti, bahwa panggilan untuk meneladani Kristus bertalian dengan hidup bersama-samadengan orang lain. Hal ini dimaksudkan bahwa meneladani gaya hidup Kristus bertujuan agar seseorang menjadi berkat bagi orang lain dalam hidup bersama. Jadi, dimanapun orang percaya berada mestinya mendatangkan keuntungan bagi orang lain dalam bingkai pelayanan pekerjaan Tuhan. Kalau seseorang mematok harga dirinya atau seperti seorang pedagang memasang bandrol harga, maka ia tidak akan dapat hidup dalam persekutuan secara dengan benar dengan sesama. Secara langsung atau tidak langsung secara terang-terangan atau terselubung orang seperti itu akan menuntut orang membayar harga sesuai dengan bandrol yang dipasangnya. Jika tidak, ia akan merasa direndahkan dan tersinggung.

1) Filipi 2:1-4

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.